Kudus (7/5). Pemikiran Ki Hadjar Dewantara kembali menjadi rujukan dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026. Gagasan pendidikan yang merata dan berorientasi pada pembentukan karakter dinilai tetap relevan di tengah perubahan zaman.
DPD LDII Kabupaten Kudus memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat komitmen, dalam membina generasi muda yang adaptif dan berintegritas. Ketua DPD LDII Kabupaten Kudus, Muhammad As’ad, menyebut tantangan pendidikan saat ini mengalami pergeseran seiring perkembangan teknologi dan arus informasi.
Menurut dia, generasi muda menghadapi dinamika yang lebih kompleks dibandingkan masa sebelumnya, “Perkembangan teknologi membuka banyak peluang, tetapi juga membawa risiko. Generasi muda perlu memiliki fondasi karakter yang kuat agar mampu menyaring informasi dan menentukan arah hidup,” ujarnya.
Ia menambahkan, Ki Hadjar Dewantara, yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, dikenal sebagai pelopor pendidikan nasional melalui pendirian Taman Siswa pada 1922. Langkah tersebut membuka akses pendidikan bagi masyarakat luas pada masa kolonial.
“Konsep pendidikan yang Ki Hajar Dewantara bangun menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian penting dalam proses belajar, tidak hanya fokus pada aspek akademik,” tambahnya.
Ia menjelaskan LDII Kudus menempatkan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia secara utuh. Pembinaan tidak hanya diarahkan pada peningkatan intelektual, tetapi juga penguatan aspek spiritual dan sosial. “Kami mendorong generasi muda memiliki keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan nilai moral. Tujuannya agar mereka mampu berkontribusi di masyarakat dengan sikap yang bertanggung jawab,” kata As’ad.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program pembinaan berkelanjutan, mulai dari pendidikan usia dini, pengajian generasi penerus, hingga pelatihan kepemimpinan. LDII juga menanamkan 29 karakter luhur, seperti kejujuran, amanah, disiplin, kerja keras, serta kemampuan bekerja sama.
As’ad menilai nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting dalam menghadapi perubahan global, “Karakter menjadi pondasi utama. Tanpa itu, kemampuan intelektual tidak akan memberikan dampak yang maksimal,” ucapnya.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan transformasi digital, LDII Kudus mendorong generasi muda untuk tetap berpegang pada nilai agama dan budaya. As’ad menilai penguasaan teknologi perlu diimbangi dengan etika agar tidak menimbulkan dampak negatif.
“Kami ingin generasi muda mampu bersaing di tingkat global, tetapi tetap memiliki jati diri yang kuat. Ini menjadi bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia,” katanya.
Menurut As’ad, peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi momen refleksi sekaligus penguatan langkah ke depan. Ia mengajak seluruh elemen, mulai dari keluarga, sekolah, hingga organisasi masyarakat, untuk terlibat aktif dalam proses pendidikan.
“Pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi akan menentukan arah bangsa ke depan,” ujarnya.









