Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Ada banyak kebanggaan dalam kepala manusia. Sebagian bangga karena ilmunya. Sebagian bangga karena hartanya. Sebagian bangga karena kedudukannya. Sebagian lagi bangga karena nasab dan keturunannya. Namun, ada pula yang begitu bangga menjadi seorang hamba yang diberi kemampuan untuk bersujud kepada Allah. Itulah seorang mukmin.
Setiap manusia mencari identitas. Ada yang mendefinisikan dirinya melalui profesi. Ada yang mendefinisikan dirinya melalui kekayaan. Ada yang mendefinisikan dirinya melalui pengaruh dan kekuasaan. Tetapi semua identitas itu akan hilang. Jabatan berakhir. Harta berpindah tangan. Tubuh menjadi tua. Nama perlahan dilupakan. Namun ada satu identitas yang tidak pernah hilang, adalah hamba Allah. Dan tidak ada ekspresi kehambaan yang lebih sempurna daripada sujud.
Karena saat sujud, seluruh anggota tubuh seakan berkata: “Ya Allah, aku milik-Mu. Aku berasal dari-Mu. Aku bergantung kepada-Mu. Dan aku akan kembali kepada-Mu.” Allah berfirman: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) Maka ketika seorang hamba bersujud, ia sedang menjalankan tujuan penciptaannya. Sebab hakikat kemuliaan bukanlah ketika manusia berdiri tinggi di hadapan manusia lain, melainkan ketika ia merendahkan diri di hadapan Allah. Ironisnya, dunia mengajarkan kita untuk selalu naik, sedangkan Allah mengajarkan tunduk. Bahwa jalan tertinggi dimulai dengan menundukkan kepala. Anggota tubuh yang sujud adalah lambang bahwa seorang hamba telah menemukan tempatnya yang benar di hadapan Rabb-nya.
Dahi adalah simbol kehormatan manusia. Ketika seseorang dihina, ia berkata: “Jangan jatuhkan harga diriku.” Mengapa bagian paling mulia dari tubuh itu justru diperintahkan menyentuh tanah? Karena Allah ingin mengajarkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari ketundukan. Bukankah tanah adalah asal penciptaan kita? Allah berfirman:
مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرٰى
“Darinya (tanah) Kami menciptakan kamu, kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu sekali lagi.” (QS. Thaha: 55) Saat sujud, seakan Allah mengingatkan: “Wahai manusia, engkau berasal dari tanah. Jangan sombong.” Tetapi pada saat yang sama Allah juga berkata: “Jika engkau mau merendahkan diri karena-Ku, Aku akan meninggikanmu.”
Ada banyak hal yang bisa dibeli. Rumah bisa dibeli. Mobil bisa dibeli. Gelar bisa diraih. Kekuasaan bisa diperoleh. Tetapi kedekatan dengan Allah tidak bisa dibeli. Ia hanya bisa diperoleh melalui ketundukan. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud.” (HR. Muslim) Perhatikanlah. Bukan ketika ia kaya. Bukan ketika ia terkenal. Bukan ketika ia berkuasa. Tetapi ketika dahinya menyentuh tanah. Sungguh paradoks yang indah. Di saat manusia menganggap posisi itu paling rendah, justru Allah menjadikannya posisi paling dekat; sujud.
Di sana tidak perlu pidato. Tidak perlu bahasa yang indah. Tidak perlu kalimat yang sempurna. Cukup seorang hamba dan Rabb-nya. Betapa banyak masalah yang tidak selesai oleh akal, tetapi diselesaikan oleh sujud yang panjang. Betapa banyak kegelisahan yang tidak hilang oleh nasihat manusia, tetapi hilang ketika seorang hamba menangis di atas sajadahnya. Allah berfirman tentang para sahabat Nabi
ﷺ:
سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗ
“Tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 29) Para ulama menjelaskan bahwa makna teragung dari ayat ini bukan sekadar tanda fisik pada dahi, melainkan cahaya ketundukan yang memancar dari jiwa mereka. Karena orang yang sering sujud akan berbeda. Ia lebih lembut. Lebih sabar. Lebih mudah memaafkan. Lebih sedikit mengeluh. Sujud yang benar tidak hanya mengubah posisi tubuh. Ia mengubah hati.
Dikisahkan bahwa sebagian alim-faqih menangis ketika mendengar adzan. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab: “Aku bersyukur karena Allah masih memanggilku untuk bersujud. Aku tidak tahu apakah besok aku masih diberi kesempatan.” Betapa banyak orang yang kemarin masih sujud bersama kita, hari ini sudah berada di alam kubur. Betapa banyak orang yang ingin kembali ke dunia hanya untuk satu sujud lagi, tetapi kesempatan itu telah berakhir. Karena itu, setiap kali dahi menyentuh sajadah, jangan merasa sedang melakukan rutinitas.
Mungkin itu adalah sujud yang kelak menyelamatkanmu di akhirat. Mungkin itu adalah sujud yang membuat Allah mengampuni dosamu. Mungkin itu adalah sujud terakhir sebelum engkau kembali kepada-Nya.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani pernah menitipkan nasihat: “Janganlah engkau mencari kemuliaan di pintu manusia, karena kemuliaan itu berada di pintu Allah.” Dan pintu Allah yang paling dekat bagi seorang hamba adalah sujudnya. Maka jika suatu hari dunia tidak menghargaimu, jangan bersedih. Jika manusia melupakanmu, jangan kecewa. Jika amalmu tidak dipuji, jangan gelisah. Selama Allah masih melihatmu bersujud kepada-Nya, engkau tidak pernah kehilangan apapun, termasuk kemuliaan.
Kelak di hari kiamat, manusia tidak akan ditanya berapa banyak pengikutnya, berapa luas hartanya, atau seberapa tinggi jabatannya. Tetapi mereka akan datang membawa amalnya. Dan bisa jadi, yang paling berat dalam timbangan seseorang bukanlah pidatonya, bukan pula prestasinya, melainkan sujud-sujud sunyi yang tidak diketahui siapa pun selain Allah. Maka berbanggalah menjadi hamba. Berbanggalah karena masih bisa bersujud. Karena sesungguhnya, orang yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah sering kali adalah orang yang paling sering meletakkan dahinya di atas tanah. Sujud bukanlah tanda kelemahan seorang mukmin. Sujud adalah puncak kemerdekaan sejati seorang hamba. Ia tidak tunduk lagi kepada dunia karena ia telah tunduk pasti kepada Sang Pencipta. Karena itu, ayo perbanyak sujud. Ayo sujud. Sujud lagi dan lagi. Apalagi ketika dunia ini sunyi, sepi.











