Oleh: Thonang Effendi
“Garuda Pancasila, akulah pendukungmu… Patriot Proklamasi, sedia berkorban untukmu.”
Setiap 1 Juni, bait lagu karya Sudharnoto itu kembali menggema. Lagu tersebut bukan sekadar mars kenegaraan. Ia adalah ringkasan cita-cita bangsa: bahwa setiap warga Indonesia diibaratkan sebagai Garuda yang terpanggil untuk mendukung Pancasila. Pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar mendukungnya?
Pertanyaan itu membawa kita kembali ke tahun 1945. Saat memimpin sidang BPUPKI, dr. Rajiman Wedyodiningrat melemparkan pertanyaan mendasar: “Atas dasar apakah Indonesia didirikan?” Dari forum itulah lahir jawaban besar bernama Pancasila. Bukan sekadar dasar negara, tetapi juga dasar hidup berbangsa.
Bila dikaitkan dengan tema Harkitnas 2026, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara,” sesungguhnya mengandung pesan yang sama: bahwa kedaulatan bangsa dimulai dari bagaimana negara menjaga generasi mudanya dengan fondasi yang jelas. Fondasi itu adalah Pancasila.
Lima sila Pancasila tidak berdiri sendiri. Semuanya merupakan satu rangkaian menuju tujuan besar yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945: masyarakat adil, makmur, dan sentosa. Ketuhanan menjadi kompas moral agar kekuasaan tidak berjalan liar. Kemanusiaan menjadi etika agar pembangunan tidak meninggalkan yang lemah. Persatuan menjadi modal sosial agar bangsa ini tidak pecah di tengah kebhinekaan. Kerakyatan menjadi mekanisme agar suara rakyat benar-benar didengar. Sedangkan keadilan menjadi tujuan akhir agar kemakmuran tidak hanya dinikmati segelintir orang.
Jika lima sila itu berjalan beriringan, maka cita-cita Indonesia yang adil dan makmur bukanlah utopia.
Namun, Pancasila tidak akan hidup hanya di atas kertas atau dihafal saat upacara. Ia harus menjelma menjadi kepribadian bangsa. Dan kepribadian bangsa lahir dari penyelarasan kepribadian setiap warga dengan nilai-nilai Pancasila. Di sinilah ujian terbesar dimulai: keteladanan para pemimpin negara dan tokoh bangsa.
Bangsa Indonesia masih memiliki budaya keteladanan yang kuat. Rakyat lebih mudah belajar dari apa yang dilihat daripada sekadar dari apa yang didengar. Karena itu, negara perlu hadir bukan hanya lewat aturan, tetapi juga melalui contoh nyata.
Sila pertama tercermin dari pengelola negara yang tidak korupsi karena takut kepada Tuhan. Sila kedua hadir melalui pelayanan publik yang tidak membedakan suku, agama, atau golongan. Sila ketiga tampak dalam kebijakan yang mengutamakan persatuan di atas kepentingan kelompok. Sila keempat hidup dalam musyawarah yang jujur, bukan arogansi kekuasaan. Sedangkan sila kelima terlihat ketika anggaran dan program benar-benar berpihak kepada rakyat kecil di desa dan wilayah 3T (tertinggal, terluar, terdepan), bukan sekadar proyek yang viral.
Yang dibutuhkan bangsa hari ini bukan negarawan dengan pidato paling indah, melainkan negarawan yang mampu menjadi contoh paling sederhana. Komitmen antara janji dan kenyataan. Apa yang diucapkan saat kampanye, itulah yang dikerjakan ketika memimpin dan menjadi wakil rakyat.
Pengabdian sering kali justru terlihat dari hal-hal kecil: datang tepat waktu saat membahas nasib rakyat, turun langsung ke pasar ketika harga kebutuhan pokok naik, atau lebih mendahulukan pembangunan sekolah di pelosok dibanding gedung megah yang hanya mengejar pencitraan. Sederhana, tetapi jika dilakukan konsisten dari tingkat pusat hingga kelurahan atau desa, rakyat akan kembali percaya bahwa Pancasila benar-benar menjadi dasar hidup berbangsa.
