Lombok Barat (28/7). DPW LDII Provinsi Nusa Tengggara Barat (NTB) menghelat Perkemahan Akhir Tahun Ajaran Cinta Alam Indonesia (Permata CAI). Kegiatan yang menjadi rangkaian Pra Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII LDII NTB tersebut berlangsung di Bumi Perkemahan Pathfinder Outbond, Lombok Barat, NTB, pada 24-26 Juli 2026.
Ketua DPW LDII Provinsi NTB melalui Ketua Panitia CAI dan Muswil, Amad Yusuf, mengatakan Permata CAI bukan sekedar kegiatan perkemahan, tetapi menjadi sarana membentuk generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
”Di LDII, cinta alam adalah bagian dari iman. Melalui CAI, kita ingin mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas dan berakhlak, tetapi juga punya kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Karena kerusakan alam adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Selama tiga hari, 100 generasi muda LDII mendapatkan pembekalan survival, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan. Mereka juga terlibat dalam berbagai kegiatan peduli lingkungan, seperti penanaman pohon, bersih-bersih kawasan, dan lomba daur ulang sampah.
Edukasi pengelolaan sampah menjadi salah satu materi yang diberikan dalam kegiatan tersebut. I Made Wibisisana, pejabat fungsional Pengendali Dampak Lingkungan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, memberikan materi bertajuk “Strategi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masjid”.
Wibi menjelaskan, saat ini Provinsi NTB masih berstatus “Darurat Sampah”. Tumpukan sampah di TPA semakin menggunung dan daya dukung lingkungan semakin terbatas.
“Penyelesaiannya tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Harus dimulai dari rumah, dari masjid, dari komunitas. Apa yang dilakukan adik-adik LDII hari ini, yaitu memilah sampah dan mengolahnya, adalah langkah paling strategis,” jelasnya.
Para peserta kemudian mengikuti praktik pengolahan sampah dengan membuat ecobrick serta kompos dari sampah organik yang berasal dari sisa dapur selama perkemahan.
Sekretaris DPW LDII NTB, M Ramadhani, mengatakan kegiatan ini adalah bukti nyata pengabdian LDII melalui delapan bidang, khususnya di bidang lingkungan hidup dan pendidikan.
”Ini adalah pemanasan sebelum Muswil VIII nanti. Kami ingin menunjukkan bahwa LDII siap bersinergi dengan pemerintah dalam menyelesaikan masalah strategis daerah, salah satunya darurat sampah,” katanya.
Ramadhani berharap kegiatan tersebut dapat mendorong masjid dan pondok pesantren naungan LDII di Pulau Lombok menjadi pelopor gerakan “Masjid Bebas Sampah”. Sekaligus mengembangkan bank sampah di lingkungan masing-masing.
Mengakhiri kegiatan, peserta melakukan aksi bersih-bersih sampah di sekitar lokasi perkemahan sebagai bentuk penerapan nyata kepedulian terhadap lingkungan.







