Brisbane, Australia (29/6). DPP LDII memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi “One Health” dengan berpartisipasi dalam simposium internasional bertajuk “Future-Proofing One Health Action for Regional and Global Health Security: Challenges and Response Strategies for the Indo-Pacific in the Context of Climate Change”. Kegiatan tersebut digelar di Griffith University, Brisbane, Australia, pada 29 Juni–1 Juli 2026.
Simposium yang diselenggarakan Centre for Environment and Population Health (CEPH) Griffith University bersama Queensland Hub of the Australian HEAL Network dan jejaring One Health Asia-Pasifik itu mempertemukan para peneliti, pembuat kebijakan, praktisi kesehatan masyarakat, pakar kesehatan hewan, hingga ilmuwan lingkungan. Mereka berdiskusi untuk memperkuat kolaborasi menghadapi ancaman penyakit zoonosis, perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan tantangan kesehatan global.
DPP LDII mengirimkan dua delegasi, Ketua DPP LDII Dr. Dicky Budiman, PhD dan Pengurus Bidang LISDAL DPP LDII Dr. Siham Afatta, PhD. Keduanya mengikuti rangkaian kegiatan sebagai peserta aktif sekaligus pembicara.
Dicky Budiman mengatakan pendekatan One Health harus diperluas hingga organisasi kemasyarakatan (ormas) dan organisasi keagamaan, yang memiliki jangkauan hingga tingkat komunitas. Pasalnya isu One Health, hanya berkutat di lingkungan akademik dan pemerintahan.
“Kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan lingkungan dan kesehatan hewan. Tantangan perubahan iklim, penyakit zoonosis, keamanan pangan, hingga degradasi ekosistem memerlukan kepemimpinan lintas disiplin dan partisipasi seluruh elemen masyarakat,” ujar Dicky dalam salah satu sesi diskusi.
Menurut Dicky yang juga Koordinator Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LISDAL) DPP LDII, keberhasilan implementasi One Health sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat, penguatan literasi kesehatan, kepedulian terhadap lingkungan, serta tata kelola yang kolaboratif.
Sementara itu, Siham Afatta turut memperkuat kontribusi LDII di panggung internasional dalam pembahasan pengembangan jejaring kolaborasi regional, pertukaran pengetahuan (knowledge exchange), dan peningkatan kapasitas kelembagaan untuk mendukung implementasi One Health di kawasan Indo-Pasifik.
Selama simposium, para peserta membahas berbagai strategi penguatan implementasi One Health, mulai dari kolaborasi lintas sektor, pengembangan sistem peringatan dini penyakit, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam surveilans kesehatan, penguatan kapasitas laboratorium, hingga pembangunan jejaring riset antarnegara.
Partisipasi LDII dalam forum tersebut melanjutkan komitmen organisasi yang sejak 2023 aktif mengembangkan berbagai inisiatif One Health melalui Bidang LISDAL, termasuk penguatan literasi lingkungan, kesehatan masyarakat, ketahanan menghadapi penyakit infeksi, perubahan iklim, serta pembangunan jejaring nasional dan internasional.
Forum Brisbane 2026 juga menjadi tindak lanjut dari komitmen regional yang dibangun melalui Pengcheng Declaration pada Simposium One Health 2025 di Shenzhen, Tiongkok. Tahun ini, fokus pembahasan diarahkan pada implementasi nyata melalui penyusunan agenda riset bersama, pengembangan Communities of Practice, dan penguatan kemitraan regional untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kesehatan di masa depan.
Keikutsertaan delegasi DPP LDII dalam forum internasional tersebut menunjukkan semakin besarnya peran organisasi kemasyarakatan Indonesia dalam diplomasi ilmu pengetahuan (science diplomacy) di bidang kesehatan global, perubahan iklim, dan tata kelola One Health.
DPP LDII juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan kebijakan dan praktik One Health berbasis ilmu pengetahuan, kolaborasi, serta pemberdayaan masyarakat guna memperkuat ketahanan kesehatan regional dan global.









