Pangandaran (29/6). DPD LDII Kabupaten Pangandaran bekerja sama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Pangandaran menggelar Seminar Pendidikan Pancasila, Wawasan Kebangsaan, dan Bela Negara. Kegiatan itu digelar di Gedung Perpustakaan Kabupaten Pangandaran, pada Kamis (25/6/2026).
Ketua DPD LDII Kabupaten Pangandaran Riky Ibrahim mengatakan, seminar tersebut merupakan wujud kontribusi LDII untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat. Menurutnya, ketangguhan bangsa harus dibangun melalui penguatan karakter, integritas, dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai kebangsaan sekaligus mendorong implementasinya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Kepala Kesbangpol Kabupaten Pangandaran Gumilar menegaskan, Pancasila harus dipahami sebagai ideologi yang hidup dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, bukan sekadar dihafalkan.
“Pancasila ada dalam jiwa kita, dalam setiap langkah kehidupan berbangsa dan bernegara. Penanaman nilai-nilai Pancasila merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga keutuhan NKRI,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan kebangsaan saat ini semakin kompleks seiring perkembangan teknologi digital. Karena itu, masyarakat perlu memiliki literasi digital agar mampu memilah informasi serta terhindar dari konten yang dapat memicu perpecahan.
Menurutnya, bela negara pada era modern tidak hanya diwujudkan melalui pertahanan fisik, tetapi juga melalui kontribusi positif sesuai profesi, kompetensi, dan tanggung jawab masing-masing.
Dalam paparannya, Gumilar juga menyoroti ancaman cyber drug, seperti kecanduan gim dan judi online yang banyak menyasar generasi muda. Fenomena tersebut dinilai berpotensi menggerus moral, karakter, dan produktivitas apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Barat Dicky Harun menegaskan, cinta tanah air merupakan implementasi ajaran agama sekaligus bentuk rasa syukur atas nikmat hidup di negara yang aman dan damai.
“Bagi warga ormas keagamaan, cinta tanah air bukan sekadar slogan, tetapi wujud syukur kepada Tuhan atas negeri yang aman untuk beribadah dan bermasyarakat. Hubbul wathon minal iman harus diwujudkan melalui sikap nyata dalam menjaga persatuan dan ketertiban,” tuturnya.
Dicky menjelaskan, LDII berkomitmen membentuk warga negara yang taat beragama sekaligus taat terhadap hukum. Karena itu, masyarakat perlu terus menjaga empat konsensus dasar kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.
Menurutnya, keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama merupakan kekuatan bangsa yang harus dirawat melalui komunikasi yang baik, saling menghormati, serta semangat kebersamaan. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh hoaks, judi online, maupun paham radikal yang berpotensi mengancam persatuan bangsa.
“Sinergi bersama Kesbangpol merupakan salah satu langkah nyata LDII dalam menjalankan delapan bidang pengabdian, khususnya bidang kebangsaan, untuk menanamkan jiwa patriotisme kepada generasi muda,” katanya.
Kegiatan itu mengusung tema “Mewujudkan Masyarakat yang Tangguh, Berintegritas, dan Cinta NKRI”, dan diikuti berbagai elemen masyarakat, diantaranya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pangandaran, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), jajaran pemerintah daerah, serta warga LDII. Seminar juga disiarkan secara daring agar dapat diikuti masyarakat secara lebih luas.









