Pontianak (2/9). LDII Kalimantan Barat (Kalbar) mengingatkan para orang tua berperan menciptakan generasi penerus unggul melalui “Ngaji Parenting”. Ketua DPW LDII Kalbar, Susanto mengajak agar pendidikan karakter anak antara lain mengurangi pemakaian gawai
“Gadget atau gawai tidak bisa lagi dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, selain kemudahan juga memberikan tantangan yang besar dalam pendidikan anak karakter anak,” kata Susanto pada Minggu (30/8/2026) di Masjid Khoirul Ihsan, Pontianak, Kalimantan Barat.
Susanto juga menjelaskan, terciptanya generasi penerus (generus) unggul terkait erat peran orang tua yang mengedukasi dan disiplin dengan teknologi. Tema ‘Batasi Gadget, Bangun Karakter Anak’, kata Susanto melanjutkan, menjadi ruang edukasi bagi orang tua dalam memahami pemanfaatan teknologi secara positif tanpa mengorbankan interaksi keluarga, kedisiplinan, tanggung jawab, serta pembentukan karakter luhur anak.
“Kami memfasilitasi sekaligus mengedukasi bahwa gadget bukan sesuatu yang harus dijauhi sepenuhnya. Yang terpenting adalah bagaimana orang tua memberikan batasan, pendampingan, dan keteladanan dalam penggunaannya. Jangan sampai gadget dijadikan ‘orang tua asuh’ bagi anak-anak kita. Ini yang harus menjadi perhatian,” tegas Susanto.
Pihaknya juga mengatakan, LDII terus berkomitmen menciptakan generus berkarakter, dan menjadi sumbangsih untuk membawa bangsa ini tetap survive. “Pembinaan karakter Generus hari ini baru akan dirasakan hasilnya beberapa tahun kedepan. Jadi jika ingin bangsa Indonesia tetap survive pembinaan karakter mesti dilakukan sejak dini,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Pontianak, Riszky Ramadhan menambahkan, pengguna internet tidak bisa dipungkiri banyak didominasi kalangan remaja. “Bahkan durasinya sampai tujuh hingga delapan jam per harinya. Inilah tantangan parenting di era digital yang semakin kompleks,” jelasnya.
Ia menyebut, ada tiga fenomena sebagai dampak dari penggunaan gadget yang tanpa kendali, “Selain kemudahan dampak yang ditimbulkannya juga sangat serius. Setidaknya ada tiga fenomena yang sekarang ditemui yakni keterlambatan bicara bagi anak-anak, perundungan dan depresi remaja, serta fenomena *tiktok ticks*,” imbuh Riszky.
Menurut Risky, dampak itu memerlukan redefinisi pola asuh dengan gaya otoritatif. “Perlu juga dilakukan pendekatan yang demokratis. Kuncinya keseimbangan dengan orang tua membuat aturan yang tegas, menyampaikan dengan logis, penuh kasih sayang dan membuka diskusi,” katanya.
Lebih lanjut dia juga mengingatkan, detoksifikasi perangkat sesuai usia. “Detoksifikasi usia ini dimaksudkan agar orang tua dalam menghadapi badai tantrum bisa melakukan validasi sesuai umur anak. Dengan pengertian lain, pengasuhan sejatinya bukan apa yang kita perintahkan kepada anak, melainkan kehadiran kita seutuhnya sehingga menumbuhkan kemandirian dan karakter generus,” kata Riszky.











