Yogyakarta (6/11). Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPW LDII Kalimantan Selatan (Kalsel) mengunjungi LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kunjungan tersebut untuk studi banding pengembangan organisasi.
Kunjungan pada Kamis (29/10/2026) tersebut sekaligus untuk mengembangkan sumber potensial yang ada di lingkungan, untuk pemberdayaan dan melayani kebutuhan masyarakat di Kalsel.
Ketua Biro PPKK, Hasanah Karnasuriatna bersama rombongan yang diterima perwakilan LDII DIY Jiwantoro, mengatakan, pihaknya berharap memiliki ide baru untuk kemajuan organisasi. “Ruang lingkup PPKK mencakup pembinaan perempuan, penguatan ketahanan keluarga, hingga peningkatan kesehatan keluarga, sehingga perlu dekat dengan kebutuhan masyarakat,” kata Hasanah.
Ia juga menyambut baik kesempatan belajar langsung dari program yang telah berjalan di Jogja. Harapannya, pengalaman tersebut bisa menjadi inspirasi pengembangan kegiatan PPKK di Kalimantan Selatan.
“Harapannya, setelah kunjungan ini ada banyak ide dan wawasan baru yang bisa kami bawa pulang. Kami ingin kegiatan PPKK di Kalimantan Selatan semakin aktif dan produktif, serta bisa lebih banyak merangkul perempuan LDII agar kreatif dan ikut berperan dalam kegiatan pemberdayaan,” ungkapnya.
Sementara itu Jiwantoro mengapresiasi kunjungan yang tak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga berbagi pengalaman dan bertukar gagasan. “Kami berharap diskusi dan pertukaran pengalaman ini dapat memberikan manfaat nyata, sekaligus menjadi bahan evaluasi dan inspirasi dalam meningkatkan kualitas tata kelola organisasi,” ujarnya.
Dalam studi banding tersebut, Biro PPKK LDII Kalsel, menyaksikan praktik pemberdayaan wanita, berupa usaha batik ecoprint yang dijelaskan Ira Fatma, salah satu pengurus Biro PPKK LDII DIY. Ira yang juga perajin batik ecoprint lokal tersebut telah mengembangkan usahanya itu, berkolaborasi dengan warga dan komunitas batik ecoprint lainnya.
Ira mengatakan, batik ecoprint memanfaatkan potensi lingkungan sekitar menjadi inspirasi kreativitas ekonomi perempuan bisa dimulai dari keterampilan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Seperti bahan alam dapat dimanfaatkan sebagai pewarna, sekaligus membuka peluang masyarakat untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya bernilai,” ujarnya.











