Pontianak (31/7). Ketua DPW LDII Kalimantan Barat, Susanto mendorong seluruh pengurus LDII di berbagai tingkatan agar semakin peka terhadap perubahan lingkungan strategis dan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, kemampuan beradaptasi menjadi kunci agar keberadaan LDII semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Hal tersebut disampaikan pada materi konsolidasi dengan ratusan pengurus LDII di Aula Pesantren Al Muqorrobun Pontianak, pada Minggu (26/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut Susanto juga menegaskan LDII sebagai organisasi kemasyarakatan yang berorientasi pada kontribusi sosial, tidak cukup hanya menjalankan program rutin. Para pengurus dituntut mampu membaca perkembangan zaman, memahami perubahan lingkungan strategis yang terjadi, serta merespons kebutuhan masyarakat secara cepat dan tepat.
“Pengurus LDII tidak cukup hanya menjalankan program rutin. Kita harus memiliki kemampuan membaca situasi, peka, mampu beradaptasi terhadap perubahan, serta responsif terhadap kebutuhan masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur organisasi,” ujarnya.
Menurut Susanto, berbagai tantangan pembangunan yang dihadapi daerah saat ini membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Karena itu, LDII harus mampu mengambil peran yang lebih besar dalam mendukung agenda pembangunan daerah.
Ia mencontohkan upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat yang saat ini tengah fokus meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dalam konteks tersebut, LDII berpotensi besar untuk kontribusi dan sinergi di bidang pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“IPM Kalbar masih tertinggal, maka seluruh kekuatan yang dimiliki LDII sudah seharusnya mendukung dan membantu pemerintah melalui bidang pendidikan, kesehatan maupun kesejahteraan,” jelasnya.
Susanto menambahkan, pertumbuhan dan perkembangan LDII di Kalimantan Barat selama ini tidak terlepas dari meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja organisasi. Kepercayaan tersebut, menurutnya, lahir karena masyarakat merasakan manfaat nyata dari berbagai kegiatan sosial dan dakwah yang dilakukan.
Ia juga menyebut pendekatan dakwah bil hal atau dakwah melalui tindakan nyata menjadi salah satu strategi untuk memperkuat hubungan LDII dengan masyarakat. “Alhamdulillah program dakwah bil hal LDII di Kalbar semakin dirasakan manfaatnya sehingga kepercayaan terhadap LDII pun kian bertambah. Dampaknya kualitas dan kuantitas LDII ikut tumbuh juga,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Susanto menegaskan, sikap adaptif yang dimaksud bukan berarti mengubah prinsip-prinsip dasar organisasi. Sebaliknya, adaptasi diperlukan untuk menyesuaikan strategi, metode, dan pola gerakan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman serta mampu menjawab berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Ia menambahkan, organisasi yang mampu bertahan dan berkembang adalah organisasi yang tetap teguh memegang nilai-nilai dasarnya, namun fleksibel dalam menentukan cara dan pendekatan untuk mencapai tujuan.
“Adaptif berarti mengarah kepada solusi problematika yang terjadi. Termasuk sikap responsif, diwujudkan dengan sigap dan solusi, memperkuat komunikasi, dan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak,” jelasnya.
Ia juga mengajak seluruh pengurus LDII untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, serta berbagai organisasi lainnya guna menciptakan program-program yang berdampak langsung bagi masyarakat.









