Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Setiap bulan April, kita seperti diundang untuk menoleh kembali. Menengok ke dalam, bukan sekadar ke masa lalu, tetapi ke dalam diri. Di sana, nama Raden Ajeng Kartini tidak lagi hanya berdiri sebagai tokoh sejarah, melainkan sebagai cermin: sejauh mana kita telah merdeka, dan sejauh mana kita masih terbelenggu.
Kartini bukan sekadar perempuan yang menulis surat. Ia adalah jiwa yang gelisah di tengah tradisi yang kaku, pikiran yang menyala di ruang yang sempit. Ia tidak memberontak dengan teriak, tetapi dengan terang. Ia tidak mengguncang dengan kekuatan fisik, tetapi dengan gagasan. Dalam sunyi, ia menenun keberanian: berani berpikir, berani merasa, dan berani berharap.
Semangat ini sejalan dengan seruan Al-Qur’an agar manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya:
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257)
Kartini, dengan caranya, sedang mengetuk pintu “cahaya” itu—bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk kaumnya. Ia ingin manusia tidak hidup dalam gelapnya kebodohan, tetapi dalam terangnya ilmu dan kesadaran.
Menyambut Kartini hari ini, kita tidak cukup hanya mengenakan kebaya atau mengulang kutipan-kutipannya. Kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kita sudah menjadi manusia yang berpikir merdeka? Atau justru kita sedang hidup dalam bentuk “penjajahan baru”—yang tidak terlihat, tetapi terasa? Penjajahan oleh rasa takut, oleh standar sosial yang menekan, oleh keinginan untuk selalu terlihat sempurna di mata orang lain.
Padahal Islam sendiri memuliakan ilmu sebagai jalan pembebasan. Wahyu pertama yang turun bukanlah perintah berperang, melainkan perintah membaca:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Di sinilah ruh Kartini bertemu dengan ruh para ulama dan pemikir besar. Seorang Alim – Faqih pernah mengingatkan, “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.” Maka, terang yang dicari Kartini bukan sekadar tahu, tetapi hidup dalam kesadaran.
Sementara itu seorang Alim Faqih yang lain menegaskan, “Sesungguhnya di dunia ini ada surga; barang siapa tidak memasukinya, ia tidak akan masuk surga akhirat.” Yang ia maksud adalah ketenangan jiwa karena mengenal kebenaran. Bukankah Kartini sedang mencari “surga kesadaran” itu di tengah himpitan zamannya?
Dari dunia tasawuf, Jalaluddin Rumi berbisik lembut, “Mengapa engkau tinggal di penjara, padahal pintu terbuka lebar?” Kalimat ini seperti menampar halus: sering kali yang membelenggu kita bukan keadaan, tetapi cara kita memandang diri dan dunia.
Bahkan dari pemikir Barat, suara yang sama bergema. Nelson Mandela berkata, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia—sebuah gagasan yang telah lebih dulu hidup dalam jiwa Kartini. Dan Malala Yousafzai menguatkan dengan kalimat yang sederhana namun tajam, “One child, one teacher, one book, and one pen can change the world.” Satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena—cukup untuk menyalakan perubahan.
Kartini juga mengajarkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri—tidak tunduk pada tekanan yang menyesatkan. Ini selaras dengan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)
Dan ukuran kemuliaan dalam Islam pun jelas:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Menjadi “Kartini masa kini” bukan berarti harus besar dan terkenal. Kadang, ia hadir dalam bentuk sederhana: seorang ibu yang mendidik anaknya dengan cinta dan kesadaran, seorang perempuan yang tetap teguh menjaga prinsip di tengah arus, atau siapa saja yang memilih jujur ketika dunia mendorong untuk berpura-pura.
Di era yang serba cepat ini, kita justru sering kehilangan kedalaman. Kita tahu banyak hal, tetapi jarang memahami. Kita terhubung dengan banyak orang, tetapi sering terasing dari diri sendiri. Di sinilah semangat Kartini menjadi relevan: kembali pada kesadaran, pada kejujuran batin, pada keberanian untuk menjadi diri sendiri tanpa harus menunggu pengakuan.
Kartini pernah bermimpi tentang dunia yang lebih terang. Pertanyaannya kini bukan lagi “apa yang ia impikan?”, tetapi “apa yang kita lanjutkan dari mimpinya?”. Sebab terang itu bukan sesuatu yang datang dari luar, melainkan sesuatu yang kita nyalakan—pelan-pelan, dalam diri, dalam keluarga, dalam lingkungan.
Maka, menyambut Kartini adalah tentang menyalakan cahaya itu lagi. Bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan. Karena pada akhirnya, Kartini bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah kemungkinan—yang bisa lahir kapan saja, dari siapa saja, termasuk dari diri kita hari ini. Insya Allah.









