Nganjuk (24/9). Polda Jatim mengajak santri Al Ubaidah untuk menyaring informasi untuk menjaga persatuan bangsa di era derasnya arus informasi. Ajakan tersebut disampaikan Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Jawa Timur, Kombes Pol Darman, saat memberikan pembekalan kepada ribuan santri yang sedang mengikuti diklat dan ujian calon mubaligh mubalighoh, di Pondok Pesantren Al Ubaidah, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur pada Kamis (17/9/2026).
“Era digital menuntut calon pendakwah memiliki bekal keagamaan yang tinggi, sekaligus keluasan wawasan dan kemampuan menyaring informasi. Pendakwah dalam menghadapi perkembangan informasi, harus tetap bisa menjaga kerukunan, dan memperkuat persatuan serta kesatuan bangsa di tengah keberagaman masyarakat Indonesia,” jelasnya.
Darman berpesan agar calon pendakwah menjadi pribadi yang kuat dalam akidah, luas dalam wawasan, santun dalam berdakwah, dan mampu hadir untuk memberikan kemaslahatan bagi masyarakat. Ia juga menjelaskan terdapat korelasi antara tugas Binmas dengan peran pendakwah.
“Meskipun memiliki bidang peran yang berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni membangun masyarakat yang harmonis dan menjaga ketertiban kehidupan bersama,” ujar Darman.
Ia menjelaskan Binmas berperan membina masyarakat, membangun komunikasi, mencegah gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), melakukan deteksi dini, problem solving, serta membangun kemitraan dengan masyarakat.
“Sementara pendakwah atau mubaligh dan mubalighoh memiliki peran membina umat, membangun silaturahim, mencegah perilaku menyimpang, meningkatkan kepekaan sosial, memberikan nasihat, dan menumbuhkan semangat gotong royong,” jelasnya.
Darman juga menekankan pentingnya kemampuan calon pendakwah dalam menyaring derasnya informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, pendakwah harus mampu menerima informasi dengan baik sebelum menyampaikannya kepada masyarakat. Informasi yang diterima perlu dijernihkan dan dipastikan kebenarannya sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun persoalan di tengah masyarakat.
“Kami mengajak generasi calon pendakwah agar dapat mengambil bagian dalam mempersiapkan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membangun kekuatan akidah sekaligus memperluas wawasan kebangsaan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa upaya merawat kebinekaan tidak cukup hanya disampaikan melalui ceramah. Menurutnya nilai tersebut perlu diwujudkan melalui keteladanan serta kemampuan menciptakan suasana damai di tengah masyarakat.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ubaidah, Habib Ubaidillah Al Hasany, menegaskan pembentukan karakter santri untuk mencintai agama dan bangsa merupakan amanat yang harus dijaga oleh generasi penerus pondok. Menurutnya, kecintaan terhadap agama dan bangsa Indonesia tidak boleh dipisahkan. Kecintaan kepada agama diwujudkan dengan menata ibadah secara tekun, tertib, dan benar.

“Sementara kecintaan kepada bangsa diwujudkan dengan menjaga kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat Indonesia yang terdiri atas berbagai agama dan latar belakang. Nilai tersebut merupakan amanat para pendiri pondok yang perlu diteruskan oleh setiap generasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan melalui pembekalan wawasan kebangsaan tersebut, Ponpes Al Ubaidah berharap calon pendakwah mampu mengambil peran dalam menjaga keharmonisan masyarakat, di tengah perkembangan informasi dan keberagaman bangsa.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch. Amrodji Konawi, menyampaikan bahwa bekal ilmu Al Quran dan Hadis yang diperoleh para santri, harus disampaikan dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk. Menurutnya, pendakwah perlu dilakukan secara sejuk tanpa menjatuhkan pihak lain.
“Dengan pendekatan tersebut, moderasi beragama, toleransi, serta persatuan dan kesatuan dapat terus terjaga. Tugas kita adalah mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Di saat yang sama, kita memiliki tanggung jawab menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” tegasnya,










