Kediri (17/8). Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) Miftahul Huda Blawe, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, membekali sekitar 20 santri Pondok Pesantren Blawe dan Wali Barokah Kota Kediri keterampilan menjahit. Pelatihan tersebut merupakan program pelatihan menjahit gelombang tujuh berbasis kompetensi kejuruan dan garmen.
Program pelatihan dimulai pada 8 Agustus hingga 22 September 2026, dengan total 260 jam pelajaran. Tujuan pelatihan tersebut untuk menyiapkan peserta memasuki dunia kerja sekaligus mengembangkan usaha mandiri.
“BLKK Miftahul Huda Blawe telah menyelenggarakan pelatihan hingga gelombang ketujuh. Dari program-program sebelumnya, sebanyak 136 peserta telah menyelesaikan pelatihan dan menjadi alumni,” jelas Direktur BLKK Miftahul Huda Blawe, Kompol (Purn) Hariyanto.
Ia menjelaskan para peserta tidak hanya diarahkan untuk menguasai keterampilan teknis menjahit, tetapi juga diharapkan dapat memanfaatkannya setelah pelatihan, baik untuk bekerja maupun mengembangkan usaha sendiri.
Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama Kabupaten Kediri, Moh. Saefurrizal mengatakan, keterampilan kerja menjadi salah satu bekal yang perlu dimiliki santri selain pendidikan keagamaan.
“Bidang garmen memiliki peluang usaha yang cukup luas karena kebutuhan masyarakat terhadap pakaian terus berlangsung. Peluang tersebut juga terbuka pada pasar busana muslim,” ungkap Saefurrizal.
Ia menjelaskan kebutuhan berbusana adalah hal pokok bagi setiap manusia. Menurutnya, melalui pelatihan tersebut santri diharapkan tidak hanya menguasai keterampilan teknis menjahit yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian, tetapi juga mampu membangun kemandirian ekonomi serta merebut pasar busana muslim di Indonesia.
“Kami mengapresiasi penyelenggaraan pelatihan yang memberikan keterampilan praktis kepada santri. Kami berharap keterampilan tersebut dapat menjadi bekal bagi peserta setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren,” ujarnya.

Selain itu, Ketua Pondok Pesantren Wali Barokah Kota Kediri, KH Sunarto meminta para instruktur memberikan pelatihan secara optimal, agar peserta tidak hanya memahami materi, tetapi mampu menerapkan keterampilan yang diperoleh.
“Kami berpesan kepada peserta untuk memanfaatkan pertemuan dengan santriwati dari berbagai daerah untuk membangun jejaring usaha setelah menyelesaikan pelatihan,” ungkapnya.
Ia juga berharap interaksi antar peserta dari berbagai provinsi ini dimanfaatkan untuk memperluas jaringan usaha. Menurutnya, pelatihan ini tidak boleh berhenti pada penguasaan materi saja, tetapi harus ada keberlanjutan melalui wirausaha mandiri maupun kemitraan.
“Kami mendukung program pelatihan ini. Kami menilai keberlanjutan program hingga gelombang ketujuh menunjukkan konsistensi BLKK dalam memberikan keterampilan kepada para santri,” ujar Ketua BPD Desa Blawe, Supriyono.











