Bontang (22/6). DPD LDII Kota Bontang dan Penggerak Pembina Generus (PPG) Bontang menggelar Pembekalan Guru Generus dan Orang Tua. Kegiatan itu untuk meningkatkan kapasitas guru generus dan orang tua dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak.
Acara yang digelar di ruang pertemuan Kantor sekretariat DPD LDII Kota Bontang, pada Rabu (16/6/2026) itu, sebagai antisipasi pada tantangan perkembangan, perilaku, dan pembelajaran anak di era modern.
Wakil Ketua DPD LDII Kota Bontang, Suliyono, mengatakan, pentingnya peran mubaligh dan pendidik dalam membentuk karakter generasi muda.
“Mubaligh harus mampu menjadi sahabat edukasi yang relatable, dengan pendekatan komunikasi adaptif dan dialog sehingga dapat menjadi teman diskusi yang nyaman serta memahami kondisi psikologis remaja saat ini,” ujarnya.
Selain itu, harapannya dengan acara itu, para guru generus dan orang tua semakin mampu mengenali kebutuhan unik setiap anak, melakukan deteksi dini terhadap hambatan perkembangan dan pembelajaran, serta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Narasumber dr Arlita Putri, Sp.A menjelaskan bahwa keberhasilan belajar anak tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan, tetapi juga dipengaruhi oleh kesiapan perkembangan, kemampuan fokus, memori kerja (working memory), perilaku, kemampuan bahasa, fungsi eksekutif, serta dukungan lingkungan yang tepat.
“Kesulitan belajar merupakan kondisi nyata yang dapat dialami anak meskipun telah memperoleh kesempatan belajar yang memadai. Sifatnya umum maupun spesifik sehingga memerlukan identifikasi dan penanganan yang berbeda sesuai kebutuhan setiap anak,” kata dia.
Karenanya dalam acara itu, peserta juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya kemampuan fokus, working memory, serta keterampilan pra-akademik sebagai fondasi kesiapan belajar. Selain itu, kemampuan memahami konsep posisi, urutan (sequence), mengikuti instruksi bertahap, hingga mengingat informasi menjadi keterampilan dasar yang perlu berkembang sesuai usia sebelum anak menghadapi tuntutan akademik yang lebih kompleks.
Dalam sesi identifikasi perilaku anak, Arlita menjelaskan, setiap perilaku menjadi bentuk komunikasi dengan tujuan tertentu, seperti mencari perhatian, menghindari tugas, memperoleh sesuatu yang diinginkan, atau memenuhi kebutuhan sensori. “Perilaku yang dianggap bermasalah perlu dipahami penyebabnya melalui observasi yang sistematis, bukan sekadar diberi label negatif,” papar Arlita.
Pemateri lainnya, Likha menambahkan, gangguan perilaku anak merupakan bentuk komunikasi yang menunjukkan adanya kebutuhan atau kesulitan yang sedang dialami anak. Dengan melakukan pengamatan yang tepat, memahami penyebab perilaku, serta ada pendampingan positif dan sesuai kebutuhan, proses pembelajaran, pembentukan akhlak, serta pengembangan karakter anak dapat berjalan secara optimal.
Ia juga menekankan pentingnya deteksi dini terhadap berbagai kondisi yang dapat memengaruhi proses belajar, seperti Gangguan Spektrum Autisme (GSA), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD/GPPH), hambatan bahasa, serta kesulitan belajar spesifik.
“Penggunaan instrumen skrining dapat membantu mengenali tanda-tanda risiko sejak dini sehingga anak memperoleh evaluasi dan intervensi yang tepat,” ujar Likha.
Selain itu, peserta diperkenalkan dengan pentingnya penyusunan Program Pembelajaran Individual (PPI) bagi anak yang membutuhkan layanan khusus. Melalui PPI, tujuan, strategi, media, dan evaluasi pembelajaran dapat disesuaikan dengan profil kemampuan dan hambatan masing-masing anak sehingga proses belajar menjadi lebih efektif dan bermakna.









