Jalan menuju Pancado tak selalu mudah. Bagi warga LDII Kawadang, mencari ilmu tetap layak diperjuangkan.
Sepeda motor itu tidak lagi bisa melaju. Di tepian pantai, setelah perjalanan pulang dari pengajian di Pancado, La Ode Wajidul Ahmad dan beberapa warga LDII dari Desa Kawadang harus turun dari kendaraan. Jalan yang mereka lewati tidak cukup bersahabat untuk dilalui, bahkan dengan sepeda motor sekalipun.
Mereka tidak punya banyak pilihan. Motor itu harus diangkat bersama-sama, “Kami bahkan harus bergotong royong mengangkat motor di tepian pantai untuk melewati jalan tersebut,” ujar La Ode.
Hari itu, Minggu, 17 Mei 2026, mereka baru saja meninggalkan Masjid Al-Muflihun, Maluli, Kecamatan Taliabu Selatan, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara. Pengajian telah selesai, tetapi bagi warga Kawadang, selesai mengaji bukan berarti perjalanan selesai. Mereka masih harus pulang dengan perjalanan yang sangat menantang. Di sinilah petualangan berpeluh dimulai lagi.
Rumah mereka berjarak sekitar 21 kilometer dari Pancado. Dengan sepeda motor, perjalanan bisa memakan waktu hingga tiga jam—bukan karena padatnya kendaraan seperti di Ibu Kota, melainkan karena medan yang harus dilalui.
Sebagian besar jalur belum beraspal. Hutan lebat membentang di antara kampung. Sungai harus diseberangi dengan rakit atau jembatan sederhana. Jika laut sedang bersahabat, tepian pantai menjadi jalur lain yang dapat dilalui, “Jalan beraspal hanya ada di sekitar lokasi masjid saja. Sedangkan perjalanan dari Kawadang menuju ke sana belum beraspal, bahkan sebagian belum tersentuh akses jalan yang layak,” kata La Ode.
Ada waktu ketika perjalanan bisa lebih mudah. Ada pula waktu ketika satu-satunya pilihan adalah menunggu, “Saat ombak tidak besar, bisa dilewati jalur laut. Namun mulai awal bulan Juli dan seterusnya ombak sangat besar sehingga jalur laut tertutup rapat,” ujarnya.
Begitulah perjalanan antara Kawadang dan Pancado: jaraknya bisa dihitung, tetapi waktunya tidak selalu bisa ditebak. Hujan dapat mengubah jalan menjadi licin. Sungai yang pagi tadi masih dapat diseberangi bisa berubah menjadi arus yang memaksa orang memutar arah. Laut pun memiliki waktunya sendiri untuk membuka dan menutup jalur. Namun, di tengah keadaan seperti itu, pengajian tetap berjalan, bukan karena jalannya tiba-tiba menjadi mudah.
Ada orang-orang yang memang memilih untuk tetap menempuhnya. Salah satunya Usman Rauf. Kurang lebih sepuluh tahun Usman aktif mengikuti dan mengisi kegiatan pengajian di Pancado. Sesekali, ia juga datang ke Kawadang untuk memberikan nasihat atau menyampaikan materi bulanan ketika perwakilan wilayah tersebut berhalangan hadir. Materi tersebut berasal dari bahan yang disusun oleh pengurus DPD LDII Kabupaten Pulau Taliabu, kemudian diteruskan melalui kegiatan pengajian di masing-masing wilayah.

Di atas kertas, tugasnya sederhana: menyampaikan materi. Tetapi untuk sampai ke tempat materi itu disampaikan, Usman harus menempuh jalan yang sama yang dilewati warga Kawadang—jalan yang tidak selalu ramah kepada siapa pun yang melaluinya.
Ia pernah mengalaminya ketika hujan deras membuat sungai meluap. Rakit yang digunakan untuk menyeberang bahkan hanyut terbawa arus bersama sepeda motor, “Ketika itu saya melihat saudara-saudara yang belum sempat menyeberang, saya arahkan agar kembali saja ke Kawadang. Tinggal saya dan Penasihat PAC LDII Kawadang yang berhasil menyeberang dan melanjutkan perjalanan menuju lokasi pengajian di Kecamatan Pancado,” kata Usman.