Ujian keteladanan itu semakin berat di era digital dan globalisasi. Dahulu keteladanan cukup terlihat di ruang-ruang birokrasi. Kini semuanya terekam kamera dan menyebar dalam hitungan detik. Generasi muda saat ini yaitu generasi Z, Alpha, dan Beta — calon penentu Indonesia Emas 2045—lebih percaya pada apa yang mereka lihat dari perilaku pemimpinnya dibanding slogan di baliho atau pidato resmi.
Di tengah banjir hoaks, individualisme, dan algoritma media sosial yang sering memecah belah, Pancasila justru semakin dibutuhkan sebagai antivirus kebangsaan. Namun antivirus hanya bekerja jika “sumbernya” bersih. Jika pengelola negara sendiri abai terhadap nilai Pancasila, jangan salahkan apabila masyarakat ikut kehilangan arah.
Lalu refleksi apa yang perlu dilakukan pada 1 Juni 2026?
Refleksi pertama harus dimulai dari para pemimpin negara dan tokoh bangsa. Kita perlu kembali merenungkan bait lagu Garuda Pancasila: “sedia berkorban untukmu.” Pengorbanan terbesar seorang negarawan hari ini bukanlah gugur di medan perang, melainkan kemampuan mengorbankan ego, nafsu kekuasaan, dan kepentingan pribadi demi kepentingan bangsa.
Refleksi kedua ditujukan kepada seluruh elemen masyarakat. Program menjaga tunas bangsa perlu benar-benar membumi, menjangkau seluruh lapisan masyarakat dari Sabang sampai Merauke, dari PAUD hingga lansia.
Perhatian besar perlu diberikan kepada generasi muda saat ini yaitu generasi Z, Alpha, dan Beta sebagai aktor penting yang turut menentukan masa depan Indonesia. Genarasi Pancasialis, profesional religius, berkarakter luhur yang siap bersaing di dunia global.
Pendidikan umum, pendidikan agama, dan pendidikan karakter berbasis pembiasaan perlu berjalan selaras. Langkah semacam ini telah dilakukan banyak organisasi kemasyarakatan, termasuk LDII melalui pembinaan Tri Sukses dan 29 Karakter Luhur untuk membentuk sumber daya manusia profesional religius yang cerdas sekaligus berakhlak mulia. Hal ini bagian dari pengabdian LDII untuk bangsa di bidang pendidikan.
Menjaga tunas bangsa demi kedaulatan negara tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Ini adalah kerja kolektif. Pemerintah membuat kebijakan, masyarakat mengawasi, pendidik membina, media mengedukasi, dan keluarga menanamkan nilai sejak dini. Namun poros utamanya tetap satu: keteladanan.
Sebagaimana lambang Garuda tersemat di dada setiap aparatur negara dan warga bangsa, demikian pula nilai-nilai Pancasila perlu hidup dalam hati mereka. Ketika para pemimpin negara dan tokoh bangsa memberikan keteladanan yang selaras dengan nilai Pancasila, masyarakat akan lebih mudah mengikuti tanpa paksaan.
Karena itu, 1 Juni 2026 tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia perlu menjadi pengingat bahwa Indonesia didirikan di atas dasar yang jelas. Tugas kita hari ini adalah memastikan dasar itu tidak retak.
Caranya mungkin sederhana: mulailah menjadi contoh.
Sebab bangsa ini akan benar-benar bangkit, adil, makmur, dan sentosa ketika para pemimpin negara dan tokoh bangsa sungguh-sungguh menjadi “pendukungmu, Garuda Pancasila.”
Thonang Effendi
- Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII
- Pemerhati kebangsaan dan pendidikan.









