Jakarta (28/7). Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku Utara KH. Samlan Hi. Ahmad berkunjung ke Kantor DPP LDII di Jakarta, Senin (27/7/2026). Kunjungan tersebut untuk mempererat komunikasi yang selama ini telah terjalin erat antara MUI dan LDII, khususnya di Maluku Utara.
Menurutnya, berbagai program dakwah telah dilaksanakan secara bersama dalam semangat ukhuwah Islamiyah. “Alhamdulillah, hari ini kami bisa bersilaturahim dengan jajaran DPP LDII. Saya merasakan suasana yang sangat sejuk dan penuh kekeluargaan. Kebersamaan antara MUI dan LDII di Maluku Utara selama ini sangat intens, baik dalam komunikasi maupun pelaksanaan berbagai kegiatan dakwah,” ujarnya.
Ia menegaskan, MUI merupakan rumah besar yang menaungi seluruh organisasi kemasyarakatan Islam, termasuk LDII yang selama ini aktif berkontribusi dalam berbagai program keumatan di Maluku Utara.
“MUI adalah payung besar yang menaungi seluruh Ormas Islam. LDII menjadi bagian penting di dalamnya. Kami sering berdakwah bersama, turun ke masyarakat, dan menjalankan berbagai program yang menjadi gerakan bersama MUI,” tambahnya.
Sinergi tersebut, lanjutnya, juga diwujudkan dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat. Ia menilai, Ketua DPW LDII Maluku Utara, Nurhadi berhasil membangun kolaborasi dengan berbagai unsur MUI, termasuk dalam pengembangan sektor pertanian dan penguatan ekonomi umat.
Ia menambahkan, tantangan dakwah saat ini bukan hanya menyampaikan syiar Islam, tetapi juga mengentaskan persoalan kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Tantangan terbesar dakwah saat ini adalah bagaimana mengurangi kemiskinan. Kami ingin masyarakat menjadi pribadi yang bermanfaat kepada orang lain. Tangan di atas tentu lebih baik daripada tangan di bawah, sehingga dakwah juga harus mampu mendorong kemandirian ekonomi umat,” ujarnya.
Sementara itu, anggota Majelis Pakar DPP LDII KH Aceng Karimullah menyambut baik kunjungan tersebut. Menurutnya, seluruh organisasi Islam memiliki tujuan yang sama dalam membina umat, meskipun memiliki peran dan pendekatan yang berbeda.
“MUI merupakan payung besar yang menghimpun berbagai ormas Islam. Kalau diibaratkan sebuah tim sepak bola, ada penyerang, gelandang, bek, hingga penjaga gawang. Perannya berbeda-beda, tetapi tujuannya sama, yaitu meraih kemenangan. MUI berperan menyelaraskan seluruh potensi itu agar bergerak menuju tujuan yang sama,” ungkapnya.
Pengasuh Ponpes Nurul Aini Jakarta Selatan itu menegaskan, pembinaan umat harus dilakukan secara bersama-sama. Menurutnya, dakwah saat ini tidak cukup hanya melalui ceramah, tetapi juga harus diwujudkan dalam aksi yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Umat harus dibina bersama-sama. Selain dakwah bil lisan, yang saat ini semakin dibutuhkan adalah dakwah bil hal, yaitu melalui aksi seperti memperkuat ekonomi umat dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat,” tuturnya.
KH Aceng juga mengingatkan pentingnya memperkuat akhlak generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi digital. Menurutnya, media sosial maupun kecerdasan buatan (AI) harus dimanfaatkan sebagai instrumen dakwah.
“Yang menjadi perhatian kita sekarang adalah memperkuat akhlak generasi muda. Teknologi bukanlah musuh, tetapi harus dimanfaatkan untuk dakwah. AI dan media sosial diciptakan untuk memberikan manfaat. Yang keliru adalah jika teknologi itu disalahgunakan. Karena itu, mari kita gunakan untuk menyebarkan kebaikan dan memperkuat dakwah,” pungkasnya.
Usai berkunjung ke Kantor DPP LDII, KH. Samlan Hi. Ahmad melanjutkan kunjungannya ke Pondok Pesantren (Ponpes) Minhaajurrosyidin, Jakarta. Kunjungan tersebut diterima Koordinator Bidang Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPP LDII sekaligus Dewan Guru Ponpes Minhaajurrosyidin Ust. Dwi Pramono dan Sekretaris Ujang Saepudin.

Kunjungi ke Ponpes Minhajurrosyidin
Setelah meninjau berbagai fasilitas pesantren, mulai dari lingkungan asrama hingga gedung baru SD, SMP dan SMA Minhajurrosyidin, ia mengaku terkesan dengan pengelolaan pesantren yang dinilai modern, tertata, dan tetap mengedepankan nilai-nilai keislaman.
“Kalau diibaratkan seperti permen nano-nano, kesannya lengkap. Saya sangat senang melihat pondok ini tertata rapi, bersih, dan pengelolaannya luar biasa. Apalagi tadi melihat gedung sekolah, arsitekturnya sangat baik. Tinggal dipertahankan dan terus ditingkatkan kualitasnya,” ungkapnya.
Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda menghadapi Indonesia Emas 2045. Karena itu, selain memperkuat pendidikan agama, kurikulum pesantren juga perlu mengakomodasi penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kewirausahaan agar para santri mampu menjawab tantangan global.
“Tantangan ke depan semakin kompleks, termasuk persoalan geopolitik dan perkembangan teknologi. Karena itu, pesantren tetap harus mempertahankan pendidikan agama yang kuat, memperkuat pembelajaran teknologi dan kewirausahaan. Harapannya, lahir santri-santri yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara,” katanya.
Menanggapi kunjungan tersebut, Dwi Pramono, mengapresiasi kehadiran Ketua Umum MUI Maluku Utara yang bersedia berbagi pengalaman dan memberikan masukan bagi pengembangan pendidikan pesantren. “ Di tengah kesibukannya sebagai Ketua Umum MUI Maluku Utara, dosen, dan dai, ia masih meluangkan waktu untuk berdiskusi dan memberikan arahan bagaimana pesantren dapat menjadi kawah candradimuka dalam mencetak generasi muda yang unggul,“ ujar Dwi.
Ia menjelaskan, Pondok Pesantren Minhaajurrosyidin terus menginternalisasikan 29 Karakter Luhur sebagai fondasi pembinaan santri. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi karakter yang melekat kuat dalam diri santri sebagai bekal menghadapi bonus demografi dan Indonesia Emas 2045.
Selain pendidikan karakter, pesantren juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan melalui pembiasaan hidup mandiri dan budaya gotong royong. Para santri dibiasakan menjaga kebersihan lingkungan, membersihkan kamar, kamar mandi, hingga mencuci peralatan makan sendiri sebagai bagian dari pendidikan akhlak dan kemandirian.
“Bagian dari 29 Karakter Luhur adalah membentuk santri yang mandiri, peduli terhadap lingkungan, dan gemar beramal saleh. Mereka kami biasakan menjaga kebersihan, mencuci peralatan makan sendiri, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya agar tidak menjadi pribadi yang manja,” ujarnya.
Pembiasaan tersebut, tambahnya, diharapkan melahirkan lulusan yang tangguh, adaptif, memiliki daya juang tinggi, serta mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri sebagai muslim yang berakhlakul karimah.
“Kami berharap para santri menjadi generasi yang berakhlakul karimah, alim-fakih, mandiri, memiliki resiliensi yang kuat, mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, dan memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara,” tutupnya.







