Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
    • Jadwal Shalat
  • DESAIN GRAFIS
    • Kerja Bakti Nasional 2025 dan 17 Agustus 2025
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
    • Jadwal Shalat
  • DESAIN GRAFIS
    • Kerja Bakti Nasional 2025 dan 17 Agustus 2025
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis

2026/04/01
in Opini
0
Ilustrasi Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis.

Ilustrasi Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis.

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Daud Sobri*

Di lingkungan pesantren, istilah alim bukan sekadar gelar bagi mereka yang banyak hafal kitab atau fasih berbahasa Arab. Alim adalah sosok yang ilmunya hidup—tercermin dalam adab, laku, dan kesanggupan menjaga diri dari hal-hal yang merusak nilai ilmu itu sendiri. Dalam tradisi pesantren, alim bukan hanya tahu, tetapi juga tunduk pada ilmu yang ia miliki.

Namun, ada ironi yang kerap luput dari perhatian: hal-hal kecil, yang tampak sepele, justru perlahan menggerogoti kealimannya. Ia tidak datang sebagai badai, melainkan seperti rayap—diam, tak terasa, tapi pasti merusak.

Pertama, kesibukan duniawi. Bukan berarti dunia harus ditinggalkan, tetapi ketika ia menyita perhatian berlebihan, ilmu kehilangan ruang untuk bernapas. Seorang alim yang terlalu larut dalam urusan dunia—entah bisnis, jabatan, atau popularitas—pelan-pelan menjauh dari ruh keilmuannya. Ilmu yang dulu diasah tiap hari, kini hanya sesekali disapa.

Kedua, banyak utang. Dalam kultur pesantren, utang bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga beban batin. Pikiran yang terbelenggu cicilan dan tagihan sulit khusyuk dalam belajar dan mengajar. Ilmu membutuhkan ketenangan, sementara utang kerap menghadirkan kegelisahan yang tak kasat mata.

Ketiga, memikirkan hal di luar bidangnya. Ini bukan larangan untuk belajar hal baru, melainkan peringatan terhadap kecenderungan latah: ingin bicara semua hal, merasa perlu berpendapat atas segala isu. Akibatnya, fokus tercerai-berai. Ilmu yang seharusnya diperdalam justru dangkal karena energi tersedot ke hal-hal yang bukan ranahnya.

Keempat, kesombongan yang halus, merasa sudah cukup, enggan belajar lagi. Ini mungkin yang paling berbahaya. Di pesantren, senioritas dihormati, tetapi bukan alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Ketika seseorang merasa “sudah alim”, di situlah awal kemundurannya. Ilmu tidak suka menetap pada hati yang tertutup.

Lalu, bagaimana menjaga agar ilmu tetap awet?

Jawaban klasik pesantren tetap relevan: muthola’ah—mengulang, membaca, dan menghidupkan kembali pelajaran setiap ada kesempatan. Ilmu bukan benda mati yang cukup disimpan; ia harus terus disentuh agar tidak pudar. Bahkan ulama besar pun dikenal tak pernah berhenti muthola’ah, seolah mereka selalu merasa masih di awal perjalanan.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, menjaga kealiman memang bukan perkara mudah. Tapi justru di situlah letak ujiannya: apakah ilmu hanya menjadi identitas, atau benar-benar dijaga sebagai amanah.

Karena pada akhirnya, yang menggerogoti alim bukanlah hal besar yang tampak jelas, melainkan perkara-perkara kecil yang dibiarkan terus-menerus. Dan yang menjaga ilmu tetap hidup, sering kali juga bukan sesuatu yang spektakuler—cukup kesetiaan pada hal-hal sederhana yang dilakukan tanpa henti.

Sekayu 2 Syawal 1447.H
*) Daud Sobri adalah Ketua LDII Muba dan Pengurus Ponpes Taufiqurrohman Sungai Lilin.

Tags: alimDaud SobriIlmuKetua LDII MubaPelan-PelanTerkikis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • MasMT on LDII Adakan Diklat Dakwah Tingkatkan Kompetensi Khotib
  • AG1E on LDII Adakan Diklat Dakwah Tingkatkan Kompetensi Khotib
  • Nanang Naswito on Kunjungi Demplot Padi di Lahan Gambut, Ketua LDII Kalbar Dorong Penambahan Luasan Tanam
  • Nanang Naswito on LDII Berau Gelar Ngaji Khusus Wanita, Ingatkan Pentingnya Meningkatkan Ilmu Agama
  • Fadhil on Sinergi Ormas Islam Menguat, Ketua LDII Bone Masuk Kepengurusan MUI 2025–2030
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Sumber Pertengkaran

Sumber Pertengkaran

July 15, 2020
Hadiri HUT Bhayangkara ke-79, LDII Tana Toraja Apresiasi Kinerja Polres Tator

Hadiri HUT Bhayangkara ke-79, LDII Tana Toraja Apresiasi Kinerja Polres Tator

July 7, 2025
Silaturahim dengan LDII Kota Denpasar, Densus 88 Bicara Kamtibmas

Silaturahim dengan LDII Kota Denpasar, Densus 88 Bicara Kamtibmas

October 2, 2025
Hadiri Santunan Anak Yatim di Ponpes Minhajurrosyidin, Gubernur Jakarta Ingatkan Tingkatkan Kepedulian Sosial

Hadiri Santunan Anak Yatim di Ponpes Minhajurrosyidin, Gubernur Jakarta Ingatkan Tingkatkan Kepedulian Sosial

March 22, 2025
kemenag Blora LDII

Kemenag Blora Silaturahim ke LDII, Perkuat Ukhuwah

0
Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis

Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis

0
Silaturahim Syawal LDII Jatim ke Tebuireng, Rawat Kebersamaan Umat

Silaturahim Syawal LDII Jatim ke Tebuireng, Rawat Kebersamaan Umat

0
sukoharjo takjil

LDII Sukoharjo Bagikan 1.000 Takjil di Simpang Patung Jamu

0
kemenag Blora LDII

Kemenag Blora Silaturahim ke LDII, Perkuat Ukhuwah

April 1, 2026
Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis

Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis

April 1, 2026
Silaturahim Syawal LDII Jatim ke Tebuireng, Rawat Kebersamaan Umat

Silaturahim Syawal LDII Jatim ke Tebuireng, Rawat Kebersamaan Umat

April 1, 2026
sukoharjo takjil

LDII Sukoharjo Bagikan 1.000 Takjil di Simpang Patung Jamu

April 1, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Kemenag Blora Silaturahim ke LDII, Perkuat Ukhuwah April 1, 2026
  • Pelan-Pelan, Alim pun Terkikis April 1, 2026
  • Silaturahim Syawal LDII Jatim ke Tebuireng, Rawat Kebersamaan Umat April 1, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Shalat
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

KATEGORI

Kirim Berita via Telegram

klik tautan berikut:
https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Shalat
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
    • Jadwal Shalat
  • DESAIN GRAFIS
    • Kerja Bakti Nasional 2025 dan 17 Agustus 2025

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.