Jakarta (10/9). Pada peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) yang jatuh setiap tanggal 9 September, LDII mendorong olahraga menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat, khususnya generasi muda. Hal itu diungkapkan Ketua DPP LDII, Abu Dawud Hidayaturrobbi.
“LDII memandang olahraga sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan dan bentuk rasa syukur atas nikmat tubuh yang diberikan Tuhan. Karena itu, olahraga seharusnya tidak berhenti pada peringatan Haornas atau kegiatan perlombaan, tetapi menjadi kebiasaan yang dilakukan secara teratur,” ujar Abu Dawud.
Ia juga mendorong jajaran organisasi dari tingkat DPW, DPD, PC hingga PAC untuk mengintegrasikan aktivitas fisik ke dalam program pembinaan generasi muda. Jenis olahraga dapat disesuaikan dengan kondisi dan potensi masing-masing daerah, mulai dari sepak bola, bulu tangkis, pencak silat, tenis, bersepeda, hingga berbagai cabang olahraga lainnya, “Tidak harus mahal dan tidak selalu harus berbentuk kompetisi. Yang penting mudah diakses, menyenangkan, aman, serta dilaksanakan secara konsisten,” lanjutnya.
Di lingkungan warga LDII, berbagai komunitas olahraga juga telah tumbuh dan aktif menggelar kegiatan secara rutin. Komunitas tersebut antara lain sepak bola, basket, bulu tangkis, bersepeda, lari, tenis meja, pencak silat, golf, serta cabang olahraga lainnya sesuai potensi daerah.
Menurut Abu, keberadaan komunitas olahraga membuat aktivitas fisik lebih mudah dilakukan secara berkelanjutan. Olahraga yang dilakukan bersama juga dinilai lebih menyenangkan sekaligus dapat memperkuat kebersamaan.
Selain menjaga kesehatan, olahraga dipandang memiliki peran penting dalam membentuk karakter. Di lapangan, generasi muda belajar datang tepat waktu, menaati aturan, bekerja sama, menghormati lawan, mengendalikan emosi, serta menerima kemenangan dan kekalahan secara dewasa.
“Prestasi memang penting, tetapi nilai olahraga jauh lebih luas daripada medali dan kemenangan. Nilai-nilai yang dipelajari di lapangan nantinya dibawa ke lingkungan pendidikan, pekerjaan, organisasi, dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pembinaan karakter luhur di lingkungan LDII,” ujarnya.
Dalam olahraga beregu, misalnya, anak-anak belajar rukun, kompak, dan bekerja sama. Mereka juga dilatih untuk bersikap jujur, amanah, disiplin, bertanggung jawab, serta menjunjung tinggi fair play. Kemampuan teknis seorang atlet, menurut Abu, perlu diimbangi dengan integritas dan akhlak yang baik.
Olahraga juga dinilai memiliki kekuatan untuk menumbuhkan semangat kebangsaan. Ketika atlet Indonesia bertanding, masyarakat dari berbagai suku, agama, dan daerah dapat bersatu memberikan dukungan. “Karena itu, kompetisi harus menjadi ruang persaudaraan dan penghormatan terhadap perbedaan, bukan tempat menumbuhkan permusuhan atau fanatisme yang berlebihan,” katanya.
Abu menilai prestasi olahraga tidak dapat dibangun secara instan. Dibutuhkan pembinaan yang konsisten, berjenjang, dan berkelanjutan sejak usia dini. “Dengan jaringan organisasi dari tingkat pusat hingga daerah, LDII dapat berkontribusi dalam menemukan potensi, membina generasi muda, dan membantu membuka jalan menuju pembinaan olahraga yang lebih profesional,” ujarnya.
Saat ini, sejumlah warga LDII juga telah berkiprah sebagai atlet di berbagai cabang olahraga, seperti sepak bola, pencak silat, basket, tenis, dan cabang lainnya. Sebagian di antaranya telah berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional dengan membawa nama Indonesia, bahkan berhasil meraih medali dan gelar juara.
“Prestasi tersebut merupakan kebanggaan sekaligus bukti bahwa pembinaan olahraga yang disertai kedisiplinan dan karakter luhur dapat melahirkan atlet yang mampu berkontribusi bagi bangsa,” tuturnya.
Melalui jaringan DPW, DPD, PC hingga PAC, LDII dapat membantu melakukan pemetaan bibit potensial, memfasilitasi latihan dan kompetisi usia dini. Serta membangun sinergi dengan pemerintah, sekolah, klub, induk organisasi cabang olahraga, KONI, dan pemangku kepentingan lainnya.

“LDII bukan mengambil alih fungsi lembaga olahraga, tetapi membantu membangun ekosistem dari tingkat akar rumput agar anak-anak berbakat memperoleh pembinaan yang tepat dan jalur prestasi yang jelas,” pungkasnya.
Pembinaan tersebut telah dijalankan, antara lain melalui sinergi dengan Forum Sepak Bola Generasi Indonesia (FORSGI) dalam pembinaan sepak bola usia dini dan Persinas ASAD dalam pembinaan pencak silat. Sementara itu, kegiatan olahraga lainnya dapat dikembangkan sesuai potensi dan kebutuhan masing-masing daerah.











