Jakarta (6/11). Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) setiap 5 November menjadi momentum penting bagi pelestarian lingkungan yang berlandaskan Keputusan Presiden RI Nomor 4 Tahun 1993. LDII memanfaatkan momen ini untuk memperkuat dakwah ekologi berbasis komunitas dan tempat ibadah sebagai wujud amal jariyah menjaga masa depan bumi.
Ketua Departemen Litbang, Iptek, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII sekaligus Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Atus Syahbudin mengatakan, HCPSN harus menjadi pengingat atas pentingnya menjaga fondasi kehidupan. Ia menilai, konservasi berbasis komunitas dan tempat ibadah adalah langkah strategis untuk menjawab berbagai ancaman degradasi lingkungan yang kian kompleks di Indonesia.
“Keanekaragaman hayati bersama hutan, sungai, dan tanah merupakan satu kesatuan ekosistem yang menyediakan pangan, air, udara bersih, hingga obat-obatan. Peringatan ini harus menjadi momentum meningkatkan kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab bersama dalam melestarikan puspa dan satwa,” ujar Atus, Rabu (4/11/2026).
Atus menyoroti maraknya ancaman lingkungan saat ini, mulai dari kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga banjir bandang dan tanah longsor akibat deforestasi serta perubahan iklim. Selain memicu bencana alam, alih fungsi lahan dan maraknya perburuan liar juga berdampak fatal terhadap penurunan populasi berbagai spesies di alam.
Bencana-bencana tersebut, kata Atus, membutuhkan penanganan mendasar. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian dalam mengatasi persoalan ekologi tersebut, “Maka diperlukan partisipasi aktif masyarakat dan organisasi keagamaan seperti LDII yang memiliki modal sosial, jaringan kelembagaan, serta kekuatan nilai moral,” tegasnya.
Sebagai akademisi kehutanan dan kurator keanekaragaman hayati UGM, Atus menjelaskan bahwa LDII mengusung pendekatan ekoteologi, yakni mengintegrasikan nilai-nilai ajaran Islam dengan upaya pelestarian alam. Melalui majelis taklim dan mimbar Jumat, LDII mengajak umat merawat pohon, menjaga sumber air, mengelola sampah, dan melindungi satwa sebagai bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi.
“Menjaga lingkungan bagi LDII bukanlah sekadar program organisasi, melainkan bagian dari pengamalan nilai-nilai keislaman dan menabung amal jariyah,” kata Atus.
Ia menambahkan, LDII kini mengarahkan gerakannya dari sekadar penanaman pohon menjadi pelestarian ekosistem yang berkelanjutan. Salah satunya lewat optimalisasi Program Kampung Iklim (ProKlim) dan Pojok Hijau Masjid.
“Dakwah seyogianya menghadirkan perubahan. Dari gerakan menanam pohon menjadi gerakan memelihara ekosistem, dan dari kegiatan sesaat menjadi budaya masyarakat. Dalam lima tahun ke depan, LDII berfokus menjadikan masjid sebagai pusat gerakan pelestarian lingkungan,” jelasnya.
Salah satu percontohannya terlihat di Kelurahan Wonokerto (Sangurejo), Turi, Sleman. Di wilayah tersebut, LDII berkolaborasi dengan UGM, pemerintah lokal, Gerakan Pramuka (Sako SPN), dan masyarakat dalam pengelolaan ProKlim, agroforestri, serta konservasi air.
Inventarisasi awal di lokasi tersebut mencatat 56 jenis tumbuhan dari 38 famili. Kini, lokasi tersebut dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran biodiversitas bagi mahasiswa Sekolah Pascasarjana dan Fakultas Biologi UGM.
Selain itu, Atus juga menekankan pentingnya mengoperasionalkan pendidikan lingkungan dari sebatas teori menjadi pengalaman langsung yang edukatif dan menyenangkan. Contohnya, dengan mendirikan Biodiversity Learning Corner di sekolah-sekolah, gerakan “Satu Santri Satu Pohon” di pesantren, serta pemanfaatan teknologi digital melalui Digital Biodiversity Movement.
“Generasi muda harus didorong bukan hanya menjadi konsumen konten digital, melainkan produsen pengetahuan dan kampanye konservasi,” ungkap Atus.
LDII juga mengintegrasikan kegiatan konservasi dengan kepanduan Pramuka melalui Saka Wanabakti dan Sako Sekawan Persada Nusantara (SPN). Satuan kepramukaan ini tengah mengembangkan konsep Gugus Depan Ramah Lingkungan.











