Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
“Kemerdekaan yang paling tinggi bukanlah ketika manusia bebas melakukan apa saja yang ia kehendaki, tetapi ketika ia terbebas dari segala sesuatu yang memperbudaknya selain Allah.”
Gegap – gempita 81 tahun Indonesia Merdeka. Kita mengibarkan bendera. Kita menyanyikan lagu kebangsaan. Kita mengenang para pahlawan. Kita bersyukur atas semua itu, tetapi ada sebuah pertanyaan yang jauh lebih dalam: apakah sesungguhnya kita juga sudah merdeka?
Bisa jadi tubuh kita tidak lagi dijajah, tetapi hati kita masih diperbudak oleh pujian manusia. Bisa jadi bangsa kita telah merdeka, tetapi kita masih menjadi tawanan jabatan. Kita tidak lagi dirantai penjajah, tetapi mungkin kita dirantai oleh ambisi. Kita tidak lagi takut kepada tentara penjajah, tetapi kita sangat takut kehilangan penilaian tetangga sebelah. Kita mengaku bebas, tetapi hidup kita dikendalikan oleh gengsi, popularitas, harta, hawa nafsu, dan keinginan untuk diakui. Maka, ada ajaran indah yang jauh lebih fundamental: kemerdekaan tauhid. Yaitu sebuah keyakinan bulat: “Aku adalah hamba Allah. Bukan hamba manusia. Bukan hamba jabatan. Bukan hamba harta. Bukan hamba popularitas. Bukan hamba hawa nafsu.” Dan di situlah paradoks terbesar kehidupan terjadi: Semakin ia menjadi hamba Allah, semakin ia merdeka dari selain Allah.
Ada bagian yang sering disalahpahami. Dunia sering mendefinisikan kebebasan sebagai: “Aku bebas melakukan apa pun yang aku mau.” Islam menawarkan definisi yang lebih dalam: “Aku bebas dari segala sesuatu yang menjauhkan aku dari Allah, agar aku dapat tunduk kepada Allah dengan kesadaran dan kecintaan.” Ada sebuah ungkapan yang sangat kuat dari Rubai bin Amir, dalam kisah pertemuannya dengan panglima Persia, Rustum;
الله ابتعثنا لنخرج من شاء من عبادة العباد إلى عبادة الله
“Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah.” Ungkapan ini tercatat dalam riwayat sejarah seperti Tarikh ath-Thabari dan disebut pula oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah. Makna tauhid yang terkandung di dalamnya sangat kuat: Jangan menjadi hamba manusia. Jangan menjadikan komentar manusia sebagai kiblat hati. Jangan menjadikan pujian manusia sebagai sumber kebahagiaan. Jangan menjadikan celaan manusia sebagai sumber kehancuran. Jangan menjadikan jabatan sebagai identitas. Jangan menjadikan kekuasaan sebagai harga diri. Jangan menjadikan kekayaan sebagai ukuran kemuliaan. Sebab manusia berubah. Hari ini memuji. Besok mencela. Hari ini mengangkat. Besok menjatuhkan. Hari ini membutuhkan kita. Besok melupakan kita. Tetapi Allah tidak berubah. Karena itu, hati yang hanya bergantung kepada Allah adalah hati yang paling merdeka.
Kemerdekaan ibadah tidak berarti kita melakukan apa saja. Justru seorang Muslim yang merdeka memiliki keberanian untuk mengatakan: “Tidak.” Tidak kepada maksiat. Tidak kepada korupsi. Tidak kepada kezhaliman. Tidak kepada suap. Tidak kepada manipulasi. Tidak kepada kesombongan. Tidak kepada hawa nafsu. Tidak kepada perintah manusia apabila perintah itu membawa kepada kemaksiatan. Nabi ﷺ bersabda:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah; ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf. (HR Muslim). Maka seorang Muslim boleh menghormati atasan. Boleh menghormati pemimpin. Boleh menghormati orang tua. Boleh menghormati guru. Boleh menghormati siapa saja. Tetapi tidak boleh mengorbankan Allah demi mendapatkan keridhaan manusia.
Ada penjajahan yang terlihat. Ada pula penjajahan yang sangat halus. Penjajahan hawa nafsu. Seseorang tahu bahwa shalat itu wajib, tetapi berkata: “Nanti saja.” Ia tahu Al-Qur’an harus dibaca, tetapi berkata: “Tidak sempat.” Ia tahu sedekah itu baik, tetapi berkata: “Saya belum cukup.” Ia tahu harus meminta maaf, tetapi berkata: “Gengsi.” Ia tahu harus meninggalkan dosa, tetapi berkata: “Saya belum siap.” Akhirnya manusia menjadi tawanan dirinya sendiri. Ia bukan tidak memiliki kebebasan. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menggunakan kebebasannya dengan benar. Karena itu Nabi ﷺ bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah.” (HR. Muslim) Inilah karakter manusia merdeka. Ia tidak menyerah kepada keadaan. Ia tidak menjadi korban keadaan. Ia berusaha. Ia berdoa. Ia bertawakal. Ia bergerak.
