Serang (17/8). Ketua DPW LDII Banten, Dimo Tono Sumito, menghadiri “Dzikir dan Doa Kebangsaan” yang digelar Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Banten. Mengangkat tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” kegiatan digelar di Aula Kanwil Kemenag Banten, Rabu (12/8/2026).
“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat spiritualitas dan kebersamaan masyarakat Banten. Istighosah diisi dengan doa dan dzikir memohon syafaat agar Banten menjadi daerah yang maju, aman, dan terkendali,” ujar Dimo.
Dimo menambahkan, kegiatan ini menegaskan kembali komitmen kebangsaan dalam mengemban amanah di Tanah Air. “Doa dan dzikir kebangsaan ini merupakan ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT, sekaligus permohonan agar bangsa Indonesia senantiasa diberikan perlindungan, persatuan, dan kekuatan untuk terus melangkah bersama mengisi kemerdekaan,” tutup Dimo.
Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Provinsi Banten, Amrullah, mengatakan peringatan kemerdekaan harus menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan bangsa sekaligus menentukan kontribusi yang dapat diberikan untuk masa depan Indonesia. Menurutnya, terdapat tiga nilai penting yang perlu dihidupkan dalam memaknai HUT ke-81 RI, yakni tasyakur, tafakur, dan tadabur.
“Peringatan HUT Kemerdekaan ini harus kita jadikan momentum emas untuk melakukan tiga hal mendasar. Pertama, tasyakur (bersyukur) atas nikmat kemerdekaan yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada bangsa kita. Kedua, tafakur (merenung dan mawas diri) atas perjuangan para pahlawan serta perjalanan bangsa yang telah menapaki usia 81 tahun,” ujar Amrullah.
Ia melanjutkan, kemerdekaan juga perlu dimaknai dengan tadabur atau mengambil hikmah dari perjalanan bangsa. “Tadabur bertujuan agar kita mampu merajut kebersamaan, memperkuat kerukunan umat beragama, dan terus berkontribusi nyata dalam membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur,” katanya.
Pesan tersebut sejalan dengan rangkaian kegiatan yang melibatkan pemuka dari berbagai agama. Setelah zikir bersama, kegiatan dilanjutkan dengan doa lintas agama sebagai simbol persatuan dan penghormatan terhadap keberagaman yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Banten.

Sementara itu, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten, KH. A. Bazari Syam, dalam tausiyah kebangsaannya juga menekankan pentingnya menjaga keutuhan bangsa melalui penguatan nilai-nilai keagamaan yang moderat. Menurutnya, keberagaman tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan.
“Sebaliknya, nilai-nilai agama perlu menjadi kekuatan untuk merawat persatuan dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis,” ujarnya.
Kegiatan yang dihadiri jajaran pegawai Kanwil Kemenag Banten, LDII Banten, tokoh agama, dan masyarakat lintas agama tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu. Lebih dari itu, kemerdekaan perlu diisi dengan menjaga persatuan, memperkuat kerukunan, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.











