Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Dari Kami Nasehat

Melampaui Sebab-Akibat

2025/06/23
in Nasehat
3
Ilustrasi: Pinterest.

Ilustrasi: Pinterest.

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh: Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan

(Sebuah Ziarah Batin Menuju Keimanan)

Sampai usia lebih dari setengah abad, tak terhitung jejak langkah yang telah ditempuh, tak terbilang pula pertanyaan yang bergulir dalam benak. Namun tetap saja, diri ini seperti terbelenggu oleh jerat bernama logika. Entah dari mana ia datang—apakah dari sistem pendidikan yang terlalu menjunjung penjelasan? Atau dari lingkungan yang menuntut segalanya masuk akal? Yang pasti, logika telah menjadi benteng sekaligus penjara. Semua hal harus bisa dijelaskan dengan kata. Harus bisa dicerna dalam kepala. Harus diterima oleh nalar. Bahkan jika butuh waktu bertahun-tahun pun tak apa, asal sebuah jawaban yang bisa memuaskan ditemukan. Sampai hati berkata: “Ini yang aku cari.” Plong…!

Namun, semakin banyak uban merambat di kepala, yang semestinya menandakan kebeningan jiwa dan kejernihan pandang, justru membawa serta arus nestapa. Menjelaskan bahwa jiwa belum sepenuhnya merdeka. Belum lepas dari candu logika, dari serpihan-serpihan sebab-akibat yang terus menjerat. Masih mengartikan nikmat sebagai akibat dari usaha, dan musibah sebagai akibat dari kelalaian atau dosa. Masih menimbang hidup dengan timbangan kausalitas, bukan ketundukan. Mungkin ini pengaruh zaman. Atau salah kelola batin? Tapi yang lebih menggetarkan: di mana letak keimanan itu? Apakah masih bersarang di hati ini, atau hanya menjadi slogan di bibir dan status sosial di masyarakat? Belum sepenuhnya memahami dan larut dalam indahnya Kalam Ilahi berikut ini:

مَا يَفۡعَلُ اللّٰهُ بِعَذَابِكُمۡ اِنۡ شَكَرۡتُمۡ وَاٰمَنۡتُمۡ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ شَاكِرًا عَلِيۡمًا‏

“Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS An-Nisa:147)

Hingga di suatu waktu, tatkala pandangan dihadapkan kembali dengan lembaran kisah Nabi Ibrahim alaihissalam. Saat itu, hati seperti disentak. Ditusuk dengan tajamnya dengan pengertian yang mendalam. Bagaimana mungkin seorang ayah rela menyembelih anak kandungnya hanya karena sebuah mimpi? Jika saja Nabi Ibrahim menuntut penjelasan, andai saja ia berkata “Tunjukkan dulu hikmahnya, ya Allah,” maka mungkin sejarah tak akan mencatat ketaatan yang agung itu. Tapi beliau tidak. Karena ia tahu: keimanan bukan sesuatu yang harus selalu dijelaskan. Ia hanya perlu dijalani. Jawabannya datang setelah ia melintasi terik padang ketaatan. Setelah prosesi penyembelihan itu, barulah Allah tunjukkan: ini ujian taqwa yang sebenarnya. Dan Allah ganti Nabi Ismail alaihissalam dengan gibas dari surga. Sebuah ganjaran yang tak hanya melambangkan kasih dan sayang, tapi juga pengakuan: inilah hamba sejati, sebagai kekasih Allah yang pasti. Tidak disangka-sangka sebelumnya.

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِين رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ سَلامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِين إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

“Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, “sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian (yaitu).”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq . Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” (QS As-Shaffat: 99 – 113)

Lalu kisah Nabi Ayyub alaihissalam melangkah ke ruang relung hati. Beliau, seorang nabi, hamba yang dekat Allah, terkena penyakit menjijikkan selama hampir dua dekade. Tepatnya 18 tahun. Kehilangan harta, anak, bahkan ditinggal istri. Tapi tak sekalipun beliau mengeluh atau bertanya “mengapa.” Bila ia ingin, bisa saja ia menuntut penjelasan. Tapi Nabi Ayyub alaihissalam memilih diam. Berkalung malu di depan Allah, yang terus mengawasi. Karena ia tahu: semua nikmat yang pernah ia rasakan jauh lebih banyak daripada ujian yang sedang ia alami. Maka apa gunanya protes? Buat apa menuntut? Keimanan telah mengajarinya untuk menunduk, bukan menggugat. Untuk mengingat, bukan mengeluh, apalagi mengaduh.

وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS Al-Anbiyaa’ : 83)

وَٱذْكُرْ عَبْدَنَآ أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلشَّيْطَٰنُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ وَوَهَبْنَا لَهُۥٓ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

“Dan ingatlah kepada hamba Kami Ayyub ketika menyeru Tuhan-nya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.” (Allah berfirman), “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.” Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran,” (QS Shâd: 41-43).

Dan saat membaca ulang kisah agung Rasulullah ﷺ, betapa terasa hinanya diri ini. Kaki beliau bersimbah pecah, berhias bengkak karena terlalu lama berdiri dalam shalat malam. Padahal dosa beliau sudah diampuni. Ketika sebuah pertanyaan menyapa, beliau menjawab mulia: “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” Maka di mana diri ini, yang mengaku beriman, tapi masih sering bersungut atas rezeki yang terlambat, atas doa yang belum dikabul, atau atas hidup yang tak sesuai harapan?

عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ ‏ “‏ أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا ‏”

Dari Aisyah radhiyallāhu ‘anhā sesungguhnya Nabi ﷺ berdiri (shalat) di malam hari sampai kedua kakinya pecah-pecah. Lalu aku (Aisyah) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apa yang engkau lakukan ini, padahal Allah telah mengampunimu dari dosa-dosa yang lalu dan akan datang?’ Beliau menjawab: ‘ Tidakkah aku senang apabila menjadi hamba yang bersyukur?'” (HR Al-Bukhori)

Seringkali, kita overacting dalam iman. Salting dan saltum – salah tingkah dan salah kostum. Kita mempertanyakan hal-hal yang seharusnya cukup diterima. Dan sebaliknya, kita abai terhadap hal-hal yang justru butuh pengorbanan. Saat seharusnya tunduk, kita minta penjelasan. Saat seharusnya serius, kita bercanda. Saat seharusnya berkata “aku tidak tahu,” kita justru berkata “tidak boleh bertanya.” Sungguh, hati ini perlu diruwat dengan istighfar dan laku taubat nasuha yang banyak.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ، إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ ‏”‏‏.‏

Maka semakin dalam makna hadits dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda: “Tinggalkanlah apa yang aku tidak jelaskan kepada kalian. Sesungguhnya, umat sebelum kalian binasa karena terlalu banyak bertanya dan menyelisihi nabi mereka. Jika aku melarang sesuatu, jauhilah. Dan jika aku perintahkan, lakukanlah sesuai kemampuan kalian.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Malu rasanya mengaku beriman, tapi masih terus minta penjelasan untuk setiap musibah. Malu rasanya mengaku beriman, tapi masih terikat pada sebab-akibat yang fana mendera. Malu rasanya mengaku beriman, tapi ibadah masih sekadar rutinitas, belum menjadi napas. Padahal keimanan itu seharusnya sederhana: sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami taat— mastatha’na, semampu kami.

Maka kini kami tahu, bahwa iman bukan hanya soal pengetahuan, tapi penundukan. Ia bukan hanya tentang bisa menjelaskan, tapi tentang bisa menerima. Ia bukan hanya tentang hafal ayat, tapi tentang hidup dalam ayat. Dan bahwa segala yang terjadi, baik atau buruk, indah atau getir, hanya punya satu penjelasan: karena keimanan. Bukan lainnya. Allahul Musta’an.

Tags: keimananSebab AkibatZiarah Batin

Comments 3

  1. Dharmajaya says:
    1 year ago

    Ajk. Dalam ilmu sosial, sebab akibat justru suatu alat, bukan esensi. Sebab akibat merupakan suatu tindakan tapi esensinya adalah apa tujuan tindakan tsb. Kalau tujuannya selesai atau sudah mencapai level rutinitas yg tidak perlu dipertanyakan lagi maka barulah tujuan tindakan itu jelas/ selesai. Shalat cabe rawit jelas tujuannya sesuai umurnya. Tapi shalat orang tua belum tentu lebih khusu dari muda mudi yg lebih serius shalatnya sejak awal usianya.. Insyallah.

    Reply
    • a says:
      1 year ago

      Alhamdulillah jazakallohu khoiro.

