Sleman (18/8). Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), masuk dalam 32 nominasi ProKlim Lestari 2026. Kampung yang sebelumnya meraih ProKlim Utama tingkat nasional tersebut kini berpeluang menjadi lokasi pertama di DIY yang meraih predikat ProKlim Lestari.
Berdasarkan surat dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), terdapat 32 usulan lokasi penerima trofi dan sertifikat ProKlim Lestari 2026, terdiri atas enam lokasi dari DKI Jakarta dan 26 lokasi dari luar DKI Jakarta. Padukuhan Sangurejo tercatat dengan jadwal verifikasi pada 20–21 Agustus 2026.
Pembina ProKlim Sangurejo, Agus Kurniawan, mengatakan proses menuju ProKlim Lestari merupakan puncak dari perjalanan panjang masyarakat dan berbagai pihak yang selama ini bersama-sama mengembangkan program lingkungan di Sangurejo. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini mengajak seluruh penggiat ProKlim memaksimalkan potensi yang telah dibangun agar Sangurejo dapat mencatat sejarah sebagai ProKlim Lestari pertama di DIY.
“Alhamdulillah, tahun ini kami mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan ProKlim Lestari yang insya Allah menjadi yang pertama di DIY, pertama di Sleman. Ini capaian puncak dari amal saleh kami dalam mengembangkan Program Kampung Iklim setelah melewati banyak kegiatan selama ini,” ujar Agus.
Menurut Agus, persiapan menuju verifikasi dilakukan secara gotong-royong dengan memelihara berbagai potensi, keanekaragaman hayati lokal (indigenous species) dan praktik baik yang telah berjalan di Sangurejo. Mulai dari penyiapan administrasi, materi presentasi, pameran, tata lokasi hingga berbagai titik kunjungan, seluruh unsur senantiasa mengambil peran sesuai kapasitas para pihak.
Mitra Binaan Pak Kumis
Salah satu kekuatan Sangurejo dalam proses menuju ProKlim Lestari adalah jejaring kemitraan yang terus dikembangkan. Dalam ketentuan nominasi ProKlim Lestari, salah satu persyaratan yang harus dipenuhi adalah memiliki sedikitnya 10 lokasi mitra binaan, sementara Sangurejo telah memiliki 12 lokasi mitra binaan berdasarkan Surat Keputusan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman.
Ke-12 lokasi tersebut antara lain Padukuhan Kuwang, Gondangan, Banjeng, Nganggring, Parakan Kulon, Kranggan II, Sedogan, Dayakan, Koroulon Lor, Kloposawit, Krasaan, Sindon, dan Plosorejo. Keberadaan mitra binaan tersebut menunjukkan bahwa gerakan ProKlim di Sangurejo tidak berhenti pada satu kawasan, tetapi turut mendorong pengembangan praktik adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di wilayah lain.
Semangat kolaborasi tersebut menjadi fondasi perjalanan ProKlim Sangurejo sejak awal. Sangurejo sebelumnya dikenal sebagai wilayah Pak Kumis yang padat, kumuh, dan miskin, tetapi secara bertahap bertransformasi melalui gerakan warga, amal shaleh pengelolaan lingkungan, pengembangan desa wisata, konservasi air, hingga penguatan berbagai kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Sangurejo Membangun Jejaring
Sementara itu, menurut Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Atus Syahbudin, kekuatan Sangurejo bukan hanya terletak pada banyaknya program lingkungan, melainkan juga pada kemampuan masyarakat membangun jejaring dengan berbagai pihak. Pendampingan dilakukan bersama pemerintah dan Dinas Lingkungan Hidup, sementara unsur akademisi, peneliti, organisasi kemasyarakatan, keagamaan, hingga komunitas turut memberikan dukungan berbasis pengetahuan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat.
“Ini bukan pekerjaan satu orang. Kami punya banyak potensi dan banyak pihak yang selama ini sudah bergerak. Sekarang energi dan semangat itu harus kami satukan untuk menghadapi verifikasi ini. Valuasi keanekaragaman hayati dan sosial Kampung Sangurejo sudah semakin menjulang,” kata Atus yang juga Dosen Program Studi Profesi Kurator Keanekaragaman Hayati (PKKH) di Fakultas Biologi UGM.
Kolaborasi di bidang akademik juga menjadi bagian penting dalam pengembangan ProKlim Sangurejo. Sejumlah perguruan tinggi terlibat dalam berbagai bentuk pendampingan, pengembangan pengetahuan, penelitian, maupun penguatan kapasitas masyarakat. Di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (Stipram), Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Institut Pertanian Stiper Yogyakarta (Instiper), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia (UII), serta sejumlah perguruan tinggi lainnya.
Sejak tahap perintisan sekitar 2021-2022, Sangurejo memulai menjalankan Program Kampung Iklim bersama Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN) dalam bingkai Kampung Pramuka binaan Kwarda DIY. Hingga akhirnya meraih Trofi ProKlim Utama tingkat nasional pada 2024 dan kemudian terus berproses menuju kategori Lestari.
