Jakarta (17/9). Menteri Agama Nazaruddin Umar mengatakan, pihaknya mendukung Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI dalam pengembangan pondok pesantren di Indonesia. Hal itu ia ungkapkan saat peluncuran program “Pesantren Nyaman Belajar” oleh Baznas RI, di Auditorium HM. Rasjidi, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2026).
Menag Nazaruddin menyebut, kolaborasi tersebut dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan pesantren, khususnya di tengah keterbatasan anggaran pemerintah. “Di tengah tahun anggaran ini kami bekerja sama dengan Baznas untuk memberikan bantuan kepada pesantren. Apa yang menjadi harapan pesantren juga menjadi harapannya Baznas,” ujarnya.
Menurutnya, program yang beririsan antara pemerintah dan Baznas akan disinergikan, sehingga kebutuhan pesantren dapat ditangani secara lebih terukur. “Jadi kekurangan anggaran pesantren itu bisa ditutupi beberapa hal oleh Baznas,” katanya.
Ia menambahkan, dukungan terhadap pesantren menjadi penting, karena sebagian besar pesantren di Indonesia dikelola masyarakat.“Pesantren itu nggak ada negeri. Sekitar 42.000 pondok pesantren di Indonesia itu nggak ada satu pun negeri, semua swasta. Jadi dia hidup di atas kaki masyarakat itu sendiri,” ujarnya.
Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya sinergi antara pemerintah dan lembaga pengelola zakat untuk mendukung keberlangsungan pesantren. “Karena keterbatasan anggaran negara, pemerintah membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak agar kebutuhan pesantren dapat ditangani secara bertahap. Di sinilah, perlunya Baznas sebagai salah satu kekuatan umat Islam, untuk membantu pondok pesantren, yang notabene pesantren ini sebanyak 42 ribu dan santrinya itu sekitar 12 juta orang,” tutup Menag.
Sementara itu, Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid mengatakan, terdapat sejumlah program prioritas Baznas yang diarahkan pada bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, serta pembinaan mualaf. Pendidikan menjadi salah satu fokus yang diperkuat melalui kerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait.
“Baznas sebelumnya telah menyalurkan beasiswa bagi 4.000 santri dalam rangkaian kegiatan Muktamar NU. Sementara itu, pada program terbaru, Baznas mendukung pembangunan infrastruktur untuk satuan pendidikan di lingkungan pesantren,” ungkapnya.
Pengembangan program ke depan, tambahnya, akan diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia berbasis agama dan ilmu pengetahuan. Program tersebut mencakup beasiswa, pembangunan infrastruktur, teknologi informasi, serta peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.
“Dari sisi anggaran, Baznas mengalokasikan sekitar Rp17,5 miliar untuk program pendidikan pesantren pada tahun ini. Sebelumnya, BAZNAS juga mengalokasikan Rp22,5 miliar untuk program pendidikan di bawah kementerian terkait serta Rp10 miliar untuk program beasiswa,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Ketua DPP LDII Ivan Hartawan menyambut baik peluncuran program “Pesantren Nyaman Belajar” yang diinisiasi oleh Baznas RI tersebut. Ia menilai, langkah itu sangat krusial untuk menciptakan iklim pendidikan yang aman dan kondusif, terutama dalam mengikis praktik perundungan (bullying) di lingkungan pesantren.

“Tindakan bullying dapat merusak reputasi pesantren dan umat Islam secara keseluruhan. Menurut saya ini program yang baik. Saat ini sistem bully yang terjadi di pesantren, bahkan dari oknum pengajar yang berpengaruh terhadap para santrinya, memberikan dampak buruk. Dampak buruk ini bukan hanya kepada pesantren, tetapi juga kepada orang Islam,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ivan menyoroti bahwa stigma negatif akibat perundungan dapat menghambat potensi pesantren, yang sejatinya diproyeksikan sebagai ekosistem ekonomi yang mandiri dan besar bagi masyarakat. “Oleh karena itu, saya berharap iklim belajar yang nyaman dan bebas dari intimidasi dapat digalakkan secara masif di seluruh pesantren di Indonesia,” ungkapnya.
Saat ditanya mengenai keselarasan program tersebut dengan lingkungan pesantren di bawah naungan LDII, Ivan mengungkapkan, nilai-nilai pengasuhan yang aman dan ramah santri telah diterapkan secara menyeluruh. “Alhamdulillah, di LDII sudah berjalan dengan baik. Ada 293 pesantren yang terafiliasi dengan LDII dengan sekitar 40.000 santri yang pembinaannya sudah berjalan dengan baik,” terangnya.











