Nabire (23/9). Ketua DPP LDII Rulli Kuswahyudi mendorong generasi muda Papua Tengah untuk bijak bermedia sosial di tengah maraknya penyebaran informasi bohong dan konten yang tidak terverifikasi. Hal itu ia sampaikan saat memberikan materi dalam pelatihan jurnalistik yang digelar DPP LDII bekerja sama dengan DPW LDII Papua Tengah, pada Selasa (22/9/2026).
“Media sosial itu bagai pisau bermata dua. Ada dampak positif, tetapi juga ada dampak negatif. Untuk itu, kami mengajak peserta untuk bijak bermedia sosial agar tidak mudah terprovokasi dan dipecah belah oleh informasi yang tidak jelas kebenarannya,” ujarnya.
Perkembangan media sosial, lanjutnya, juga membuka peluang besar bagi generasi muda untuk berdakwah sekaligus menyampaikan berbagai kontribusi organisasi kepada masyarakat. LDII, dari tingkat pusat hingga pimpinan anak cabang (PAC), memiliki berbagai program yang dapat dikemas menjadi konten informatif dan edukatif.
“Media sosial saat ini sangat memungkinkan menjadi sarana untuk berdakwah. Kami mendorong peserta meningkatkan produksi konten dan menyebarluaskan berbagai karya serta kontribusi LDII hingga pelosok negeri,” ungkapnya.
Rulli menambahkan, pelatihan jurnalistik selain membekali peserta dengan kemampuan membuat berita, juga memberikan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri media. Peserta dikenalkan dengan standar jurnalistik yang digunakan media arus utama.
“Secara tidak langsung, kami juga memberikan hard skill kepada peserta yang tertarik menjadi wartawan. Ilmu yang disampaikan para pemateri merupakan standar yang digunakan media mainstream, sehingga peserta memiliki bekal untuk menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Departemen Komunikasi, Informasi dan Media (KIM) DPP LDII Ludhy Cahyana mendorong DPW LDII Papua Tengah membentuk Kelompok Kerja (Pokja) LDII News Network (LINES) sebagai bagian dari penguatan publikasi di timur Indonesia. Menurutnya, LINES sebagai kantor berita resmi LDII memiliki peran strategis dalam menjadi etalase berbagai kegiatan dan kontribusi organisasi.
Ia menekankan, Biro KIM DPW LDII Papua Tengah perlu menjadi motor penggerak publikasi. Ia mendorong KIM aktif membangun koordinasi dengan LINES melalui rapat redaksi maupun perencanaan liputan.
“Biro KIM harus aktif mengajak LINES dalam rapat redaksi. Setiap agenda dan kegiatan LDII Papua Tengah perlu direncanakan peliputannya agar dapat dipublikasikan secara konsisten dan masif,” ujarnya.
Memasuki era new media, Ludhy juga mengingatkan peserta agar memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, setiap informasi perlu diperiksa sumber, konteks, dan kebenarannya sebelum dipercaya maupun disebarluaskan.
“Ketika media sosial ramai mengkritisi suatu kebijakan, jangan langsung terpancing. Diperlukan pemikiran kritis untuk melihat peristiwa secara utuh, sehingga kita memahami konteksnya secara komprehensif,” jelasnya.
Mantan wartawan Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT) dan *tempo.co* itu juga memberikan materi mengenai penulisan straight news. Ia mendorong peserta tidak berhenti pada pelatihan, tetapi terus mempraktikkan kemampuan jurnalistik dengan memproduksi berita dari berbagai kegiatan di Papua Tengah.
“Banyak kegiatan organisasi yang memiliki nilai berita dan semuanya perlu dipublikasikan. Dengan semakin masifnya publikasi dari Papua Tengah, informasi mengenai program positif LDII dapat diketahui dan menjadi inspirasi bagi warga LDII di daerah lain untuk mengimplementasikannya,” pungkasnya.