Salah satu bentuk penjajahan paling halus adalah: ketergantungan kepada pujian. Kita melakukan kebaikan. Lalu berharap ada yang melihat. Kita bekerja keras. Lalu berharap ada yang mengakui. Kita membantu. Lalu kecewa ketika tidak dihargai. Kita beribadah. Lalu sedih ketika tidak ada yang mengetahui. Di sinilah kemerdekaan hati diuji. Pertanyaannya: Jika tidak ada seorang pun yang melihat, apakah kita masih mau berbuat baik? Jika jawabannya ya, mungkin hati kita mulai merdeka. Karena kita tahu: Allah melihat.
Jabatan adalah amanah. Bukan identitas. Hari ini seseorang menjadi pemimpin. Besok ia menjadi mantan pemimpin. Hari ini seseorang duduk di kursi kekuasaan. Besok kursi itu diduduki orang lain. Tetapi ada satu jabatan yang tidak pernah berakhir: hamba Allah.Inilah jabatan yang paling mulia. Karena itu, jangan sampai ketika jabatan naik, ego ikut naik. Jangan sampai ketika kekuasaan bertambah, rasa takut kepada Allah justru berkurang. Justru semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar seharusnya rasa kehambaannya. Karena ia sadar: “Aku bukan pemilik kekuasaan. Aku hanya sedang dititipi.”
Harta adalah nikmat. Tetapi harta menjadi penjajah ketika hati berkata: “Tanpa harta aku tidak bahagia.” Ketika seseorang rela mengorbankan prinsip demi uang, maka ia telah menjadi budak harta. Ketika seseorang melakukan korupsi demi kekayaan, ia bukan sedang menjadi orang kaya. Ia sedang memperbudak dirinya sendiri. Ketika seseorang takut kehilangan harta melebihi takut kehilangan ridha Allah, maka hartanya telah menjadi tuannya. Kemerdekaan sejati bukan berarti tidak memiliki harta. Tetapi: memiliki harta tanpa dimiliki harta. Memegang uang dengan tangan. Bukan dengan hati. Harta berada di tangan kita. Bukan Allah yang berada di bawah kepentingan harta.
Bayangkan hidup jika kita tidak lagi sibuk bertanya: “Orang akan bilang apa?” “Orang akan berpikir apa?” “Nanti kalau saya gagal bagaimana?” “Nanti kalau saya tidak dipuji bagaimana?” “Nanti kalau mereka tidak suka bagaimana?” Betapa leganya hidup. Bukan berarti kita tidak peduli kepada nasihat orang. Tetapi kita tidak menjadikan penilaian manusia sebagai Tuhan baru bagi hati kita. Seorang Muslim berkata: “Saya akan melakukan yang benar karena Allah, meskipun tidak semua orang menyukainya.” Itulah keberanian. Itulah kemerdekaan.
Ada orang yang sebenarnya ingin dekat kepada Allah tetapi merasa hidupnya terlalu sibuk. Ada yang ingin membaca Al-Qur’an tetapi selalu kalah dengan gawai. Ada yang ingin tahajud tetapi kalah dengan kenyamanan tempat tidur. Ada yang ingin sedekah tetapi kalah dengan keinginan. Ada yang ingin datang ke masjid tetapi kalah dengan kesibukan. Maka pertanyaannya bukan: “Apakah saya bebas beribadah?” Tetapi: “Apakah saya menggunakan kebebasan saya untuk beribadah?” Kita punya waktu. Tetapi apakah waktu itu kita gunakan untuk Allah? Kita punya kesehatan. Tetapi apakah kesehatan itu digunakan untuk ketaatan? Kita punya rezeki. Tetapi apakah rezeki itu menjadi jalan menuju Allah? Kita punya jabatan. Tetapi apakah jabatan itu menjadi sarana pelayanan? Kita punya ilmu. Tetapi apakah ilmu itu menjadi cahaya bagi orang lain? Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya: ketika semua nikmat Allah kita gunakan untuk kembali kepada Allah.
Ini mungkin kalimat yang paling penting: Manusia pasti menjadi hamba. Jika tidak menjadi hamba Allah, ia akan menjadi hamba sesuatu yang lain. Hamba uang. Hamba kekuasaan. Hamba hawa nafsu. Hamba popularitas. Hamba pasangan. Hamba pekerjaan. Hamba gengsi. Hamba penilaian manusia. Hamba media sosial. Hamba keinginan untuk terlihat hebat. Karena itu, pertanyaannya bukan: “Apakah aku seorang hamba?” Tetapi: “Kepada siapa aku menghamba?” Jika kepada Allah, kita menjadi mulia. Jika kepada selain Allah, kita menjadi hina.
