Jakarta (5/10). Peringatan hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) setiap 5 Oktober, menjadi pengingat atas rekam jejak sejarah kemanunggalan TNI bersama rakyat. Di sisi lain, organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung tugas TNI menjaga ketahanan nasional.
Hal tersebut ditegaskan Ketua DPP LDII, Singgih Tri Sulistiyono, pada Senin (5/10/2026). Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) tersebut mengatakan, kelahiran TNI berakar dari perjuangan rakyat yang dibentuk untuk mempertahankan kemerdekaan pascaproklamasi 1945.
Hubungan erat ini menjadi salah satu fondasi paling krusial yang menentukan keberhasilan Revolusi Kebangsaan Indonesia, “Hari TNI mengingatkan kita pada proses pembentukan kekuatan pertahanan yang tumbuh bersama perjuangan bangsa. Prajurit berjuang di garis depan, sementara masyarakat menyediakan makanan, tempat perlindungan, informasi, dan berbagai dukungan lainnya,” ujar Singgih Tri Sulistiyono.
Ia menilai, dalam perang gerilya, hubungan saling menopang tersebut menjadi sumber daya perjuangan yang sangat menentukan kedaulatan bangsa, “Karena itu, kemanunggalan TNI dengan rakyat memiliki akar sejarah yang kuat. Hubungan ini perlu terus dirawat melalui kedekatan, keteladanan, dan pengabdian,” tegasnya.
Menghadapi era modern yang penuh tantangan informasi dan beda pandangan, Singgih menekankan pentingnya generasi muda mengadopsi nilai-nilai perjuangan generasi 1945. Nilai paling krusial, menurutnya adalah kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
“Ada tiga nilai yang menurut saya perlu mendapat perhatian utama, yaitu persatuan, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kerelaan berkorban. Persatuan berarti mampu bekerja bersama meskipun berbeda,” kata Singgih.
Ia pun mendorong generasi muda untuk mengisi kemerdekaan dengan menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, serta keahlian yang bermanfaat bagi masyarakat. “Pesan saya kepada generasi muda warisi keberanian generasi 1945, lalu wujudkan melalui prestasi dan pengabdian. Indonesia membutuhkan anak-anak muda yang memiliki karakter, kompetensi, dan kepedulian,” tuturnya.
Di samping peran pemuda, Singgih melihat ormas keagamaan juga memegang modal sosial yang kuat di tengah dinamika geopolitik global dan potensi polarisasi sosial. TNI yang profesional dan ormas yang mandiri dapat saling memperkuat Indonesia. “TNI menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah, sementara ormas Islam membantu merawat kepercayaan, kerukunan, dan daya tahan masyarakat,” jelas sejarawan Undip ini.
Di tengah dunia yang semakin terbuka, perhatian perwakilan negara asing terhadap ormas Islam juga menjadi bagian dari strategi diplomasi di Indonesia. Singgih mengingatkan, agar ormas bersikap terbuka namun tetap cermat. “Hubungan diplomatik memang dapat melibatkan organisasi masyarakat melalui dialog, pertukaran pemuda, dan kerja sama pendidikan. Namun, prinsip yang harus dijaga adalah kemandirian organisasi, transparansi kerja sama, dan kepentingan nasional,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kedekatan ormas dengan mitra internasional harus dipergunakan untuk membawa aspirasi masyarakat Indonesia. Di sisi lain, ormas Islam dapat turut mempromosikan nilai-nilai Pancasila, toleransi, dan kebangsaan ke tingkat dunia.
“TNI dan Ormas memiliki semangat yang sama. Menjaga Indonesia tetap berdaulat, bersatu, dan bermartabat, serta menyiapkan generasi muda untuk melanjutkan pengabdian kepada bangsa,” pungkasnya.











