Sleman (1/5). Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar pelatihan Training of Trainer bagi pembina gugus depan, Sabtu (25/4/2026). Kegiatan berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Mahasiswa Grha Cendekia, Sleman, DIY.
Kegiatan tersebut diikuti perwakilan pengurus dari empat kabupaten dan satu kota di DIY, serta Dewan Muda Daerah. Ketua Sako SPN DIY Sarjita menyampaikan kegiatan ini diarahkan untuk revitalisasi gugus depan naungan LDII. Ia menilai penguatan organisasi perlu dimulai dari kelengkapan administrasi dan kesiapan pembina di lapangan.
“Kami mendorong setiap gugus depan melaksanakan musyawarah dan melengkapi perangkat administrasi sebagai dasar pembinaan yang tertib,” ujarnya.
Sarjita menambahkan saat ini terdapat puluhan gugus depan di DIY yang perlu ditata secara sistematis, agar program berjalan optimal. Ia menyebut pelatihan ini juga menjadi sarana koordinasi antarwilayah dalam menyamakan standar pembinaan, “Kami ingin seluruh gugus depan memiliki pola kerja yang seragam dan terarah,” kata dia.
Dalam sesi materi, peserta juga mendapatkan pembekalan terkait “Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Program tersebut diperkenalkan sebagai upaya membekali pembina dalam menghadapi tantangan penggunaan media sosial di kalangan anak dan remaja.
Andalan Sako SPN DIY bidang Penggalang, Sumiyati menyoroti pentingnya peran pembina dalam mengarahkan perilaku generasi muda di era digital. Ia menyebut akses media sosial yang semakin luas memerlukan pendampingan yang intensif.
“Pembina perlu memiliki pendekatan yang tepat agar anak-anak tidak terpengaruh konten negatif dan tetap berada dalam lingkungan pergaulan yang sehat,” ujarnya.
Ia juga menekankan edukasi ini berkaitan dengan upaya pencegahan berbagai risiko sosial di kalangan remaja. “Pembinaan yang dilakukan sejak dini dapat menjadi langkah antisipatif terhadap berbagai persoalan seperti penyalahgunaan media sosial, pergaulan bebas, hingga perilaku menyimpang lainnya yang berpotensi merugikan masa depan generasi muda,” tuturnya.
Ia menambahkan, peran pembina tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pendamping yang mampu memahami dinamika perkembangan remaja di era digital. “Pendekatan yang dilakukan harus adaptif dan komunikatif, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh anak-anak,” tambahnya.
Materi pelatihan turut diperkuat dengan pendekatan metode kepramukaan yang disampaikan pembina tersertifikasi Faqih Arif Saputro. Ia menjelaskan sejumlah metode seperti *learning by doing*, kerja kelompok, hingga kegiatan berbasis tantangan dan alam terbuka dapat diterapkan dalam pembinaan karakter.
“Pendekatan pengalaman langsung menjadi metode efektif karena peserta belajar dari praktik dan situasi yang mereka hadapi sendiri,” kata dia.