Karena itu, ketika kita mengucapkan: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ Lā ilāha illallāh – jangan hanya menganggapnya sebagai kalimat yang kita ucapkan dengan lisan. Ia adalah deklarasi kemerdekaan. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Tidak ada manusia yang boleh mengambil tempat Allah di dalam hati. Tidak ada harta yang boleh menjadi tujuan tertinggi. Tidak ada jabatan yang boleh menjadi sesembahan. Tidak ada hawa nafsu yang boleh menjadi penguasa. Tidak ada pujian manusia yang boleh menjadi sumber harga diri. Hanya Allah. Allah tujuan hidup. Allah tempat bergantung. Allah tempat kembali. Allah yang paling dicintai. Allah yang paling ditakuti. Allah yang paling diharapkan.
Orang yang bergantung kepada manusia akan selalu cemas. Takut kehilangan. Takut ditolak. Takut dicela. Takut tidak dihargai. Takut gagal. Tetapi orang yang hatinya bergantung kepada Allah memiliki ketenangan yang berbeda. Ia berusaha sebaik-baiknya. Kemudian menyerahkan hasil kepada Allah. Ia tidak sombong ketika berhasil. Ia tidak hancur ketika gagal. Ia tidak mabuk pujian. Ia tidak runtuh karena celaan. Sebab pusat kehidupannya bukan manusia. Pusat kehidupannya adalah Allah.
Ada orang yang tinggal di istana tetapi hatinya sempit. Ada orang yang hidup sederhana tetapi hatinya lapang. Ada orang yang memiliki banyak pengikut tetapi kesepian. Ada orang yang tidak dikenal manusia tetapi sangat dikenal oleh Allah. Maka ukuran kemerdekaan tidak selalu terlihat dari keadaan luar. Kemerdekaan sejati berada di dalam hati. Ketika hati berkata: “Aku cukup dengan Allah.” Ketika hati berkata: “Aku tidak perlu menjual prinsip demi pujian.” Ketika hati berkata: “Aku tidak akan meninggalkan shalat demi kesibukan.” Ketika hati berkata: “Aku tidak akan melakukan dosa hanya karena semua orang melakukannya.” Ketika hati berkata: “Aku akan memilih ridha Allah meskipun manusia tidak menyukainya.” Pada saat itulah seseorang mulai merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah aku sudah merdeka dari pujian? Jika tidak dipuji, apakah aku tetap berbuat baik? Apakah aku sudah merdeka dari jabatan? Jika jabatan dicabut, apakah aku masih bisa menjadi manusia yang baik? Apakah aku sudah merdeka dari harta? Jika rezeki berkurang, apakah aku masih bersyukur? Apakah aku sudah merdeka dari hawa nafsu? Ketika ingin melakukan dosa, apakah aku mampu mengatakan tidak? Apakah aku sudah merdeka dari penilaian manusia? Ketika melakukan kebenaran, apakah aku berani meskipun tidak populer? Apakah aku sudah merdeka dalam beribadah? Ketika tidak ada yang melihat, apakah aku masih shalat, membaca Al-Qur’an, berdoa, bersedekah dan berbuat baik? Jika jawabannya belum, jangan putus asa. Sebab kemerdekaan hati adalah perjalanan. Hari demi hari. Sujud demi sujud. Istighfar demi istighfar. “Merdekalah dari keinginan untuk terlihat baik di mata manusia, agar engkau dapat sungguh-sungguh menjadi baik di hadapan Allah.”
Barangkali inilah makna kemerdekaan yang paling indah. Kita merdeka bukan agar bebas meninggalkan Allah. Kita merdeka agar dapat memilih Allah dengan kesadaran. Kita merdeka bukan agar bebas dari kewajiban. Kita merdeka agar dapat menjalankan kewajiban dengan cinta. Kita merdeka bukan agar hidup tanpa aturan. Kita merdeka agar tidak diperbudak oleh aturan-aturan buatan hawa nafsu. Kita merdeka bukan agar menjadi manusia tanpa Tuhan. Kita merdeka agar menjadi hamba Allah dengan sepenuh hati. Maka ketika bendera dikibarkan… ketika lagu kemerdekaan dinyanyikan… ketika kita mengenang para pahlawan… mari kita juga mengibarkan sebuah bendera di dalam diri: bendera tauhid.
Dan kita deklarasikan kepada dunia, kepada diri sendiri, dan terutama kepada hati kita: Aku bukan hamba dunia. Aku bukan hamba jabatan. Aku bukan hamba harta. Aku bukan hamba pujian. Aku bukan hamba hawa nafsu. Aku adalah hamba Allah. Dan justru karena aku menjadi hamba Allah, aku merdeka dari selain-Nya.
Selamat merayakan kemerdekaan. Tetapi lebih dari itu— selamat menemukan kemerdekaan hati. Karena bangsa yang merdeka membutuhkan manusia-manusia yang merdeka. Dan manusia yang benar-benar merdeka adalah manusia yang: tunduk kepada Allah, jujur kepada dirinya, berani menegakkan kebenaran, dan tidak menjual kehormatannya kepada dunia.











