Semarang (20/7). DPW LDII Jawa Tengah menggelar bedah buku untuk memperkuat pengembangan pendidikan dan literasi melalui bedah buku berjudul “Sistem, Model dan Corak Pendidikan LDII dalam Platform Profesional Religius dari Sabang sampai Merauke”. Kegiatan ini dirangkaikan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip).
Penandatanganan PKS menjadi tonggak kolaborasi kedua lembaga dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan literasi dan kegiatan akademik.
Kegiatan yang digelar di Art Center FIB Undip, Semarang, pada Sabtu (18/7/2026) tersebut dibuka Ketua DPW LDII Jawa Tengah yang jugga Guru Besar Sejarah Undip, Prof. Singgih Tri Sulistiyono dan Dekan FIB Undip Prof. Alamsyah, serta dihadiri CEO Penerbit Deepublish Nuur Budi Utama.
Singgih mengatakan, penerbitan buku tersebut bertujuan memberikan gambaran komprehensif mengenai sistem pendidikan yang dikembangkan LDII sekaligus menjadi referensi bagi masyarakat, kalangan akademisi, maupun organisasi kemasyarakatan lainnya.
Menurutnya, buku itu diharapkan menjadi bahan sosialisasi bagi seluruh pengurus dan warga LDII di Indonesia, serta mendukung upaya menyiapkan Generasi Emas 2045, “Selain menjadi referensi internal, buku ini juga diharapkan menjadi bahan kajian komparatif bagi para peneliti, perguruan tinggi, maupun organisasi lain sehingga dapat saling memberikan masukan dalam pengembangan pendidikan,” ujar Singgih.

Ia menambahkan, kerja sama dengan FIB Undip merupakan langkah strategis agar pengembangan dakwah dan pendidikan di lingkungan LDII memiliki landasan akademik yang kuat. Menurutnya, sinergi antara organisasi kemasyarakatan dan perguruan tinggi akan memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus memperluas ruang pengabdian kepada masyarakat.
Dekan FIB Undip Prof. Alamsyah menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menegaskan kampus memiliki komitmen untuk membuka ruang kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat dalam memperkuat pendidikan dan riset. “Kami mendukung penuh kerja sama di bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan berbagai kegiatan akademik lainnya. Kolaborasi ini menjadi langkah positif dalam memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat,” katanya.
Cendekiawan NU penulis buku tersebut, Ust. Ahmad Ali MD, menjelaskan, buku tersebut disusun untuk memberikan pemahaman yang utuh mengenai sistem pendidikan LDII. Sehingga dapat menjadi media dialog yang mendorong sikap saling memahami di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
“Buku ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami perbedaan yang ada dalam LDII dengan mengedepankan toleransi, harmoni, dan kebijaksanaan sehingga mampu memperkuat kerukunan antarsesama anak bangsa,” ujarnya.

Sementara itu Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai bedah buku merupakan tradisi akademik yang penting untuk membangun budaya dialog. Menurutnya, keterlibatan cendekiawan dari berbagai latar belakang organisasi Islam dalam penulisan maupun pembahasan buku menjadi contoh praktik saling memahami yang perlu terus dikembangkan.
“Indonesia dibangun di atas keberagaman. Ruang dialog seperti ini penting agar setiap kelompok dapat saling mengenal, memahami, dan menghindari kesalahpahaman yang berpotensi mengganggu persatuan,” ujar Dahnil.
Lebih lanjut Dahnil mengajak masyarakat membangun kebiasaan untuk saling memahami satu sama lain sebagai bagian dari upaya menjaga persatuan. “Indonesia sangat beragam. Islam saja memiliki banyak ragam, belum lagi agama-agama lainnya. Saya melihat LDII telah menunjukkan cara yang baik dalam merawat keberagaman, yakni dengan membuka ruang dialog dan dialektika antarkelompok. Itu adalah langkah yang positif,” tegas Dahnil.
Sementara itu, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Pontianak Prof. Hermansyah, yang menulis kata pengantar buku tersebut berharap karya tersebut menjadi jembatan dialog sekaligus mendorong tumbuhnya budaya literasi akademik, khususnya di kalangan generasi muda, agar semakin aktif menulis, meneliti, dan mendokumentasikan perkembangan pemikiran bangsa secara ilmiah.
Diskusi buku turut menghadirkan KH Tafsir, Ibnu Fikri, Rabith Jihan Amaruli, dan Miftahudin sebagai pembahas. Sedangkan A.M. Jumai, bertindak sebagai moderator.









