Jakarta (3/9). Polisi wanita atau Polwan adalah pelayan masyarakat yang berperan penting menjaga humanisme di lingkup masyarakat, selain menegakkan hukum. Hal itu disampaikan Sekretaris Umum DPP LDII Tri Gunawan Hadi menanggapi Hari Polwan ke 78 yang jatuh pada 1 September.
Peringatan Hari Polwan 2026 yang bertema ‘One Police Woman, Extraordinary Impact’ itu, Tri berharap Polwan memberikan kedamaian dan rasa aman yang nyata, dengan ketegasan humanis. Ia menambahkan, Polwan sudah semestinya hadir memberikan perlindungan terutama pada kelompok anak dan perempuan. “Harapannya semoga Polwan memberikan penguatan secara moral kepada kelompok rentan tersebut, karena banyak mengalami kasus kekerasan,” ujar Tri.
Tri melanjutkan, tugas Polwan menegakkan hukum tanpa kompromi, sehingga perlu melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui sikap mengayomi yang inklusif atau berempati.
Senada dengan Tri Gunawan, Ketua DPP LDII Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga, Siti Nurannisaa mengatakan bahwa Polwan berperan memberi perspektif perempuan dalam pelayanan kepada masyarakat sekaligus menegakkan hukum.
“Posisi strategis Polwan yakni membangun rasa aman terutama kepada perempuan dan anak yang pendekatannya lebih sensitif dan sesuai karakteristik pribadi,” kata dia.
Karena itu Unit Pelayanan Perempuan Anak (PPA) Polri menurut Nisa, perlu diperkuat bukan hanya dari sisi jumlah personil, tapi juga kapasitas dalam memahami psikologi para korban, teknologi dan kejahatan siber, komunikasi, hingga membangun jejaring dengan keluarga, sekolah, layanan kesehatan, dan lembaga pendamping.
“Karena persoalan perempuan dan anak semakin kompleks, penanganannya juga tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan hukum, tetapi perlu pendekatan yang lebih utuh dan berpihak pada korban,” ujar Nisa.
Polisi wanita dicetuskan pertama kali di Bukittinggi oleh organisasi wanita yang mengusulkan agar perempuan ikut dididik dalam pendidikan kepolisian pada 1 September 1948. Hal itu dilatarbelakangi adanya pengungsian besar-besaran dan polisi pria kesulitan memeriksa pengungsi wanita.
Pada peringatan Hari Polwan 2026, Nisa berharap, Polwan terus mengedepankan penguatan kompetensi berkelanjutan terutama terkait penanganan kasus kekerasan dan korbannya, literasi digital, dan kejahatan siber. Selain itu, ia juga berharap adanya kolaborasi dengan stakeholder lain terkait tindak lanjut pelayanan yang mudah diakses.

“Hal itu agar memudahkan korban yang telah melapor, untuk pendampingan selanjutnya. Serta penting juga dokumentasi kasus yang perlu dikelola dengan baik sehingga kebijakan yang dibuat sesuai persoalan yang terjadi di lapangan,” jelasnya. Nisa juga mengatakan, Polwan tak harus berperan menjadi ‘laki-laki’ untuk dianggap mampu secara fisik, namun dengan kekuatan dan karakter profesionalnya sendiri.
Selamat Hari Jadi ke-78 Polisi Wanita Republik Indonesia. Kedepannya semoga Polwan menjadi sosok yang profesional, humanis, berintegritas, serta menghadirkan Polri yang presisi dan dicintai masyarakat.











