Yogyakarta (8/7). Dua wilayah yang menjadi pendampingan DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menerima penghargaan Program Kampung Iklim (ProKlim) pada puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Kegiatan bertema “Act Now for Climate, Saatnya Bekerja untuk Iklim” ini diselenggarakan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X yang membacakan sambutan Gubernur DIY menyampaikan bahwa dunia saat ini menghadapi Triple Planetary Crisis, yakni perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan degradasi keanekaragaman hayati.
“United Nations Environment Programme (UNEP) mengingatkan bahwa dunia sedang menghadapi Triple Planetary Crisis. Karena itu, kerja iklim tidak dapat dilakukan secara parsial. Kita harus bergerak bersama, dari pemerintah hingga masyarakat,” ujar Sri Paduka di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Kamis (18/6).
Menurutnya, tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” merupakan ajakan untuk mengubah kepedulian menjadi berbagai langkah sederhana, seperti pengurangan sampah, penanaman pohon, penghematan energi, dan penguatan budaya hidup bersih di lingkungan masyarakat.
Dalam momentum tersebut, LDII DIY turut menunjukkan kontribusinya melalui pendampingan dan penguatan Program Kampung Iklim di sejumlah wilayah. Dua kampung yang selama ini mendapatkan dukungan dan pendampingan LDII DIY memperoleh penghargaan dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan tersebut dihadiri berbagai unsur pemerintah, komunitas, dunia usaha, akademisi, serta pegiat lingkungan. Pada kesempatan itu, Pemda DIY juga memberikan apresiasi kepada berbagai pihak yang berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan melalui Program Kampung Iklim (ProKlim), Padukuhan Tangguh Iklim, Kalpataru, dan PROPER.
Pada kesempatan tersebut, Padukuhan Kembang, Kalurahan Pendoworejo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo yang diwakili Samidi menerima Sertifikat ProKlim Utama Tahun 2025. Sementara Ketua Kampung ProKlim Sangurejo, M. Chairul Huda, menerima penghargaan sebagai bagian dari persiapan menuju kategori ProKlim Lestari tingkat nasional pada 2026. Penghargaan diserahkan langsung oleh Sri Paduka.
Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, mengatakan pengembangan Kampung ProKlim sejalan dengan komitmen LDII dalam membangun budaya peduli lingkungan berbasis masyarakat. Menurutnya, upaya menjaga lingkungan harus dimulai dari lingkungan terkecil dan dilakukan secara berkelanjutan.
“Kampung ProKlim menjadi contoh bahwa masyarakat memiliki peran besar dalam menjaga lingkungan. Ketika warga terlibat aktif dalam pengelolaan sampah, penghijauan, konservasi air, dan mitigasi perubahan iklim, maka manfaatnya akan dirasakan secara langsung oleh masyarakat itu sendiri,” ujarnya.
Atus menambahkan, LDII DIY selama ini terus mendorong berbagai program lingkungan, termasuk melalui gerakan Kyai Peduli Sampah dan Sampah Jadi Jariyah. Program tersebut bertujuan membangun kesadaran masyarakat agar mampu mengelola sampah dari sumbernya sekaligus menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari budaya hidup sehari-hari.
Ia menegaskan, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan secara individual, tetapi memerlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat agar tercipta lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
“Menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan kualitas kehidupan generasi mendatang. Karena itu mari bersama-sama menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai budaya dan amal jariyah yang terus memberikan manfaat,” pungkas Atus.









