Klaten (17/8). DPD LDII Kabupaten Klaten mendorong pemanfaatan pangan lokal melalui Lomba Masak Sorgum di Taman Nyi Ageng Rakit, Rowo Jombor, Klaten, Minggu (9/8/2026). Kegiatan yang digelar Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga itu diikuti perwakilan Pimpinan Cabang (PC) LDII se-Kabupaten Klaten. Lomba dimulai pukul 08.00 WIB dengan menghadirkan beragam kreasi makanan berbahan sorgum.
Ketua DPD LDII Kabupaten Klaten Sigit Winoto mengatakan pemanfaatan pangan lokal dapat dimulai dari keluarga. Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam mengembangkan variasi menu keluarga sekaligus mengenalkan bahan pangan alternatif kepada anggota keluarga. “Ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari program besar. Keluarga dapat memulainya dengan mengenal bahan pangan lokal dan mengolahnya menjadi makanan yang disukai anggota keluarga,” ujar Sigit.
Sigit menilai sorgum memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari diversifikasi pangan. Lomba tersebut menjadi sarana bagi warga LDII untuk mencoba berbagai teknik pengolahan sorgum menjadi makanan yang lebih menarik. “Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti sebagai perlombaan. Peserta dapat membawa hasil kreasi ini ke rumah dan mengembangkan menu berbasis pangan lokal untuk keluarga,” katanya.

Lomba Masak Sorgum menjadi bagian dari agenda pemberdayaan perempuan DPD LDII Klaten dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga. LDII Klaten mendorong kegiatan serupa terus berkembang melalui edukasi pangan lokal, pengembangan keterampilan pengolahan makanan, dan penguatan potensi ekonomi keluarga. “Kemandirian pangan membutuhkan keterlibatan keluarga dan masyarakat. Kami ingin warga LDII ikut mengambil peran melalui langkah sederhana yang dapat dilakukan dari rumah,” ujar Sigit.
Sesepuh dan tokoh agama di kawasan Rowo Jombor Juminah Sutopo mengapresiasi kegiatan yang digelar DPD LDII Klaten. Ia menilai pengenalan pangan lokal kepada masyarakat memiliki manfaat untuk menghadapi kebutuhan pangan pada masa mendatang. “Ini kegiatan yang sangat baik untuk ketahanan pangan di masa depan. Masyarakat perlu mengenal lebih banyak sumber pangan dan tidak bergantung pada satu jenis bahan makanan,” ujar Juminah.
Penanggung jawab kegiatan, Rustatik mengatakan perempuan dapat menjadi penggerak perubahan di tingkat keluarga melalui keterampilan mengolah bahan pangan. “Kami ingin ibu-ibu semakin kreatif dalam memanfaatkan bahan pangan yang tersedia. Hasilnya dapat menjadi menu keluarga sekaligus memiliki peluang dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi,” katanya.











