Oleh Habib Ubaidillah Alhasaniy
Sebagai seorang mukmin, sikap syukur bukanlah pilihan, melainkan kewajiban yang harus ditunaikan. Namun, hakikat syukur tidak selalu dimulai dari nikmat besar yang tampak nyata, melainkan justru dari nikmat-nikmat kecil yang sering kali luput dari perhatian. Nikmat yang dianggap sepele inilah yang sejatinya menjadi pintu untuk memahami dan mensyukuri karunia Allah SWT yang jauh lebih besar.
Rasulullah SAW mengingatkan:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ
“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang kecil, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang besar.”
Hadis ini menegaskan bahwa ketidakmampuan mensyukuri nikmat kecil akan berimplikasi pada hilangnya kepekaan hati dalam menyadari nikmat besar. Oleh karena itu, setiap karunia yang dirasakan—sekecil apa pun—harus disadari, dinikmati, dan disyukuri dengan sepenuh hati.
Di antara sekian banyak nikmat yang Allah SWT anugerahkan, terdapat satu nikmat yang nilainya tidak dapat dibandingkan dengan apa pun, yaitu nikmat iman. Nikmat ini menjadi fondasi kehidupan seorang hamba, karena dengannya manusia memahami hakikat penciptaannya di muka bumi: untuk beribadah kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)
Kesadaran sebagai hamba yang diciptakan untuk beribadah merupakan nikmat besar yang tidak semua manusia miliki. Banyak manusia hidup tanpa memahami tujuan hidupnya, sementara seorang mukmin diberi petunjuk untuk mengenal Allah dan mengabdi kepada-Nya.
Namun demikian, tidak setiap ibadah otomatis diterima oleh Allah SWT. Ibadah memiliki aturan dan ketentuan yang tidak boleh dilanggar atau ditafsirkan sesuka hati. Kunci diterimanya ibadah adalah kesesuaiannya dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Untuk memahami aturan-aturan tersebut, umat Islam wajib kembali kepada sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an, hadis, dan sunnah Rasulullah SAW. Allah SWT menegaskan:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)
Dalam aspek akidah, ibadah, dan muamalah, pedoman utama umat Islam hanyalah Al-Qur’an dan sunnah. Pemikiran, konsep, atau ajaran lain yang tidak bersandar pada keduanya, meskipun dikemas dengan bahasa indah dan menarik, berpotensi menjauhkan umat dari jalan yang benar.
Kesalahan dalam urusan dunia masih dapat diperbaiki selama hayat dikandung badan. Namun kesalahan dalam urusan ibadah akan berakibat fatal di akhirat. Ketika seseorang telah terbaring di alam kubur, penyesalan tidak lagi membawa manfaat. Air mata akan mengalir tanpa henti, tetapi tidak ada kesempatan untuk mengulang waktu.
Oleh karena itu, kehati-hatian dalam memilih jalan ibadah menjadi keharusan. Ibadah yang benar akan mengantarkan seorang hamba kepada ridha Allah SWT dan keselamatan di surga-Nya, sementara ibadah yang menyimpang hanya berujung pada kesia-siaan.
Mensyukuri nikmat kecil adalah latihan hati untuk mengenali nikmat besar. Nikmat iman harus dijaga dengan menjalankan ibadah sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, seluruh pengorbanan yang dilakukan di dunia tidak akan sia-sia, melainkan menjadi bekal berharga untuk bertemu Allah SWT dalam keadaan selamat dan diridhai. (Nisa)
Tayang juga di youtube LDII TV:










