Jakarta (23/10). DPP LDII menghadiri peluncuran program Madrasah Layak Belajar yang diselenggarakan di Kantor Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI. Kegiatan yang dihelat pada Rabu (21/10/2026) dinilai berpotensi mendukung pemerataan kualitas pendidikan, terutama di wilayah tertinggal.
Ketua DPP LDII Ivan Hartawan mengapresiasi program tersebut, karena dinilai dapat membantu mengurangi kesenjangan fasilitas dan kualitas pendidikan antara daerah tertinggal dan wilayah yang lebih maju. “Program ini sangat baik. Program ini mendukung pendidikan di wilayah-wilayah daerah tertinggal, sehingga memperkecil disparitas atau perbedaan antara daerah tertinggal dengan daerah yang normal,” ujarnya.
Ia meyakini, program tersebut dapat berkontribusi terhadap pemerataan akses pendidikan yang lebih layak di seluruh Indonesia. Namun, menurutnya, upaya tersebut perlu didukung sinergi berbagai lembaga agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak satuan pendidikan.
“Selain dukungan pendanaan dan sarana, saya menilai peningkatan kualitas pengelolaan madrasah juga menjadi aspek penting. Kedisiplinan, keteraturan, serta tata kelola yang baik perlu dibangun agar penyelenggaraan pendidikan berjalan lebih optimal,” tambahnya.
Ia berharap, integrasi data antarlembaga dapat memperluas jangkauan program sekaligus memastikan bantuan pendidikan disalurkan secara lebih tepat sasaran. “Dengan demikian, program Madrasah Layak Belajar diharapkan tidak hanya meningkatkan kelayakan sarana pendidikan, tetapi juga mendukung terciptanya proses belajar yang nyaman dan berkualitas bagi siswa di berbagai daerah,” tutupnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Baznas RI Zainut Tauhid mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari komitmen Baznas dalam mengelola dana zakat dan infak secara akuntabel, sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. “Dana zakat, dana infak yang dititipkan kepada kami oleh para muzaki itu tidak sekadar angka, bukan sekadar kepedulian yang abstrak. Mereka, para muzaki juga menitipkan harapan, menitipkan satu keinginan agar harta yang dititipkan itu ditransformasikan, diberdayakan, diwujudkan dalam bentuk hal-hal yang sifatnya lebih berdaya guna dan lebih bermanfaat,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu bentuk pemanfaatan dana umat tersebut diwujudkan melalui bantuan perbaikan sarana dan prasarana madrasah. Program itu ditujukan agar para siswa memperoleh ruang belajar yang layak, nyaman, dan bermartabat. “Salah satu program andalan kami adalah bentuknya adalah bangunan fisik untuk merenovasi ruang-ruang belajar agar para siswa yang belajar di madrasah itu benar-benar bisa mendapatkan tempat yang layak, tempat yang nyaman, dan tempat yang lebih bermartabat,” katanya.
Mantan Wakil Menteri Agama itu mengatakan, kebutuhan terhadap sarana pendidikan yang layak menjadi salah satu perhatian masyarakat. Ia menyebut, berdasarkan survei, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan secara fisik menjadi pilihan prioritas masyarakat Indonesia dengan persentase 38 persen. “Artinya apa, kebutuhan siswa-siswi madrasah untuk bisa mendapatkan tempat belajar yang nyaman, yang baik, yang bisa mendorong semangat untuk belajarnya itu adalah madrasah yang layak, yang nyaman,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kondisi sarana pendidikan madrasah, berdasarkan analisis yang pernah dilakukannya ketika menjabat sebagai Wakil Menteri Agama. Menurutnya, terdapat kesenjangan kondisi sarana pendidikan antara sekolah di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) dan madrasah di bawah Kementerian Agama.
“Dari 100 persen untuk pendidikan yang dikelola oleh sekolah di bawah Mendikdasmen, itu 80 persen layak dan sangat layak, sementara yang 20 persen kurang layak. Sementara yang di bawah Kementerian Agama, madrasah-madrasah itu terbalik, yang 80 persen itu tidak layak, yang 20 persen layak,” katanya.
Karena itu, Zainut menilai perbaikan fasilitas madrasah bukan hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak Indonesia. “Ini adalah amanah, ini adalah merupakan satu bentuk amalan yang baik. Untuk apa? Mendidik anak-anak kita agar anak kita cerdas, bukan hanya cerdas akal anak, tapi juga cerdas akal budinya,” tuturnya.
Pada 2026, Baznas menargetkan program Madrasah Layak Belajar menjangkau 700 madrasah dengan bantuan sebesar Rp25 juta untuk setiap madrasah. Dengan jumlah tersebut, total bantuan yang disalurkan secara langsung mencapai sekitar Rp17,5 miliar. “Pada tahun 2026 ini Baznas melanjutkan jangkauan sebanyak 700 MI dan madrasah swasta di seluruh pelosok Tanah Air, dengan nominal bantuan Rp25 juta per madrasah,” tutupnya.
Ia menjelaskan, program Madrasah Layak Belajar merupakan kelanjutan dari program sebelumnya. Pada tahun sebelumnya, Baznas membantu rehabilitasi sekitar 2.000 madrasah yang tersebar di 37 provinsi dan 388 kabupaten/kota, dengan total dana tersalurkan Rp50 miliar.











