Bandung (3/10). Kisah Andromeda Sufi Anggoro, mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), menarik perhatian setelah ia diantar ayahnya, Basuni Yusuf, ke kampus menggunakan bajaj dari Yogyakarta. Di balik perjalanan tersebut, tersimpan kisah tentang perjuangan orang tua, keteguhan anak mengejar cita-cita, dan ikhtiar keluarga untuk mendapatkan pendidikan terbaik.
Andromeda merupakan warga PC LDII Jetis, Kota Yogyakarta. Ia diterima di ITB melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dan memilih bidang astronomi karena ingin mendalami ilmu tentang alam semesta, “Alasannya masuk ITB sebenarnya sederhana. Saya ingin belajar astronomi. Di Indonesia, astronomi itu hanya ada di ITB, jadi saya ingin ke ITB,” ujar Andromeda.
Ketertarikan Andromeda terhadap astronomi tumbuh sekitar enam bulan sebelum mendaftar ITB. Ia mengaku semakin tertarik setelah mengikuti kajian Al Quran yang membahas tentang langit dan penciptaan alam semesta, “Gara-gara ngaji Al Quran yang membahas tentang langit, langit tujuh lapis, saya jadi lebih tertarik. Saya penasaran dan ingin memperdalamnya secara ilmiah,” katanya.
Keinginan kuliah di ITB sebenarnya telah disampaikan Andromeda kepada ayahnya sejak 2025. Namun, Basuni sempat meminta anaknya memilih perguruan tinggi di Yogyakarta karena mempertimbangkan jarak dan biaya hidup di Bandung.
Andromeda pun memilih menghormati keputusan orang tuanya. Setahun kemudian, ia kembali mendaftar ITB tanpa banyak diketahui keluarga hingga akhirnya dinyatakan diterima, “Sebenarnya dia sudah memendam cita-cita itu selama setahun. Dia hanya ingin berbakti kepada orang tua dan membuat orang tua lega dengan kuliah di Yogyakarta,” tutur Basuni.
Setelah Andromeda diterima di ITB, Basuni akhirnya memberikan izin dengan syarat putranya memperoleh beasiswa. Keluarga kemudian berusaha mencari dukungan pembiayaan untuk kuliah tersebut, “Waktu itu saya bilang, saya izinkan kalau kamu kuliah di ITB, tetapi kalau dapat beasiswa,” ujarnya.
Jalan tersebut kemudian terbuka. Setelah bergabung dalam grup orang tua mahasiswa ITB dan menceritakan rencana mengantar anaknya menggunakan bajaj, keluarga Andromeda mendapat perhatian dari pihak yang kemudian membantu menghubungkan mereka dengan program beasiswa.
Andromeda akhirnya mendapatkan beasiswa selama empat tahun, termasuk dukungan biaya hidup dan sebuah laptop. Biaya kuliahnya juga mendapat dukungan sehingga keluarga dapat lebih tenang menjalani pendidikan Andromeda di ITB, “Awalnya kami yang mencari beasiswa, tetapi justru beasiswanya yang mencari kami dan mengundang kami. Itu pertolongan Allah,” kata Basuni.
Perjalanan menuju Bandung pun dilakukan menggunakan bajaj. Basuni bersama keluarga berangkat dari Yogyakarta, bermalam dalam perjalanan, dan melanjutkan perjalanan hingga tiba di Bandung. Sesampainya di ITB, mereka mendapat sambutan dari pihak kampus dan Andromeda kemudian diantar berkeliling area kampus menggunakan bajaj yang membawanya dari Yogyakarta.

Bagi Basuni, perjalanan tersebut bukan sekadar cara mengantar anaknya ke kampus. Ia memaknainya sebagai bagian dari ikhtiar keluarga sekaligus buah dari kesabaran Andromeda dalam menghormati keputusan orang tua.
Basuni juga mengungkapkan alasan di balik nama Andromeda yang diberikan kepada putranya. Ia berharap anaknya memiliki wawasan yang luas sebagaimana luasnya galaksi Andromeda, “Maksud saya memberi nama Andromeda agar dia mempunyai pemikiran atau pengetahuan yang luas, seluas galaksi Andromeda,” tuturnya.
Kini Andromeda mulai menjalani aktivitas sebagai mahasiswa ITB dan tinggal di Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Nurul Hakim, Jatinangor. Ia berharap dapat menjalani perkuliahan dengan baik sekaligus mengembangkan ketertarikannya terhadap astronomi.
Kisah tersebut menjadi pengingat bagi keluarga bahwa cita-cita, bakti kepada orang tua, dan ikhtiar dapat berjalan beriringan. Bagi Andromeda, perjalanan menuju ITB tidak hanya menjadi langkah awal menempuh pendidikan tinggi, tetapi juga bagian dari perjalanan mewujudkan cita-cita yang sebelumnya ia simpan demi menghormati orang tuanya.