Kolaborasi melibatkan pula Fakultas Kehutanan UGM, Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Jawa, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta berbagai unsur Gerakan Pramuka seperti Saka Wanabakti, Saka Kalpataru, Saka Pariwisata, dan Saka Bahari. Jejaring tersebut memperkuat kegiatan penelitian, pemberdayaan masyarakat melalui KKN dan penanaman pohon, pengolahan sampah, konservasi tanah dan air, hingga pengembangan potensi kawasan sekitar Embung Kaliaji.
Ecoprint dari Limbah Kulit Salak
Pengembangan ecoprint yang memanfaatkan limbah kulit salak menjadi salah satu pemberdayaan masyarakat yang menonjol. Pelatihan ecoprint memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi, sekaligus menjadi bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim. Pada awalnya, kegiatan tersebut turut melibatkan Asosiasi Eco-printer Indonesia (AEPI) DIY dan Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DIY.
Karya ecoprint Sangurejo yang dikenal sebagai ECSA (Ecoprint & Craft Sangurejo) kini telah menjadi koleksi Hortus Botanicus Leiden Belanda dan mengikuti berbagai ajang pameran tingkat nasional.
Pengelolaan sampah juga menjadi bagian penting dari gerakan lingkungan Sangurejo. LDII DIY turut mendampingi penguatan pengelolaan sampah melalui gerakan Kyai Peduli Sampah, Sampah Jadi Jariyah, Jugangan in Omah (Jugangin Om) serta pendekatan Dai ProKlim. Berbagai inisiasi dan pelatihan tersebut sebelumnya dikembangkan bersama Komisi Dakwah MUI DIY, Kanwil Kemenag DIY dan P3E Jawa di Kampung ProKlim Sangurejo pada tahun 2023.
Ekoteologi Sangurejo
Kolaborasi bersama ormas keagamaan dan masyarakat menjadi ciri khas pengembangan ProKlim Sangurejo. Pendekatan lingkungan tidak hanya dilakukan melalui kegiatan teknis, tetapi juga melalui edukasi dan penguatan kesadaran warga bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
Dakwah ekologi tersebut merupakan upaya menjaga dan memulihkan lingkungan yang mengintegrasikan nilai agama dengan aksi nyata. Berlandaskan fikih lingkungan (al-bi’ah), amanah, mizan (keseimbangan), dan larangan fasad (kerusakan), konsep ini memandang krisis ekologis sebagai persoalan moral sekaligus spiritual.
Implementasinya melalui dakwah bil hal, seperti edukasi lingkungan, penanaman pohon, rehabilitasi lahan, pengelolaan sampah, dan konservasi air, sehingga kepedulian terhadap alam menjadi bagian dari praktik keagamaan dan tanggung jawab bersama. Dari kesadaran ini, Sangurejo telah menginspirasi minimal 2 buku Gerakan Green Islam di Indonesia (UIN Jakarta) dan Dakwah Ekologi: Fikih Lingkungan (Al-Bi’ah) untuk Keberlanjutan Peradaban (Istana Agency Yogyakarta).
Jejak Sinergi Berbagai Pihak
Ketua ProKlim Sangurejo, M. Chairul Huda, saat itu menyebut capaian ProKlim Utama pada tahun 2024 merupakan hasil kerja sama warga dengan pemerintah setempat, mulai dari pemerintah kalurahan, kapanewon, hingga pemerintah kabupaten melalui Dinas Lingkungan Hidup. Sangurejo juga telah menerima penghargaan sebagai Padukuhan Tangguh Iklim tingkat Provinsi DIY. Capaian tersebut memperkuat rekam jejak Sangurejo sebagai kampung yang mengembangkan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat secara berkelanjutan.
Keberhasilan Sangurejo menjadi ProKlim Lestari nantinya tidak hanya menjadi capaian sebuah padukuhan, tetapi juga buah dari sinergi berbagai pihak. Menurut dia, jejaring akademik, pemerintah, komunitas, organisasi keagamaan, masyarakat, serta mitra binaan menjadi modal penting dalam memperluas dampak gerakan lingkungan.
Karena itu, ia berharap momentum verifikasi dapat menjadi kesempatan bagi seluruh unsur yang selama ini terlibat untuk menunjukkan praktik baik Sangurejo secara maksimal. Bagi Sangurejo, capaian ProKlim Lestari bukan semata-mata tentang penghargaan, tetapi juga keberlanjutan gerakan lingkungan bersama masyarakat yang berasaskan ekoteologi dapat kemudian direplikasi sebagai amal jariah di berbagai wilayah.
Kini, verifikasi ProKlim Lestari menjadi tahap penting berikutnya. Bagi Sangurejo, kesempatan tersebut menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa transformasi lingkungan dapat lahir dari gotong-royong masyarakat dan sinergi lintas sektor, sekaligus memperluas manfaatnya melalui jejaring mitra binaan.
“Amal saleh ini mari kita perjuangkan bersama. Semua potensi yang ada di kita dan yang sudah pernah kita lakukan mari kita tampilkan semaksimal mungkin. Insya Allah ini menjadi kebanggaan kita semua dan menjadi momentum untuk terus mengembangkan gerakan lingkungan di tingkat DIY maupun nasional,” ujar Huda.