Pernah pula mereka tidak bisa menyeberang sama sekali karena air terlalu tinggi. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Mereka kembali ke kampung terdekat dan bermalam satu malam. Esok harinya, ketika arus mulai reda, mereka kembali ke sungai, “Meski harus menunda satu hari dari jadwal yang ditentukan, alhamdulillah tetap terlaksana,” ujarnya.
Ada satu perjalanan yang bahkan lebih sulit dilupakan, “Saat dalam perjalanan ke Pancado, ada sungai yang sedang banjir. Di sana ada seorang pengurus PC LDII Pancado yang mencoba menerobos, namun ia dan motornya hanyut sampai hampir ke laut,” kenang Usman.
Orang-orang yang berada di sekitar sungai tidak sempat banyak berpikir. Mereka bergerak. Usman dan beberapa orang lainnya berenang menembus arus untuk menyelamatkan warga tersebut, “Akhirnya kami yang ada di lokasi segera beramai-ramai berenang menembus arus untuk menyelamatkan beliau,” lanjutnya.
Mungkin tidak ada yang merencanakan bahwa perjalanan menuju pengajian hari itu akan berakhir dengan berenang melawan arus untuk menyelamatkan seseorang. Tetapi begitulah jalan yang mereka kenal, tidak pernah tahu apa yang akan ditemui di depan.
“Saya tetap semangat meskipun harus menempuh medan yang begitu sulit, karena ini adalah tanggung jawab, kewajiban yang harus dikerjakan dan salah satu bentuk ibadah,” katanya.
Ia tidak ingin perjuangan itu berhenti pada dirinya, “Saya ingin memberi motivasi dan contoh bagi generasi muda, agar mau melanjutkan estafet pembinaan pengajian ini,” ujarnya.

Dalam menjalankan amanahnya, Usman berpegang pada firman Allah dalam QS. Muhammad ayat 7, “In tansurullaha yansurkum wa yutsabbit aqdamakum”—“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” Ayat itu menjadi salah satu pijakan baginya untuk tetap melangkah, meski medan yang ditempuh tidak selalu mudah.
Warga LDII di Kawadang pun, menurut Usman, tetap menunjukkan antusiasme. Mereka mengikuti pengajian baik di Pancado maupun di wilayah masing-masing, “Harapan saya agar para warga LDII yang mendengarkan bisa termotivasi dengan nasihat agama yang disampaikan, sehingga mau mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dan mendapatkan pahala yang berlimpah dari setiap amalan yang mereka kerjakan,” katanya.
Kepada generasi muda dan para mubaligh yang kelak mengisi pengajian di daerah dengan keterbatasan akses, Usman mengingat sebuah nasihat dari seorang ulama, “Kalau beli sapi pasti akan dapat talinya, tetapi kalau beli tali belum tentu dapat sapinya,” ungkapnya.
Sederhana, tetapi arah pesannya jelas. Jika akhirat sungguh-sungguh menjadi tujuan, dunia pun insyaallah mengikuti. Namun, jika yang dikejar hanya dunia, belum tentu akhirat ikut didapat.
Mungkin itulah yang menjadi pegangan La Ode, Usman, dan warga LDII di Kawadang. Mereka tahu perjalanan itu melelahkan. Hujan bisa turun, sungai bisa meluap, dan jalan bisa membuat mereka terlambat sampai. Namun, selama pengajian masih menjadi tempat untuk mencari ilmu, mereka tetap berangkat.
Mereka menempuh sungai, hutan, pantai, dan jalan yang panjang untuk mencari ilmu. Bagi mereka, jarak dan medan hanyalah bagian dari perjalanan. Sebab ada hal yang ingin mereka bawa pulang dari setiap perjalanan itu: ilmu yang dapat diamalkan dan menjadi bekal untuk kehidupan yang lebih kekal.











