Lamongan (6/8). Kapolres Lamongan AKBP Arif Fazlurrahman mengapresiasi sistem pendidikan karakter yang diterapkan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Karim dan Lembaga Pendidikan Budi Luhur Sugio, Kabupaten Lamongan. Menurutnya, pembiasaan nilai-nilai karakter yang dilakukan secara konsisten di lingkungan pendidikan menjadi fondasi penting dalam mencetak generasi yang berakhlak mulia.
Dalam kunjungan kerja pada Selasa (21/7/2026) itu, AKBP Arif meninjau aktivitas belajar mengajar di dua lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Lamongan. Ia menilai pendidikan karakter yang dikembangkan tidak hanya diajarkan melalui materi pembelajaran, tetapi juga diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari para santri dan siswa.
Salah satu program yang mendapat perhatian Kapolres adalah penggunaan bahasa Jawa krama sebagai bahasa komunikasi di lingkungan pesantren dan sekolah. Menurutnya, pembiasaan tersebut menjadi media efektif untuk menanamkan sikap sopan santun, menghormati orang lain, dan membangun etika dalam kehidupan sehari-hari.
“Dari banyak pondok yang mengembangkan bahasa asing, Pondok Al-Karim dan Lembaga Pendidikan Budi Luhur memilih memperkuat penggunaan bahasa Jawa krama. Ini menjadi cara yang baik untuk membentuk karakter peserta didik agar lebih santun dan beretika,” ujar Arif.
Ketua Yayasan Al-Karim, Sucipto, menjelaskan penggunaan bahasa Jawa krama merupakan bagian dari sistem pendidikan karakter yang diterapkan di lembaganya. Program tersebut dipadukan dengan pembiasaan 29 karakter luhur sebagai pedoman perilaku santri dan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui pembiasaan berbahasa yang santun dan penerapan 29 karakter luhur, kami ingin membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki disiplin, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama. Pendekatan ini juga menjadi salah satu faktor yang mengantarkan sekolah memperoleh akreditasi A,” kata Sucipto.

Sementara itu, Ketua DPD LDII Kabupaten Lamongan, Agus Yudi, berharap model pendidikan karakter yang diterapkan di Ponpes Al-Karim dan Lembaga Pendidikan Budi Luhur dapat terus dikembangkan sebagai kontribusi lembaga pendidikan dalam menyiapkan generasi penerus bangsa.
“Pendidikan karakter yang dibangun melalui pembiasaan sehari-hari akan menjadi bekal penting bagi para santri ketika terjun ke masyarakat. Kami berharap sinergi antara lembaga pendidikan, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat terus diperkuat untuk melahirkan generasi yang berintegritas, berakhlak mulia, dan siap mengabdi kepada bangsa,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Yayasan Al-Karim, Sucipto, mengatakan pembiasaan berbahasa Jawa krama merupakan bagian dari sistem pendidikan karakter yang diterapkan di lembaganya. Program tersebut dipadukan dengan praktik 29 karakter luhur yang menjadi pedoman perilaku santri dan siswa. “Program berbahasa yang baik dan praktik 29 karakter itulah yang membuat sekolah kami dikenal sebagai sekolah berkarakter sehingga mudah memperoleh akreditasi A,” ujar Sucipto.
Menurut Sucipto, pembiasaan tersebut dirancang agar peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga terbiasa bersikap disiplin, bertanggung jawab, menghormati sesama, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.













