Jakarta (11/5). Kasus hantavirus yang belakangan kembali menjadi perhatian dunia mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Namun masyarakat diminta tetap tenang dan tidak panik dalam menyikapinya.
Epidemiolog dari Griffith University Australia yang juga menjadi Ketua DPP LDII, Dicky Budiman menjelaskan hantavirus bukan penyakit baru dan telah lama dikenal dalam dunia kesehatan global, “Hantavirus pertama kali ditemukan tahun 1976 di Korea Selatan, di sekitar Sungai Hantan. Virus ini ditemukan pada tikus sawah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hantavirus merupakan penyakit zoonosis dengan reservoir utama hewan pengerat seperti tikus liar. Penularan kepada manusia paling sering terjadi melalui paparan lingkungan yang terkontaminasi urin, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi.
“Yang perlu dipahami, hantavirus itu terutama bukan menyebar dari manusia ke manusia, tetapi dari lingkungan yang terkontaminasi tikus yang terinfeksi,” jelasnya.
Menurutnya, berbeda dengan COVID-19, penularan hantavirus tidak mudah terjadi antar manusia. Hingga kini, penularan antarmanusia hanya ditemukan secara terbatas pada jenis Andes virus dalam kontak sangat dekat.
Karena itu, risiko hantavirus menjadi pandemi global seperti COVID-19 dinilai sangat kecil, “Reservoir utamanya tetap tikus, bukan manusia. Penularan antarmanusia juga sangat terbatas dan tidak memiliki efisiensi transmisi seperti SARS-CoV-2 atau influenza,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat tetap perlu waspada karena Indonesia memiliki sejumlah faktor risiko ekologis, seperti populasi tikus yang tinggi, banjir musiman, sanitasi perkotaan, serta kepadatan pelabuhan dan pergudangan.
Selain itu, perubahan iklim, urbanisasi cepat, dan kerusakan lingkungan juga meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit zoonosis, “Ancaman terbesar abad ini mungkin bukan hanya satu virus tertentu, tetapi hubungan manusia dengan alam yang semakin tidak sehat,” ujarnya.
Pada kasus berat, hantavirus dapat menyebabkan gangguan paru akut, penurunan oksigen drastis, hingga syok. Fatalitas kasus berat dapat mencapai 40 persen terutama jika diagnosis terlambat dan fasilitas perawatan intensif terbatas.
Namun untuk masyarakat umum di Indonesia, ia menilai tingkat risikonya saat ini masih sangat rendah, “Bukan nol, tetapi sangat rendah. Karena ini bukan penyakit baru dan juga tidak berpotensi menjadi pandemi,” katanya.
Ia juga menyoroti munculnya sikap skeptis masyarakat terhadap isu wabah setelah pandemi COVID-19. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi trauma sosial, banjir informasi di media sosial, hoaks, hingga politisasi isu kesehatan.
“Dalam epidemiologi, ketidakpastian ilmiah pada fase awal outbreak itu normal. Karena itu masyarakat perlu tetap kritis, tetapi juga tetap berbasis sains,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, ia mengajak warga LDII membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan rumah, tempat ibadah, pondok, maupun tempat kerja.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain mengelola sampah dengan baik, membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus, menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan gudang atau area kotor, serta membiasakan mencuci tangan.
Ia juga mengingatkan agar membersihkan area kotor dilakukan dengan metode basah menggunakan cairan pembersih, bukan dibersihkan secara kering agar partikel yang berpotensi membawa virus tidak beterbangan di udara.
“Kalau lingkungan bersih, insyaAllah tikus juga tidak suka datang. Karena tikus mencari sumber makanan dari sampah,” ujarnya.
Menurutnya, upaya menjaga kebersihan lingkungan juga sejalan dengan konsep *One Health*, yakni pendekatan yang menempatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.
Karena itu, ia mengajak warga LDII terus menjadi pelopor budaya hidup bersih dan sehat demi menjaga kesehatan bersama dan kelestarian lingkungan.













