Jakarta (1/9). LDII bersama MUI Jakarta Selatan menggelar Forum Tausyiah Kebangsaan di Gedung Keumatan MUI Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Forum bertema “Membangun Generasi Muda Profesional, Religius dan Berjiwa Nasionalis” itu membahas penguatan karakter generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
Ketua LDII Jakarta Selatan, Mulyono, selaku inisiator kegiatan pada Sabtu (15/8/2026) mengatakan, forum tersebut diarahkan untuk membekali generasi muda dengan wawasan kebangsaan sekaligus mendorong kontribusi nyata.
“Tujuan utamanya adalah membekali generasi muda dengan pemahaman dan semangat kebangsaan, sehingga cinta tanah air, persatuan, dan kepedulian pada negara. Ini wujud syukur kita menyambut HUT ke-81 RI sekaligus langkah konkret menyiapkan SDM untuk Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Mulyono berharap hasil forum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap menjaga kerukunan dan menghasilkan karya. Pembinaan wawasan kebangsaan juga akan dilanjutkan melalui kegiatan nyata di masyarakat. “Insya Allah, kegiatan positif yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan ini akan terus kami lanjutkan dan kembangkan, tidak hanya dalam bentuk tausyiah, tetapi juga kegiatan riil di tengah masyarakat,” katanya.
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, mengatakan generasi muda perlu meningkatkan kapasitas diri dengan meneladani para pendiri bangsa. “Kita bisa belajar dari para pendiri bangsa yang telah mempersiapkan diri jauh sebelum kemerdekaan. Latar belakang mereka berbeda-beda, tetapi memiliki kesamaan dalam keseriusan membangun kapasitas diri untuk bangsa,” ujarnya.
Menurut Hidayat, pendidikan perlu menghasilkan kompetensi, disiplin, kreativitas, integritas, serta kemampuan memberikan manfaat bagi masyarakat. Wakil Ketua Umum MUI Jakarta Selatan, KH Julian Lukman menekankan tiga karakter yang perlu berjalan bersama, yakni profesional, religius, dan nasionalis.
“Generasi muda tidak cukup hanya pintar dan memiliki keterampilan. Kemampuan itu harus dibarengi akhlak dan rasa tanggung jawab agar ilmu yang dimiliki benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan negara,” tuturnya.
Kasuban Kesbangpol Jakarta Selatan, Ragil Tugiman, juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman serta mewaspadai provokasi di ruang digital. “Persatuan itu bukan berarti harus sama atau seragam. Justru dalam perbedaan itulah wujud asli persatuan kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, generasi muda perlu menjaga perilaku dalam menggunakan media sosial dan lingkungan pergaulan. “Jaga jempol, jaga lisan, jaga pertemanan, dan jaga lingkungan,” katanya.
Perwakilan Kodim 0504/Jakarta Selatan, Kapten Inf. Sunanto, mengatakan bela negara dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan kerja sama masyarakat. “Kalau kita sama-sama saling menjaga, TNI berkolaborasi dengan alim ulama, santri, dan masyarakat, saya yakin lingkungan kita aman dan terkendali. Tugas generasi kini tinggal mengisi kemerdekaan,” ujarnya.
Sementara itu Ketua MUI Jakarta Selatan, KH Ahmad Nawawi Halim mengatakan, sinergi antarlembaga keagamaan menjadi bagian dari penguatan kehidupan umat. Dalam dialog yang dimoderatori Eddy Supriyadi, peserta juga membahas pentingnya integritas dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk suap dan penyalahgunaan kewenangan.
Eddy menegaskan profesionalisme perlu berjalan bersama nilai agama. “Profesionalisme tanpa tuntunan agama akan kehilangan arah, namun agama tanpa profesionalisme akan membuat kita tertinggal dalam daya saing,” katanya.
Forum yang diikuti sekitar 300 peserta tersebut menjadi ruang bersama bagi organisasi keagamaan, pemerintah, unsur pertahanan, dan masyarakat untuk membahas pembentukan generasi muda yang kompeten, berintegritas, religius, dan nasionalis.
Lewat acara itu, LDII dan MUI Jakarta Selatan mendorong agar semangat kebangsaan diteruskan melalui pembinaan dan kegiatan nyata, sehingga generasi muda mampu berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa menuju 2045.











