Oleh Dewan Penasehat DPP LDII KH Jerry Quary
Menjadi seorang muslim bukan sekadar mengikrarkan dua kalimat syahadat. Ada kewajiban yang harus dijaga sepanjang hayat, yaitu menetapi agama Islam beserta seluruh syariatnya. Karena itu, setiap muslim hendaknya tidak hanya mengaku beriman, tetapi juga membuktikannya melalui ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT.
Syariat Islam merupakan prinsip hidup yang harus dipegang teguh. Kewajiban menjalankan agama tidak berhenti pada pengakuan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Allah SWT telah menyempurnakan agama Islam sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 3. Landasan utama dalam menetapi agama juga tercermin melalui lima perkara, yakni syahadat, salat, zakat, puasa Ramadan, dan haji bagi yang mampu. Setiap muslim perlu memahami dan menjalankan kewajiban tersebut sesuai ketentuan syariat.
Namun, keinginan beribadah saja belum cukup. Seorang muslim harus memiliki ilmu agar mengetahui tata cara ibadah yang benar. Al-Qur’an dan Hadis menjadi pedoman dalam menjalankan setiap amalan. Karena itu, jangan pernah merasa cukup dengan pengetahuan agama yang dimiliki. Teruslah mengaji, belajar, dan memperdalam pemahaman agar ibadah tidak dilakukan sekadar mengikuti kebiasaan.
Selain ketepatan tata cara, niat juga harus senantiasa dijaga. Jangan sampai kegiatan yang seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah justru bergeser menjadi ajang mencari perhatian manusia. Ketika berada di depan Ka’bah, misalnya, seseorang lebih sibuk berswafoto daripada menghayati tujuan ibadah. Begitu pula saat wukuf di Arafah atau melempar jumrah. Jangan menganggap setiap aktivitas yang tampak sebagai ibadah otomatis benar apabila tidak sesuai tuntunan dan niatnya.
Kewajiban beribadah tidak mengenal batas usia maupun masa pensiun. Selama hayat masih dikandung badan, seorang muslim tetap berkewajiban menghambakan diri kepada Allah SWT. Jangan menunggu tua untuk memperbaiki ibadah. Jangan menunggu sakit untuk menyadari pentingnya kesehatan. Jangan pula menunggu kehilangan kesempatan untuk mulai memperbanyak amal saleh.
Umur, kesehatan, dan kesempatan merupakan nikmat yang harus disyukuri melalui ketaatan. Semua itu tidak berlangsung selamanya dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, manfaatkan setiap kesempatan untuk berbuat baik. Jangan sampai penyesalan datang ketika waktu untuk beramal telah berakhir.
Menetapi agama juga membutuhkan kedisiplinan. Seperti prajurit yang menjalankan tugas berdasarkan aturan dan jadwal, seorang muslim perlu membiasakan diri menaati ketentuan agama. Bagi santri, kedisiplinan menaati peraturan pondok merupakan bagian dari ikhtiar meraih keberhasilan, kelulusan, dan keberkahan ilmu. Jangan membiasakan diri meremehkan aturan, karena keberhasilan membutuhkan kesungguhan dan konsistensi.
Pada akhirnya, menjadi muslim berarti memiliki komitmen untuk terus belajar, beribadah, dan memperbaiki diri. Jangan hanya mengejar kesibukan dunia hingga melupakan kewajiban kepada Allah SWT. Pegang teguh syariat, luruskan niat, benarkan tata cara ibadah, dan manfaatkan umur untuk memperbanyak amal saleh. Sebab, kewajiban seorang muslim bukan hanya mengaku beragama Islam, melainkan menetapinya dengan sungguh-sungguh sepanjang kehidupan.











