Manokwari (22/6). DPW LDII Papua Barat melakukan pemantauan hilal untuk menentukan awal bulan Zulhijah 1447 Hijriah. Kegiatan rukyatul hilal yang dilaksanakan di Pantai Masni, Manokwari, Papua Barat, Minggu (17/5/2026) tersebut menjadi bagian dari pemantauan rutin pergantian bulan Hijriah.
Ketua DPW LDII Papua Barat, Suroto, mengatakan pihaknya terus meningkatkan kualitas pengamatan dengan menambah peralatan observasi. “Kali ini sudah ditambahkan satu teleskop sehingga memiliki dua teleskop, yaitu teleskop manual dan teleskop digital,” ujarnya.
Rukyatul hilal dipimpin langsung oleh Suroto dan diikuti sejumlah pengurus serta dua teknisi yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan rukyatul hilal di Pondok Pesantren Minhajurrosyidiin, Jakarta Timur. Penambahan perangkat tersebut diharapkan dapat mendukung akurasi pemantauan hilal di wilayah Papua Barat.
Namun, proses pengamatan kali ini terkendala kondisi cuaca yang kurang mendukung. Langit mendung tebal bahkan disertai hujan di beberapa wilayah sekitar lokasi pengamatan.
Salah satu Tim Rukyatul Hilal, Jati Winasis, menjelaskan bahwa sejak awal pemantauan hingga matahari terbenam, hilal tidak berhasil diamati karena tertutup awan. “Selama pantauan dari awal hingga waktu terbenam matahari, hilal belum terlihat, termasuk bulan, karena terhalang awan yang cukup tebal,” ujarnya.
Meski demikian, hasil pemantauan tetap menjadi bagian dari kontribusi LDII dalam pelaksanaan rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Pemerintah kemudian menetapkan 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada Senin (18/5/2026).
Menyambut datangnya bulan Zulhijah, Suroto mengimbau warga LDII untuk meningkatkan amalan ibadah pada 10 hari pertama bulan tersebut. Ia mengajak masyarakat memperbanyak salat sunah, membaca Al Quran, berzikir, serta melaksanakan Puasa Arafah pada 9 Zulhijah.
“Puasa Arafah memiliki keutamaan diampuni dosa satu tahun yang telah lewat dan dosa satu tahun yang akan datang,” jelas Suroto.
Ia juga mengajak warga LDII pada tanggal 10 Zulhijah melaksanakan ibadah kurban sesuai kemampuan masing-masing. Jika mampu, satu orang menyembelih satu ekor kambing atau satu ekor sapi patungan untuk tujuh orang.
“Hal tersebut disesuaikan dengan kemampuan masing-masing dan dilaksanakan dengan ikhlas serta penuh ketakwaan agar mendapat pahala di sisi Allah SWT,” tuturnya.









