Banyuwangi (5/10). DPD LDII Kabupaten Banyuwangi memperkenalkan dasar-dasar ilmu falakiyah dan praktik pengoperasian teleskop kepada puluhan santri serta pelajar SMK Bina Sejahtera Mandiri. Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Nurul Huda Banyuwangi, Sabtu (12/9/2026) tersebut menjadi bagian dari upaya kaderisasi sekaligus memperkenalkan astronomi Islam (ilmu Falak).
LDII memandang generasi muda, harus memahami ilmu tersebut yang berguna untuk menentukan bulan untuk kepentingan ibadah. Generasi muda LDII harus mampu memahami ilmu Falak secara teori dan praktik. Anggota Tim Hisab Rukyat DPD LDII Banyuwangi, Andreas Askhab Firdaus, mengatakan pelatihan difokuskan pada kemampuan peserta mengoordinasikan data astronomi dari aplikasi dengan perangkat pengamatan di lapangan.
“Pelatihan ini bertujuan membangun pemahaman teknis mengenai koordinasi data aplikasi dengan alat pengamatan di lapangan. Target latihan hari ini adalah menguji akurasi koordinasi antara data yang tersaji di aplikasi dengan arah orientasi teleskop,” ujarnya.
Dalam sesi praktik, peserta menggunakan aplikasi astronomi pada telepon pintar untuk membaca koordinat, azimut, dan ketinggian benda langit. Data tersebut kemudian digunakan sebagai acuan untuk menentukan arah bidik teleskop. Andreas berharap peserta terbiasa membaca posisi benda langit secara presisi, sehingga memiliki dasar keterampilan sebelum mengikuti kegiatan hisab dan rukyatul hilal.
“Penguasaan keterampilan dasar ini menjadi bekal penting sebelum para santri dan pelajar terlibat langsung dalam kegiatan hisab dan rukyatul hilal,” jelasnya.
Menurut Andreas, praktik penggunaan instrumen pengamatan secara langsung memberikan pengalaman kepada peserta mengenai tingkat ketelitian yang diperlukan dalam ilmu falak. Peserta tidak hanya mempelajari konsep secara teoritis, tetapi juga berlatih menyelaraskan data astronomi dengan posisi teleskop di lapangan. Proses tersebut diharapkan dapat membantu peserta memahami keterkaitan antara perhitungan astronomi, koordinat benda langit, dan proses pengamatan secara lebih konkret.
Salah seorang peserta, Wisnu, yang merupakan pelajar SMK Bina Sejahtera Mandiri, mengatakan kegiatan tersebut memberinya pengalaman baru dalam memahami proses rukyatul hilal. Menurutnya, pengamatan hilal tidak hanya membutuhkan kemampuan menggunakan teleskop, tetapi juga ketelitian dalam membaca dan mencocokkan data astronomi.
“Kami belajar membaca koordinat benda langit melalui gawai, kemudian mencocokkannya dengan arah dan sudut bidik teleskop. Dari praktik ini saya memahami bahwa rukyatul hilalmembutuhkan ketelitian agar objek yang dicari dapat ditemukan sesuai dengan data yang sudah dihitung,” ujar Wisnu.
Ia menambahkan, praktik secara langsung membuat materi ilmu falak lebih mudah dipahami karena peserta dapat melihat hubungan antara data pada aplikasi dengan kondisi pengamatan di lapangan. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi para santri dan pelajar untuk mengenal lebih jauh ilmu Falak serta berpartisipasi dalam kegiatan hisab dan rukyatul hilal pada kesempatan berikutnya.











