Yogyakarta (14/10). Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, mendorong pesantren mahasiswa memperkuat pembinaan kesehatan, kepedulian lingkungan, dan keterampilan santri. Ia menyampaikan gagasan tersebut dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VIII DPR RI di Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Kamis, 24 September 2026.
Kunjungan tersebut menjadi forum penyerapan aspirasi pesantren di DIY, terutama setelah pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama. Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, memimpin rombongan untuk mendalami kebutuhan dan persoalan pengelolaan pesantren. “Pesantren sekarang sudah naik kelas. Kunjungan ini untuk menyerap aspirasi dan mendalami berbagai persoalan yang dihadapi pondok pesantren, khususnya menyusul terbentuknya Ditjen Pesantren di Kementerian Agama,” kata Singgih.
Dalam forum itu, Atus menekankan pentingnya memperluas fungsi pesantren mahasiswa. Menurut dia, pembinaan santri tidak cukup berfokus pada pendidikan agama, tetapi juga perlu mencakup kesehatan, keterampilan hidup, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ia menyoroti kesehatan santri yang tinggal dalam lingkungan komunal. Kebersihan, sanitasi, pola hidup sehat, kesehatan kulit, kesehatan mental, dan kesehatan reproduksi perlu menjadi bagian dari perhatian pengelola pesantren.
Atus mendorong penguatan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) untuk mendukung kebutuhan tersebut. Fasilitas dan program kesehatan di lingkungan pesantren dapat membantu santri menjalani pendidikan dengan kondisi yang lebih sehat dan aman. “Pesantren perlu membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat. Pembinaan kesehatan juga perlu mencakup kesehatan mental dan reproduksi agar santri mendapat perhatian secara menyeluruh,” ujar Atus.
Selain kesehatan, ia mengusulkan pengembangan konsep EcoPesantren melalui pengelolaan sampah, penghijauan, konservasi air dan energi, serta kegiatan pertanian. Program lingkungan tersebut dapat disesuaikan dengan potensi wilayah masing-masing pesantren. “Pesantren harus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs. Kepedulian terhadap lingkungan perlu menjadi bagian dari pembinaan santri sehari-hari,” katanya.
Atus mencontohkan pemanenan air hujan sebagai program yang dapat dikembangkan pesantren di Gunungkidul. Sementara itu, pesantren di Kulon Progo dapat memanfaatkan potensi komoditas lokal seperti kopi, pala, dan cengkeh untuk kegiatan pembelajaran dan pemberdayaan.
Pesantren mahasiswa di kawasan perkotaan juga dapat mengembangkan pertanian perkotaan atau urban farming. Pemanfaatan lahan terbatas melalui kebun produktif dan gerakan Pojok Hijau Masjid dapat menjadi sarana edukasi lingkungan bagi santri.
Atus juga menyoroti perlunya pembekalan keterampilan bagi mahasiswa yang tinggal di pesantren. Pendidikan tersebut dapat mencakup keterampilan praktis, kewirausahaan, dan pengembangan kemampuan produktif sesuai kebutuhan masyarakat. “Pesantren juga harus menjadi pusat keterampilan. Mahasiswa bukan hanya belajar menjadi sarjana, tetapi juga membangun kemandirian, meningkatkan produktivitas, dan menyiapkan diri agar bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.











