Gunungkidul (1/5). DPD LDII Kabupaten Gunungkidul menggelar pembekalan dai dan daiyah bagi generasi muda, Minggu (12/4/2026). Kegiatan berlangsung di kompleks Masjid Al-Husna Kemorosari 2, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pembinaan melalui PPG yang menyasar usia dini hingga remaja. Sebanyak 20 peserta dari delapan kapanewon, yaitu Wonosari, Gedangsari, Patuk, Playen, Paliyan, Panggang, Saptosari, dan Tanjungsari, mengikuti kegiatan tersebut.
Para peserta diproyeksikan menjadi penggerak pembina generasi penerus di wilayah masing-masing, terutama dalam lingkungan keluarga dan komunitas.
Ketua DPD LDII Gunungkidul, Wahono Budi Rustanto menyampaikan kegiatan ini difokuskan pada peningkatan kapasitas calon dai dan daiyah dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Ia menilai kebutuhan pembinaan generasi saat ini memerlukan pendekatan yang terarah dan berkelanjutan.
“Kami menyiapkan kader yang mampu menjadi pendamping generasi muda, tidak hanya dari sisi keagamaan, tetapi juga dalam pembentukan karakter,” ujarnya.
Wahono menambahkan, materi pembekalan mencakup berbagai aspek, mulai dari perkembangan anak, pendidikan agama, pendidikan formal, hingga penerapan nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini dirancang agar peserta memiliki pemahaman menyeluruh dalam menjalankan peran sebagai pembina di masyarakat, “Peserta perlu memahami kondisi generasi secara utuh agar pembinaan berjalan efektif,” kata dia.
DPD LDII Gunungkidul menargetkan lahirnya dai dan daiyah yang mampu mengimplementasikan ilmu secara langsung di lingkungan masing-masing. “Kami berharap pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat memperkuat kualitas generasi muda, baik dari sisi intelektual, spiritual, maupun karakter, sehingga mampu berperan aktif dalam kehidupan masyarakat,” harapnya.
Pemateri Sunarta menekankan proses pembinaan generasi memerlukan konsistensi dan kesinambungan. Ia menyebut pembentukan karakter tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, melainkan melalui proses yang berulang dan terarah.
“Pembinaan harus dilakukan secara terus-menerus agar nilai yang diajarkan dapat tertanam dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sunarta juga menjelaskan tiga aspek utama yang perlu dimiliki generasi muda, yaitu akhlak, pemahaman agama, dan kemandirian. Menurutnya, ketiga aspek tersebut saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang siap menghadapi perubahan zaman.
“Generasi perlu memiliki keseimbangan antara pengetahuan, sikap, dan kemampuan menjalani kehidupan secara mandiri,” ucapnya.









