Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Tidak semua protes berakhir dengan celaan. Ada kalanya sebuah protes justru menjadi jalan tersingkapnya keindahan hati seorang hamba. Menguak misteri dan jadi jalan pencerahan bagi para pencari Tuhan. Dan beruntunglah orang-orang yang hadir belakangan.
Di antara para sahabat Nabi ﷺ ada seorang imam yang memiliki kebiasaan unik. Setiap kali shalat berjamaah, setelah membaca surah lain, ia selalu mengakhirinya dengan Surah Al-Ikhlas. Berulang-ulang. Hampir tidak pernah ditinggalkan. Sebagian makmum merasa heran. Mengapa surah yang sama terus dibaca? Bukankah Al-Qur’an begitu luas? Bukankah masih banyak surah lain yang dapat dipilih? Mereka pun menyampaikan persoalan itu kepada Rasulullah ﷺ.
Luar biasanya, Nabi ﷺ tidak langsung menyalahkan ataupun membenarkan. Beliau terlebih dahulu meminta agar sahabat itu ditanya alasannya. Islam mengajarkan bahwa sebelum menilai sebuah amal, pahamilah dahulu niat dan maksud pelakunya. Ketika ditanya, jawaban sahabat itu begitu sederhana, namun keluar dari hati yang dipenuhi cinta: “Karena surah itu menggambarkan sifat Ar-Rahman, dan aku mencintainya.”
Ia bukan mengulang Al-Ikhlas karena malas mencari surah lain. Bukan pula karena ingin tampil berbeda. Ia mengulanginya karena setiap kali membaca Qul Huwallahu Ahad, hatinya dipenuhi kerinduan kepada Allah. Baginya, setiap ayat adalah pengenalan kepada Rabb yang dicintainya.
Mendengar jawaban itu, Rasulullah ﷺ tidak berkata, “Ubahlah kebiasaanmu.” Tidak pula beliau menegurnya karena dianggap monoton. Justru beliau bersabda: “Sampaikan kepadanya bahwa Allah mencintainya.”
Kisah ini menjadi tanda cinta, yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh khalayak. Dan selengkapnya, tertulis indah dalam riwayat berikut ini.
عن عائشة رضي الله عنها: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ، وَكَانَ يَقْرَأُ لِأَصْحَابِهِ فِي صَلَاتِهِمْ، فَيَخْتِمُ بِـ ﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟» فَسَأَلُوهُ، فَقَالَ: «لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا.» فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ.»
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ mengutus seorang laki-laki memimpin suatu pasukan. Dalam shalat bersama pasukannya, ia selalu menutup bacaannya dengan Surah Al-Ikhlas. Setelah mereka kembali, para sahabat menceritakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda, “Tanyakan kepadanya mengapa ia melakukan itu?” Mereka pun bertanya. Ia menjawab, “Karena surah itu berisi sifat-sifat Allah Yang Maha Pengasih, dan aku sangat mencintai membacanya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Sampaikan kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Betapa agung balasan itu. Seorang hamba mencintai firman yang menjelaskan sifat-sifat Rabbnya, lalu Allah membalas cinta tersebut dengan cinta-Nya sendiri. Bukankah tidak ada kedudukan yang lebih tinggi daripada dicintai Allah? Cinta berbalas cinta.
Kisah ini mengajarkan bahwa nilai sebuah ibadah tidak hanya terletak pada gerak lahirnya, tetapi juga pada kehidupan hati di baliknya. Amal yang tampak sederhana dapat menjadi sangat mulia ketika lahir dari kecintaan yang tulus kepada Allah.
Namun, kisah ini juga mengajarkan adab yang penting. Tidak semua kebiasaan dalam ibadah boleh dibuat-buat. Kebiasaan sahabat ini diterima karena tidak menyelisihi syariat dan mendapat persetujuan langsung dari Rasulullah ﷺ. Karena itu, seorang mukmin hendaknya selalu menjaga keseimbangan antara mengikuti sunnah dan menghadirkan cinta dalam beribadah.
Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita membaca Al-Ikhlas sekadar karena pendek, atau karena kita benar-benar menikmati kandungannya? Surah yang ringkas ini memuat inti tauhid: Allah Maha Esa, tempat bergantung segala makhluk, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Nya.
Semoga setiap kali lisan kita membaca “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ”, hati kita semakin mengenal Allah, semakin mencintai-Nya, hingga suatu hari kita termasuk hamba yang mendengar kabar paling membahagiakan itu: “Sesungguhnya Allah mencintainya.”
Hikmah lain yang sangat indah adalah bahwa para sahabat tidak segan bertanya ketika menemukan sesuatu yang belum mereka pahami, sementara Rasulullah ﷺ tidak tergesa-gesa menghakimi. Beliau mencari tahu alasan di balik perbuatan itu. Inilah adab ilmiah dalam Islam: tabayyun sebelum menilai, memahami sebelum menyimpulkan, dan menimbang amal berdasarkan dalil serta keikhlasan hati. Dan selanjutnya kita tahu bahwa cinta berbalas dengan cinta. Jika dan hanya jika kita benar mencintanya. Yaitu kepada Pemilik Cinta yang Sebenarnya, Allah yang Mahacinta.










