Jakarta ( 19/8). Usai melaksanakan kegiatan “Kerja Bersama Bakti untuk Negeri” di Ponpes Al-Akbar, Tanjung Priok, para pengurus DPD LDII Jakarta Utara bersama Forkopimda dan tokoh masyarakat, meninjau kondisi Tempat Lingkungan Sementara (TLS) Terpadu Kencana yang berada di kolong Tol Wiyoto Wiyono.
Selama bertahun-tahun, keberadaan TLS tersebut identik dengan persoalan sampah dan bau menyengat yang dikeluhkan warga. Namun, kondisi tersebut kini mulai dibenahi melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan berbagai unsur sosial kemasyarakatan.
Solusi persoalan pengelolaan sampah di wilayah Sungai Bambu, Jakarta Utara, mulai diarahkan menjadi peluang pemberdayaan masyarakat. Syaiful menegaskan, penyelesaian persoalan sampah perlu dikelola secara sistematis sehingga tidak hanya mengurangi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Jika hanya berhenti pada seremoni, persoalan tidak akan terselesaikan. Sampah harus dikelola menjadi nilai ekonomi. Jika tidak, kita hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya,” ujarnya.
Menurutnya, pola pengelolaan sampah harus diarahkan pada konsep yang lebih berkelanjutan. Sampah tidak semata-mata dikumpulkan dan dibuang, tetapi dapat dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai tambah.
Sementara itu, Camat Tanjung Priok, Syamsu Rijal Kadafi, mengakui kondisi TLS Terpadu Kencana sebelumnya memang sempat menimbulkan gangguan bagi masyarakat, terutama akibat bau yang menyengat, “Dulu bau sangat menyengat, itu fakta. Warga terdampak. Namun saat ini kami melakukan pembenahan. Sampah tidak lagi dibiarkan menumpuk, langsung diangkut, dan pengawasan dilakukan selama 24 jam,” jelasnya.
Ia mengatakan, pembenahan dilakukan melalui penertiban dan penguatan pengawasan di tingkat kecamatan. Wakil Camat juga dilibatkan untuk memastikan pengelolaan TLS berjalan sesuai ketentuan. Ketua DPD LDII Jakarta Utara, Pudya Sanjaya, menyambut baik upaya tersebut. Ia menilai kolaborasi lintas elemen menjadi kunci agar pembenahan TLS Terpadu Kencana tidak berhenti pada kegiatan bersih-bersih sementara.
“Ini bukan sekadar kegiatan bersih-bersih sesaat. Tanpa sistem yang jelas dan keberlanjutan, kita akan kembali ke kondisi awal. Sampah harus diolah, bukan ditimbun. Di situlah letak nilai ekonominya,” tegasnya.
Saat ini, TLS Terpadu Kencana difokuskan untuk melayani kebutuhan masyarakat di wilayah Sungai Bambu dengan sistem pengawasan bersama. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga kondisi lingkungan sekaligus mencegah kembali munculnya persoalan yang sebelumnya dikeluhkan warga.
Namun, pembenahan fisik dan pengangkutan sampah secara rutin baru menjadi langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengelolaan tersebut dapat berlangsung secara konsisten dan menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Konsep ekonomi sirkular dapat menjadi salah satu pendekatan. Caranya, sampah yang masih memiliki nilai dapat dipilah dan diolah kembali, sementara masyarakat dapat dilibatkan dalam proses pengelolaan maupun pengembangan usaha berbasis daur ulang, “ ujar Pudya Sandjaya











