Hulu Sungai Utara (23/6). Badan Pengelola Masjid (BPM) Raudhatul Hidayah naungan DPD LDII Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan menggandeng Kemenag HSU mengukur ulang arah kiblat di Masjid Raudhatul Hidayah. Pengukuran yang dilakukan pada Senin (15/6/2026) pagi itu diverifikasi ulang untuk memastikan posisi saf salat presisi menghadap ke Kabah di Mekkah.
Kalibrasi arah kiblat itu memberikan ketenangan dan kekhusyukan jamaah masjid dalam beribadah Tim dari Seksi Bimas Islam Kemenag HSU yang dipimpin oleh Insani bersama dua rekannya, turun langsung membawa perangkat Sistem Pemosisi Global (GPS) dan metode hitungan segitiga bola. “Penggunaan peralatan ini memungkinkan hasil yang jauh lebih presisi dibandingkan teknik manual yang selama ini digunakan,” ujar Insani di sela-sela proses pengukuran.
Langkah proaktif BPM Raudhatul Hidayah itu diapresiasi pihak Kemenag. Menurut Insani, peninjauan ulang arah kiblat secara berkala sebenarnya sangat krusial. Ia mengutip analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena alam seperti gempa bumi dan pergerakan lempeng tektonik perlahan bisa memicu pergeseran sudut bumi.
“Langkah berkolaborasi dengan Kemenag ini sudah sangat pas. Mengingat pengamatan BMKG menunjukkan perputaran dan pergeseran bumi akibat bencana atau gempa bisa menggeser arah kiblat,” jelas Insani.
Ia juga menyarankan agar masjid-masjid yang sudah berdiri lama, khususnya di atas sepuluh tahun, untuk mengajukan pengukuran ulang. Hal ini penting demi menghindari kekeliruan arah dalam jangka panjang.
“Akurasi kiblat adalah standar dasar fasilitas ibadah. Kami mendorong pengurus masjid lain untuk proaktif. Setelah diukur, kami akan menerbitkan sertifikat dan stiker resmi sebagai bukti verifikasi pemerintah. Ini bisa jadi acuan takmir dan dokumen penting jika ada renovasi bangunan di kemudian hari,” tambahnya.
Ketua DPD LDII HSU, Lukman Irianto turut membenarkan bahwa Masjid Raudhatul Hidayah memang sudah sekitar 20 tahun tidak mengukur ulang arah kiblatnya. Setelah diuji dengan alat modern, ternyata ditemukan adanya perbedaan sudut.
“Ternyata hasilnya berbeda (dari pengukuran awal dulu). Kerja sama ini diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat dan ormas lain agar fasilitas ibadah selalu terjaga kualitasnya, sekaligus memperkuat kesadaran kolektif kita tentang pentingnya presisi arah kiblat,” kata Lukman.
Di sisi lain, Sekretaris BPM Raudhatul Hidayah, H. Abdul Ghani, menegaskan esensi utama dari kegiatan tersebut adalah agar warga yang beribadah tetap khusyuk. “Kami ingin memastikan ibadah di masjid ini berjalan sesuai tuntunan. Jemaah perlu merasa tenang ketika salat, dan ketenangan itu dimulai dari arah kiblat yang tepat,” pungkas Abdul Ghani.
Seiring majunya teknologi, penentuan arah kiblat kini memang jauh lebih mudah dan akurat. Namun, edukasi dan kesadaran takmir masjid serta masyarakat untuk tetap melakukan verifikasi resmi, menjadi kunci utama agar ibadah yang dijalankan sah dan sesuai syariat. (Ngt)









