Tangerang (23/10). DPW LDII Provinsi Banten bersama Senkom Mitra Polri membekali santri dengan pengetahuan dan keterampilan kesiapsiagaan bencana. Upaya ini diwujudkan melalui Simulasi Penanggulangan Risiko Bencana Berbasis Pondok Pesantren di Pondok Pesantren Budi Mulia, Kabupaten Tangerang, pada 10-11 Oktober 2026. Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut program kerja antara LDII dengan Senkom Mitra Polri.
Wakil Ketua DPW LDII Provinsi Banten, Dwi Putranto, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan untuk melindungi santri dan warga pondok pesantren. Kesiapsiagaan diperlukan karena bencana dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa dapat dipastikan. “Ini merupakan kewajiban dari sisi kemanusiaan dan sosial, yaitu untuk melindungi manusia yang ada di pondok pesantren, khususnya yang di bawah naungan LDII. Diperlukan upaya untuk menghadapi bencana yang datangnya secara tiba-tiba, sehingga perlu pembekalan pengetahuan dan tindakan yang tepat jika bencana terjadi sewaktu-waktu,” jelas Dwi.
Ia menambahkan, pondok pesantren tidak hanya berperan dalam membangun pemahaman agama, tetapi juga perlu memperkuat aspek lain, seperti kepedulian terhadap lingkungan, pemberdayaan ekonomi, dan ketangguhan menghadapi bencana.
Sebagai langkah awal, LDII Banten berkoordinasi dengan Senkom Mitra Polri melalui nota kesepahaman (MoU) untuk menyelenggarakan pelatihan tersebut. Ke depan, sosialisasi dan pembekalan kebencanaan akan diperluas ke seluruh pondok pesantren di bawah naungan DPW LDII Banten.
Melalui program ini, LDII Banten berharap kesiapsiagaan bencana menjadi bagian dari pembinaan santri. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai, santri diharapkan mampu melindungi diri serta membantu lingkungan sekitar ketika menghadapi keadaan darurat.
Sementara itu, Ketua Senkom Mitra Polri Provinsi Banten, Yunando Prasetyanto, mengatakan kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk menyiapkan generasi muda menghadapi potensi bencana. Menurutnya, edukasi kebencanaan perlu diberikan sejak dini agar santri memahami cara mengurangi risiko dan bertindak saat keadaan darurat. “Kita menyiapkan santri-santri kita untuk bisa mengelola kesiapsiagaan kebencanaan yang akan terjadi. Walaupun kita tidak meminta suatu bencana, tetapi sudah mempersiapkan. Anak-anak muda kita, generasi penerus itu wajib mengetahui bagaimana cara mengelola atau mengurangi risiko bencana,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pemilihan pondok pesantren sebagai sasaran kegiatan didasari pentingnya membangun kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan. Berbagai kejadian, seperti bangunan runtuh dan gempa bumi, menjadi pengingat bahwa pengetahuan kebencanaan perlu dimiliki sejak dini.
Kasubsi Sumber Daya Basarnas Provinsi Banten, Handiyana Deran, mengapresiasi kolaborasi Senkom Mitra Polri dan LDII dalam memberikan edukasi kebencanaan kepada generasi muda. Ia menilai keterlibatan berbagai unsur masyarakat dapat memperkuat upaya penanggulangan bencana di lapangan. “Penanggulangan bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Seluruh elemen masyarakat perlu berkontribusi, termasuk melalui pembekalan pengetahuan dan keterampilan kepada remaja agar mampu menghadapi situasi darurat,” ujar Handiyana.











