Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Di sepanjang sejarah manusia, selalu ada dua jalan yang terbentang jelas: jalan menyembah Allah Yang Esa, dan jalan tunduk kepada selain-Nya—entah itu berhala, kekuasaan, atau manusia yang diagungkan seperti tuhan. Jalan pertama tampak sederhana, namun penuh kemuliaan. Jalan kedua tampak megah, namun sejatinya rapuh dan menyesatkan.
Ambillah pelajaran dari kisah Fir’aun. Ia berdiri di hadapan kaumnya dengan kesombongan yang memuncak, sambil berkata:
أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24)
Ucapan ini bukan sekadar kesalahan, tapi puncak dari kesesatan. Fir’aun ingin disembah, ingin diagungkan, ingin manusia menundukkan hati mereka kepadanya. Namun lihatlah akhir dari “kehebatan” itu: ia tenggelam, tak berdaya, di hadapan kekuasaan Allah. Semua kemegahannya runtuh dalam sekejap. Inilah hakikat menyembah selain Allah—ia tampak kuat, tapi sejatinya lemah.
Bandingkan dengan seorang hamba yang hanya menyembah Allah. Ia mungkin tidak memiliki istana, tidak dipuji manusia, namun ia memiliki sesuatu yang jauh lebih tinggi: hubungan langsung dengan Rabb semesta alam. Ia tidak perlu perantara, tidak perlu tunduk kepada makhluk. Sujudnya hanya untuk Allah, dan itulah kemuliaan sejati. Allah berfirman:
قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ
“Katakanlah: Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu?” (QS. Al-An’am: 164)
Menyembah berhala, pada hakikatnya, adalah menyembah sesuatu yang tidak mampu memberi manfaat maupun mudarat. Batu, patung, atau simbol—semua itu tidak mendengar, tidak melihat, tidak mampu menolong. Allah menggambarkan betapa lemahnya berhala:
إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ
“Sesungguhnya segala yang kamu sembah selain Allah tidak akan mampu menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk itu.” (QS. Al-Hajj: 73)
Maka, mana yang lebih “keren”? Menyembah sesuatu yang bahkan tak mampu menciptakan seekor lalat, atau menyembah Dzat yang menciptakan langit dan bumi?
Lebih dalam lagi, menyembah selain Allah membuat manusia kehilangan jati dirinya. Ia menjadi budak dari apa yang ia sembah. Jika ia menyembah harta, ia akan diperbudak oleh kerakusan. Jika ia menyembah kekuasaan, ia akan diperbudak oleh ambisi. Jika ia menyembah manusia, ia akan hidup dalam ketakutan kehilangan ridha mereka. Namun orang yang menyembah Allah—ia bebas. Rasulullah ﷺ bersabda: “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian…” (HR. Bukhari)
Hadits ini menggambarkan bahwa siapa pun yang menggantungkan hidupnya pada selain Allah, ia sejatinya adalah hamba dari hal tersebut. Ia tidak merdeka. Ia terikat, gelisah, dan rapuh.
Sebaliknya, tauhid menjadikan manusia kuat. Ia hanya takut kepada Allah, sehingga ia tidak takut kepada selain-Nya. Ia hanya berharap kepada Allah, sehingga ia tidak bergantung kepada makhluk. Inilah kekuatan yang tidak terlihat, tetapi sangat nyata.
Lihatlah para nabi dan orang-orang saleh. Mereka berdiri teguh di hadapan raja-raja zalim, tidak gentar, karena mereka hanya tunduk kepada Allah. Nabi Musa berdiri di hadapan Fir’aun tanpa rasa takut, karena hatinya penuh dengan tauhid. Ketika manusia lain gemetar di hadapan kekuasaan, seorang yang bertauhid justru berdiri dengan kepala tegak. Allah berfirman:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا
“Orang-orang yang ketika dikatakan kepada mereka: ‘Manusia telah berkumpul untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka,’ justru hal itu menambah keimanan mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 173)
Inilah “keren” yang sejati: keberanian yang lahir dari iman, ketenangan yang lahir dari tauhid, dan kemerdekaan yang lahir dari hanya menyembah Allah.
Akhirnya, menyembah Allah Yang Esa bukan sekadar pilihan ibadah, tetapi pilihan identitas. Apakah kita ingin menjadi hamba dari sesuatu yang lemah dan fana, atau menjadi hamba dari Dzat Yang Maha Kuat dan Maha Kekal?
Di tengah dunia yang sering mengagungkan yang palsu, menjadi hamba Allah adalah bentuk kemuliaan yang paling autentik. Ia tidak membutuhkan pengakuan manusia, karena ia telah dikenal oleh langit. Ia tidak mencari pujian dunia, karena ia mengejar ridha langit, dimana Allah bersemayam.
Dan sungguh, dibandingkan dengan menyembah berhala atau tunduk kepada “Fir’aun-Fir’aun” zaman ini, menyembah Allah Yang Esa adalah puncak keindahan, puncak kekuatan, dan puncak “keren” yang sesungguhnya.