      Sependek yang saya ketahui, lebih banyak yang tidak kita ketahui daripada yang kita ketahui. Oleh sebab itulah iman diperlukan sebagai rem, apalagi bagi ciptaan Alloh yang diberi hawa nafsu.

      Jika ada yang kritis mempertanyakan “kenapa harus begini dan begitu”, sebaiknya tidak dibungkam begitu saja. Perlu mindful alias sadar penuh untuk mengakui bahwa pengetahuannya masih/hanya dibatasi Alloh sampai situ.

      Reply
  2. Manzardi says:
    1 year ago

    Ya betul ustadz

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • Harfan Suyoko on LDII Bener Meriah Silaturahim dengan Wakil Bupati Bahas Pemberdayaan Umat
  • Fauzi Achmadi on Buka Musda VI LDII Kota Metro, Wali Kota Penguatan Ormas dalam Pembangunan
  • Supardo on Buka Musda VI LDII Kota Metro, Wali Kota Penguatan Ormas dalam Pembangunan
  • Supardo on LDII Hadiri Rapat Kerja Daerah MUI Jakarta Pusat Dorong Perkuat Nilai Moderasi Agama
  • Muhamad Ipa Slamet on Ketua DPP LDII: TNI Dan Ormas Harus Saling Memperkuat Jaga Kedaulatan
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Hadiri Kongres Nasional ke-42 Syarikat Islam, LDII Jatim Dukung Ormas Islam Harus Aktif Bangun Bangsa

Hadiri Kongres Nasional ke-42 Syarikat Islam, LDII Jatim Dukung Ormas Islam Harus Aktif Bangun Bangsa

October 20, 2026
DPP LDII: HDN Jadi Peringatan Pemerataan Dokter Harus Diikuti Kualitas Layanan

DPP LDII: HDN Jadi Peringatan Pemerataan Dokter Harus Diikuti Kualitas Layanan

October 24, 2026
MUI Sumedang Kunjungi DPP LDII untuk Bangun Kebersamaan Antarormas

MUI Sumedang Kunjungi DPP LDII untuk Bangun Kebersamaan Antarormas

July 13, 2026
Muswil IX 2026, Ahmad Jais Resmi Pimpin DPW LDII NTT Periode 2026-2031

Muswil IX 2026, Ahmad Jais Resmi Pimpin DPW LDII NTT Periode 2026-2031

May 25, 2026
LDII Bangkok Bekali Generus Putri Keterampilan Menjahit untuk Bangun Kemandirian

LDII Bangkok Bekali Generus Putri Keterampilan Menjahit untuk Bangun Kemandirian

0
Hadiri HSN di Ponpes LDII, Kakan Kemenag Kota Padang Tekankan Kemandirian Santri

Hadiri HSN di Ponpes LDII, Kakan Kemenag Kota Padang Tekankan Kemandirian Santri

0
Sujud (lagi)

Sujud (lagi)

0
Membangun Hidup Bahagia: Pasangan Saleh, hingga Tetangga yang Baik

Membangun Hidup Bahagia: Pasangan Saleh, hingga Tetangga yang Baik

0
LDII Bangkok Bekali Generus Putri Keterampilan Menjahit untuk Bangun Kemandirian

LDII Bangkok Bekali Generus Putri Keterampilan Menjahit untuk Bangun Kemandirian

October 26, 2026
Hadiri HSN di Ponpes LDII, Kakan Kemenag Kota Padang Tekankan Kemandirian Santri

Hadiri HSN di Ponpes LDII, Kakan Kemenag Kota Padang Tekankan Kemandirian Santri

October 26, 2026
Sujud (lagi)

Sujud (lagi)

October 26, 2026
Membangun Hidup Bahagia: Pasangan Saleh, hingga Tetangga yang Baik

Membangun Hidup Bahagia: Pasangan Saleh, hingga Tetangga yang Baik

October 25, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • LDII Bangkok Bekali Generus Putri Keterampilan Menjahit untuk Bangun Kemandirian October 26, 2026
  • Hadiri HSN di Ponpes LDII, Kakan Kemenag Kota Padang Tekankan Kemandirian Santri October 26, 2026
  • Sujud (lagi) October 26, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

TELEGRAM

Untuk mengirim berita dari daerah Anda, silakan install aplikasi TELEGRAM lalu klik tautan berikut:

https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.