Teluk Bintuni (5/6). Warga LDII Teluk Bintuni memanfaatkan momentum Idul Adha untuk menguatkan nilai kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada sesama. Pada Idul Adha 1447 H, LDII Teluk Bintuni melakukan penyembelihan hewan kurban di dua titik, Rabu (27/5/2026).
Dalam nasihat agama yang disampaikan usai Salat Idul Adha, Agus Budijanto, menegaskan bahwa ibadah kurban tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga mengandung nilai sosial yang besar bagi masyarakat.
“Di saat sebagian dari kita bingung memilih menu hidangan, di sudut lain ada saudara-saudara kita yang bingung apakah esok dapur mereka masih bisa mengepul atau tidak. Dalam konteks inilah, kurban hadir bukan hanya sebagai ritual darah, melainkan sebagai instrumen keadilan ekonomi,” ujarnya.
Agus mengutip hadis riwayat Ahmad yang berbunyi “Barang siapa yang memiliki kelapangan (harta) namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami”. Menurutnya, hadits ini bukan sekadar ancaman tekstual, melainkan sebuah teguran keras bagi jiwa-jiwa yang terbelenggu oleh penyakit kikir.
“Di era 1447 H ini, kita menyaksikan realitas ekonomi yang menantang, inflasi yang menghimpit dan kesenjangan sosial yang kian lebar,” ucapnya. Karenanya, kurban seyogyanya menjadi sarana untuk menumbuhkan empati sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.
Ia menjelaskan, daging kurban yang dibagikan adalah pernyataan sikap bahwa: “Aku menolak kenyang sendirian selagi saudaraku kelaparan”. Agus menyebut, ini adalah bentuk redistribusi kekayaan yang paling tulus.
“Mari kita renungkan, kurban adalah jembatan kemanusiaan yang meruntuhkan tembok kasta antara si kaya dan si miskin. Saat kita menyerahkan hewan kurban, kita sebenarnya sedang menyerahkan ‘ego kepemilikan’ kita,” jelasnya.
Agus mengingatkan bahwa kurban adalah bukti nyata kesalehan sosial. Di tengah situasi ekonomi yang sulit, kurban menjadi oase yang mendinginkan suhu kecemburuan sosial dan memperkuat kohesi bangsa.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar umat tidak terjebak pada sikap individualistis dan melupakan kondisi masyarakat di sekitarnya. Menurutnya, harta yang dikurbankan tidak akan berkurang, melainkan menjadi keberkahan yang memberikan manfaat lebih luas bagi kehidupan sosial.
Agus juga mengajak masyarakat menjadikan Idul Adha sebagai momentum untuk menghidupkan kembali semangat gotong-royong. Ia berharap tidak ada warga yang merasakan kesulitan memenuhi kebutuhan pangan saat hari raya berlangsung.
“Jadikan kurban kita sebagai modal sosial untuk membangun Indonesia yang lebih peduli dan bermartabat,” pungkasnya.






