Karanganyar (10/9). Santri SMP dan SMA Al Amaanah naungan LDII Karanganyar membersihkan lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes). Acara berlangsung di lingkungan sekitar Ponpes Al Amaanah Boarding School, Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu, (8/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Kerja Bakti Nasional 2026 untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kerja Bakti Nasional merupakan program tahunan DPP LDII, yang bertajuk Kerja Bersama, Bakti untuk Negeri. Pelaksanaan di Karanganyar melibatkan Forkopimcam Tasikmadu dalam kegiatan kebersihan lingkungan.
Ketua Pondok Pesantren Al Amaanah Didik Joko Bakdono mengatakan kegiatan kerja bakti menjadi bagian dari pembentukan karakter santri. Para santri dilibatkan dalam kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan dan kehidupan sosial. “Santri Pondok Pesantren Al Amaanah ini ramah lingkungan. Anak-anak dididik dan dibentuk karakternya agar kelak dapat memberikan kontribusi kepada pemerintah dan menjadi pemimpin bangsa,” ujar Didik.
Menurut Didik, kepedulian terhadap lingkungan perlu dibiasakan sejak berada di pesantren. Kegiatan kerja bakti menjadi salah satu sarana bagi santri untuk belajar menjaga lingkungan bersama. “Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pengurus atau petugas kebersihan. Santri juga memiliki tanggung jawab terhadap kebersihan tempat belajar dan tempat tinggal mereka,” katanya.
Perwakilan Forkopimcam Tasikmadu Serka Joko Haliyanto memberikan pesan kepada para santri dalam kegiatan tersebut. Ia meminta santri menjaga kedisiplinan dan menggunakan waktu untuk belajar. “Saya titip kepada anak-anak semua agar disiplin, rajin bekerja, rajin belajar, dan menghormati orang tua. Jangan sampai malas belajar,” kata Joko.
Joko juga mengingatkan santri untuk menyaring informasi dari media sosial. Ia meminta mereka memeriksa informasi sebelum menyebarkannya kepada orang lain. “Kalau menerima berita di media sosial, kita saring dan kita amati. Cari tahu dulu sebelum membagikan. Jangan langsung menge-share informasi yang belum jelas,” ujarnya.
Ia menyebut informasi palsu dapat memicu keresahan di masyarakat. Joko meminta para santri tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial. “Anak-anak masih muda. Jangan mudah terprovokasi. Gunakan media sosial dengan bijak dan pastikan informasi yang diterima sudah diperiksa,” katanya.











