Serang (23/10). DPW LDII Provinsi Banten mendorong penguatan sinergi antara organisasi kemasyarakatan Islam dan pemerintah melalui program pendidikan, ketahanan pangan, dan dakwah digital. Komitmen tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Penguatan Lembaga Keagamaan dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam se-Provinsi Banten.
Kegiatan yang digelar Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Banten tersebut berlangsung pada Senin (5/10/2026). Ketua DPW LDII Banten, Dimo Tono Sumito, mengatakan LDII mendukung program pemerintah pusat dan Provinsi Banten melalui kontribusi di berbagai bidang.
Dalam bidang pendidikan, LDII berfokus pada pendidikan umum, agama, dan karakter. Menurutnya, pembentukan generasi yang religius dan profesional membutuhkan sinergi antara lembaga pendidikan, tenaga pendidik, pengelola yayasan, dan orang tua.
“Untuk menjalankan sistem pendidikan ini perlu kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya pengurus yayasan, kepala sekolah atau rektor, guru, tenaga kependidikan, pamong, dan para orang tua. Karakter religius dapat dibentuk melalui pondok pesantren atau pengajian di majelis taklim, sedangkan karakter profesional itu dibentuk melalui sekolah-sekolah,” ujar Dimo.
Ia menjelaskan, kontribusi LDII dalam pendidikan tidak terbatas pada dakwah melalui majelis taklim. LDII juga menaungi ratusan satuan pendidikan formal melalui yayasan binaannya. Upaya tersebut menjadi bagian dari pembinaan sumber daya manusia yang memiliki bekal agama, pengetahuan, dan karakter profesional.
Selain pendidikan, LDII Banten turut mendorong ketahanan pangan berbasis kemandirian lokal. Dimo mencontohkan pengembangan pertanian yang dilakukan warga LDII bersama komunitas petani sawit di Kecamatan Cikeusik, wilayah selatan Banten.
Mereka memanfaatkan lahan di sela-sela kebun sawit untuk menanam padi gogo. Selain itu, terdapat upaya pengembangan tanaman sorgum sebagai alternatif komoditas pangan.
“Saya sangat mendukung program ketahanan pangan, termasuk yang dilakukan warga LDII di Kecamatan Cikeusik bersama masyarakat petani sawit yang mengembangkan pemanfaatan lahan yang ditanami padi gogo,” tambahnya.
Menurut Dimo, pengembangan sorgum juga memiliki potensi untuk mendukung diversifikasi pangan dan mengurangi ketergantungan pada komoditas tertentu. Menurutnya, sorgum bukan hanya sekadar komoditas pertanian, tapi bagian dari solusi jangka panjang atas tantangan krisis pangan global.
“Kami ingin umat tidak hanya mandiri secara spiritual, tapi juga secara ekonomi dan pangan,” katanya.

Di bidang dakwah digital, LDII Banten mendorong generasi penerus agar bijak menggunakan media sosial. LDII juga menggandeng media massa, seperti Kabar Banten dan Radar Banten, untuk memberikan pembekalan literasi digital.
“Langkah ini diharapkan dapat mendorong pemanfaatan ruang digital untuk menyebarkan pesan positif melalui dakwah bil hal,” pungkas Dimo.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Banten, Amrullah, menegaskan pentingnya peran ormas Islam sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjaga kerukunan dan meningkatkan kualitas kehidupan beragama. Ia menyebut, Kementerian Agama tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan elemen masyarakat, khususnya ormas-ormas Islam.
“Sinergi dan kolaborasi yang erat ini harus terus kita perkuat demi menjaga kerukunan, mengawal moderasi beragama, serta meningkatkan kualitas kehidupan beragama di Provinsi Banten,” tegasnya.
Rapat koordinasi tersebut dihadiri pimpinan lembaga keagamaan dan ormas Islam tingkat Provinsi Banten. Di antaranya MUI, DMI, Muhammadiyah, Al-Khairiyah, FKUB, ICMI, FSPP, Baznas, Muslimat Matla’ul Anwar, PWNU, PERSIS, BWI, IPIM, LPTQ, dan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII).
Melalui forum tersebut, DPW LDII Banten berharap kolaborasi antara pemerintah dan ormas Islam semakin kuat. Sinergi ini diharapkan dapat mendukung pembinaan generasi muda, memperluas manfaat dakwah, serta mendorong kemandirian masyarakat di bidang ekonomi dan pangan.











