Jakarta (17/10). Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Majelis Pakar DPP LDII, Rubiyo, menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada beras, tetapi juga pada potensi berbagai komoditas pangan lokal, termasuk sorgum.
Pakar pemuliaan dan genetika tanaman tersebut menjelaskan, pangan memiliki peran penting dalam membentuk kualitas generasi penerus bangsa. Pemenuhan gizi perlu diperhatikan sejak masa kehamilan, bahkan sejak persiapan menjadi ibu, hingga anak-anak tumbuh dan berkembang.
“Pangan itu bagi Indonesia sangat penting dan kita punya sumber pangan yang luar biasa. Jadi, bukan hanya beras. Diversifikasi sumber pangan seperti ubi-ubian dan buah-buahan juga penting bagi ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia,” ujar profesor riset itu.
Menurutnya, terdapat empat hal yang perlu menjadi perhatian dalam memaknai Hari Pangan Sedunia. Pertama, konservasi tanah dan air sebagai fondasi keberlanjutan produksi pangan. Kedua, penyediaan pangan yang berkelanjutan. Ketiga, pemenuhan gizi untuk mendukung tumbuhnya generasi penerus yang sehat dan berkarakter luhur. Keempat, memastikan masyarakat memperoleh makanan bergizi, aman, beragam, dan terjangkau.
Salah satu upaya diversifikasi pangan yang dikembangkan LDII adalah sorgum. Rubiyo menjelaskan, pengembangan komoditas tersebut telah melibatkan kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Blora, “Sorgum ini salah satu komoditas yang punya adaptabilitas sangat luas terhadap lingkungan. Tanah yang kurang subur pun masih memungkinkan untuk ditanami sorgum, meskipun untuk menghasilkan produksi maksimal, kebutuhan nutrisi, air, dan kondisi lingkungannya tetap harus diperhatikan,” jelas Rubiyo yang merupakan Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Selain itu, sorgum relatif mudah dibudidayakan dan dapat diolah menjadi beragam produk pangan. Pengembangannya dari tahap budidaya hingga pengolahan juga membuka peluang untuk meningkatkan pemanfaatan sumber pangan lokal.
Tidak hanya bijinya yang dapat dimanfaatkan, batang, daun, dan bagian tanaman lainnya juga berpotensi diolah menjadi biomassa. Ia menilai, pemanfaatan tersebut dapat mendukung pengembangan pertanian terpadu atau integrated farming, sekaligus membuka peluang pemanfaatan sorgum sebagai sumber energi terbarukan.
“Mulai dari tongkol, batang, hingga daun sorgum, bagian-bagian tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai biomassa. Jadi, kalau dikembangkan melalui pertanian terpadu, sorgum memiliki peluang untuk memberikan nilai tambah, baik sebagai sumber pangan maupun untuk pemanfaatan lainnya,” ungkapnya.
Selain diversifikasi pangan, Rubiyo juga menyoroti alih fungsi lahan pertanian sebagai tantangan dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Menurutnya, luas lahan tidak bertambah seiring pertumbuhan penduduk, sementara kebutuhan terhadap pangan dan tempat tinggal terus meningkat.
Ia menilai, pemerintah memiliki peran penting melalui regulasi dan pengawasan yang konsisten untuk melindungi lahan pertanian, terutama sawah yang telah ditetapkan sebagai lahan pertanian berkelanjutan. “Kalau sawah sudah ditetapkan menjadi lahan abadi untuk pertanian, tentunya jangan digunakan untuk keperluan lain, misalnya membangun pabrik atau perumahan. Kita harus berkomitmen agar luas lahan sawah tidak terus berkurang,” tegasnya.
Melalui momentum Hari Pangan Sedunia, Rubiyo menekankan pentingnya mengoptimalkan potensi sumber pangan lokal dan menjaga keberlanjutan lahan pertanian. Upaya tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekaligus menjaga ketersediaannya bagi generasi mendatang.











